
Tebuireng.online- Kementerian Agama Republik Indonesia (Kemenag) menggelar acara peluncuran Ithlaq Hari Santri di aula lantai tiga Gedung Yusuf Hasyim, Pondok Pesantren Tebuireng, pada Senin (22/9/2025). Kegiatan yang berlangsung dari pukul 13.30 hingga 16.30 WIB ini dihadiri sejumlah tokoh penting, termasuk Pengasuh Pesantren Tebuireng KH. Abdul Hakim Mahfudz, Menteri Haji dan Umrah KH. Irfan Yusuf, Menteri Agama Prof. Nasaruddin Umar, serta perwakilan Pengurus Besar NU dan Muhammadiyah.
Mewakili Ketua Umum PBNU, Dr. (Hc) KH. Zulfa Mustafa menyampaikan apresiasi atas pemilihan Tebuireng sebagai lokasi acara. Menurutnya, tempat ini sangat strategis karena merupakan lokasi lahirnya fatwa resolusi jihad oleh Hadratussyaikh KH. Hasyim Asy’ari.
“Ini artinya Menteri Agama mengamalkan Jas Merah dan Jas Hijau,” ujar KH. Zulfa, menegaskan bahwa negara tidak melupakan sejarah dan jasa para ulama yang turut andil dalam kemerdekaan Indonesia.
KH. Zulfa menegaskan bahwa Hari Santri bukan hanya milik Nahdlatul Ulama (NU), melainkan milik seluruh santri dari berbagai organisasi, termasuk Muhammadiyah. “Resolusi jihad itu bukti cinta santri dan ulama,” tuturnya.
“Pada kesempatan ini kami ingin menyampaikan bahwa resolusi jihad itu bukti cinta santri dan ulama. Muhammadiyah meski pesantrennya berjumlah 446, meski begitu itu punya Muhammadiyah bukan punya kiai personal. Masing-masing adalah santri yang harus diapresiasi, hari santri bukan hanya milik NU saja tapi seluruh santri, apapun ormasnya. KH Hasyim lewat resolusi jihad ingin membuktikan rasa cinta kepada negara dan bangsa maka keluarlah resolusi jihad menjadi bukti cinta santri dan kiai pada negeri. KH Hasyim mengajarkan kepada kita hakekat cinta,” katanya.
Ia menyebutkan, KH. Hasyim Asy’ari telah mengajarkan hakikat cinta kepada negara melalui tiga hal. Pertama harus memberikan sesuatu kepada orang yang dicintai. Misalnya, NU dengan resolusi jihad. Berjuang mempertahankan negara Indonesia ini anugerah terbesar NU kepada negara. Kedua harus terus menyebut sesuatu yang anda cinta sebab hubby ma’nahu tawajuhul qolbu ala mahbub. Ketiga, wa hiffun mu’abbadun menjaga yang selalu dicintai.
“Saya membaca komentar satu kyai yang saya cintai. Kata beliau dahulu santri dimarginalkan, kurang diperhatikan oleh negara tapi karena marwah organisasi mulia sekarang santri diberi kemuliaan, kesempatan negara bukti negara memuliakan santri,” jelas Waketum PBNU ini.
Beliau juga mengingatkan bahwa relasi antara santri, ulama, dan negara seharusnya bersifat resiprokal, di mana cinta tidak pernah memanfaatkan atau merasa dimanfaatkan.
Sebagai penutup, KH. Zulfa berharap hubungan antara negara dan ulama/santri dapat terus harmonis. “Semoga bangsa ini melakukan hal yang sama. Negara mencintai pada ulama dan santri di Indonesia,” pungkasnya.
Baca Juga: Menag Nasaruddin Ajak Pesantren Jadi Kiblat Peradaban Islam Modern
Pewarta: Aulia
Editor: Muh. Sutan


















