
Tebuireng Online– Pesantren Tebuireng melalui tim media, Tebuireng Media Group, bekerja sama dengan Jejaring Duniasantri dan Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP), menggelar acara Bedah Buku karya Kiai Ngatawi Al-Zastrow berjudul Menggali Api Pancasila. Acara tersebut berlangsung pada Sabtu 23 Agustus 2025, di Aula Lantai 3 Gedung Yusuf Hasyim, Tebuireng.
Dalam pemaparannya, Ngatawi Al-Zastrow mengungkapkan bahwa sosok Presiden Sukarno menjadi salah satu alasan kuat yang mendorongnya menulis buku ini.
Baca Juga: Milad ke-6, Jejaring Dunia Santri Gelar Panggung Seni dan Budaya Santri
“Pernyataan Bung Karno yang menyebut bahwa Pancasila digali dari akar budaya bangsa Nusantara, bahkan jauh sebelum era Buddha, menjadi pijakan saya untuk menelusuri nilai-nilai tersebut,” jelasnya.
Ia menuturkan, bersama BPIP dirinya berkesempatan mengunjungi berbagai wilayah di Indonesia. Dari perjalanan itu, ia menggali pemahaman Pancasila melalui para kiai, santri, tokoh adat, pemuka agama, serta masyarakat dari berbagai latar budaya.
“Dari pertemuan itu saya menyimpulkan, Pancasila ibarat danau besar yang mengumpulkan mata air dari sumber-sumber kecil, yakni pesantren, kiai, dan ulama. Mereka adalah mata air yang melahirkan nilai-nilai Pancasila,” ujarnya.

Kang Zastrow, juga menegaskan pentingnya menggali kembali nilai-nilai Pancasila agar bangsa ini tidak kehilangan sumber jati dirinya.
“Sekarang kita melihat sebagian mata air itu tersumbat oleh ‘sampah peradaban’, baik yang datang dari Barat dengan liberalismenya maupun dari Timur dengan fundamentalisme dan paham Wahhabi. Saya berusaha menggali kembali mata air itu dengan menghidupkan api Pancasila,” paparnya.
Baca Juga: Gus Kikin: Mari Kita Teruskan Warisan yang Telah Ditinggalkan Pendahulu Kita
Lebih lanjut, ia menjelaskan bahwa penyusunan buku ini juga didukung dengan bukti-bukti sejarah. Salah satunya adalah konsep gotong royong yang menurut Bung Karno menjadi inti Pancasila.
“Gotong royong sudah dikenal di Nusantara sejak abad ke-8, terbukti dari prasasti Talang Tuo. Begitu pula dalam Prasasti Kahulunan di Candi Plaosan, yang merekam semangat gotong royong dalam menyatukan Wangsa Syailendra dan Wangsa Sanjaya yang dulunya berseteru, kemudian berdamai. Prasasti Kahyangan pun menjamin adanya budaya dan nilai gotong royong tersebut,” terang Pembina Jejaring Duniasantri itu.
Pewarta: Dimas Setyawan Saputro
Editor: Rara Zarary


















