Ustadz Slamet Habib, salah satu ustadz Tebuireng yang kini menjadi Wakil Ketua Pondok Putra Pesantren Tebuireng Jombang.

Tebuireng.online–  Malam terus larut, para santri Pesantren Tebuireng sebagian besar pun sudah terlelap dalam mimpi indahnya. Namun hal itu tak berlaku pada sebagian santri yang suka zikir malam dan riyadah. Mereka biasanya duduk bersila berjam-jam di depan makam KH. M. Hasyim Asy’ari sambil membaca Al Quran dan kalimat tayyibah.

Salah satu santri tersebut yaitu Slamet Habib. Ia biasanya disapa Ustaz Habib oleh santri Tebuireng. Kini, ia menjadi Wakil Ketua Pondok Putra Tebuireng.

Ustaz Habib punya pengamalan unik dan tidak terlupakan. Kejadian tersebut terjadi sekitar tahun 1990-an. Ustaz Habib punya rutinan setiap malam Jumat ziarah ke makam Hadratussyaikh KH. M. Hasyim Asy’ari dan keluarga. Saat itu ia sedang asyik membaca Al Quran. Jam dinding berbunyi berkali hingga 12 kali, menandakan hari sudah larut malam.

Tiba-tiba dari kejauhan Ustaz Habib dipanggil oleh seorang kiai muda. Karena gelapnya malam, wajah yang memanggil tak terlihat begitu jelas. Namun Habib yakin yang memanggilnya adalah tokoh besar. Benar saja, setelah Habib berjarak satu meter dengan pria tersebut ia baru sadar ternyata yang memanggilnya adalah Cucu KH. M. Hasyim Asy’ari yaitu KH. Abdurrahman Wahid alias Gus Dur.

Gus Dur saat itu datang beserta rombongannya dari perjalanan jauh dan niat mampir ke makam untuk ziarah ke kakek dan ayahnya. Hal ini ternyata sering dilakukan oleh Gus Dur, yaitu menziarahi makam para ulama terutama kakek-kakeknya. Bahkan sebelum wafat, Gus Dur terlebih dahulu melakukan ritual ziarah makam leluhurnya di Jombang.

Majalah TebuirengIklan Tebuireng Online

“Saat itu Gus Dur menasihati saya, kalau ziarah makam KH. M. Hasyim Asy’ari itu baca Surat Al-Kahfi,” jelas Ustaz Habib, Sabtu (6/7).

Ustaz Habib mengatakan, saat itu ia tidak sempat menanyakan kenapa harus membaca Al-Kahfi saat di makam KH. Hasyim. Karena berdiri di hadapan Gus Dur ia merasa malu untuk berbicara banyak. Ia pun langsung mengamal kan pesan Gus Dur tersebut. Bahkan hingga kini, pesan dari mantan Presiden RI ke-4 itu masih terus diamalkannya.

Pasca pertemuannya dengan Gus Dur di malam itu, Ustaz Habib mengalami beberapa hal unik terkait Surat Al-Kahfi. Salah satunya yaitu saat ia berangkat umrah gratis. Saat itu, Pesantren Tebuireng dapat jatah umrah dari donatur. Pengurus pondok bingung siapa yang berhak mendapatkan jatah tersebut. Karena terbatasnya kuota dan banyaknya jumlah pengurus pesantren.

Selanjutnya, Pengasuh Pesantren Tebuireng KH. Salahuddin Wahid mengusul kan dilakukan undian dengan cara menulis semua nama pengurus nanti nama tersebut di kocok. Lalu nama siapa yang keluar maka ia berhak mendapat hadiah umrah.

“Saat itu saya ingin sekali umrah, saya berpikir keras bagaimana caranya agar bisa umrah,” ungkap Habib.

Habib terus memikirkan tentang umrah, di tengah melamun ia teringat pesan Gus Dur tentang Surat Al-Kahfi. Tanpa berpikir panjang, di tengah malam ia berangkat ke malam KH. M. Hasyim Asy’ari dan membaca Al-Kahfi hingga menjelang salat subuh tiba. Selain itu, ia juga membaca zikir-zikir lainnya serta berdoa di pinggir makam keluarga Tebuireng.

Setelah usai baca Al-Kahfi, Habib pindah ke Masjid Tebuireng dan melakukan ritual salat tahajud dan doa agar diizinkan Allah berangkat umrah. Ia sengaja salat di Masjid Tebuireng karena teringat pesan gurunya saat Aliyah yang mengatakan salah satu tempat penuh barakah di Tebuireng adalah masjid. Khususnya masjid bagian tengah, atau masjid yang asli bangunannya sejak pertama.

 

“Setelah salat subuh diadakan pertemuan pengurus pondok untuk undian masalah umrah. Saya datang telat, dan alhamdulilah nama saya keluar saat undi. Ini barakahnya pesan Gus Dur dan Masjid Tebuireng,” bebernya.

Mengetahui namanya keluar sebagai pihak yang berhak ikut umrah. Habib tak henti-henti mengucapkan syukur kepada Allah SWT. Ia juga berkali-kali memotivasi para santri lewat ceritanya ini. “Kunci santri Tebuireng bisa hidup bahagia itu pertama ikut aturan pondok, rajin berdoa di masjid, dan ziarah makam keluarga Pesantren Tebuireng,” tandasnya.

Pewarta: Syarif Rahman

Publisher: RZ