Sumber: fiqih17.com

Oleh: Nazhatus Zamani*

As-Subki lahir di tahun 683 Hijriyah (1284 M) di Al-Manufiyyah. Nama lengkapnya adalah A’li Bin A’bdul Kafi Bin A’di Bin Tamam as-Subki Al-Ansari Al-Khazraji Abul Hasan Taqiyuddin. Ayahnya, seorang hakim bernama Zainuddin.

Syaikhul Islam atau imam besar yang disebut-sebut sebagai pucuk pimpinan Mazhab Syafi’i di Mesir, ulama ahli bidang hadis, tafsir, ushul fiqh, nahwu, shorof, dan sastra dari madzhab Syafi’i, sekaligus hakim agung. Karya yang telah dicurahkan mencapai 150 kitab dari berbagai disiplin ilmu.

Setelah mengenyam pendidikan dasar agama pada ayahnya, ia kemudian pindah ke Kairo. Imam as-Subky belajar pada banyak masyayikh, baik di Mesir maupun di Damaskus. Diantaranya adalah ayahnya sendiri, Imam al-Dzahaby, dan Syamsuddin bin Naqib. Pada usia belia, ia mendapatkan ijazah dari gurunya Syamsuddin untuk mengajar dan berfatwa.

Setelah mengenyam pendidikan dasar agama pada ayahnya ia kemudian pindah ke Kairo. Seorang pejabat dari pemerintahan Nashiriyah kemudian mengangkatnya untuk menjadi hakim qadhi di Damaskus. Ia juga menjadi khatib pada masjid agung Umayyah dan pengajar di beberapa perguruan tinggi disana.

Majalah TebuirengIklan Tebuireng Online

Kemahirannya dalam berbagai bidang ilmu terbukti dengan banyak karangan yang telah ia tuliskan, diantaranya adalah

  1. Takmilah Syarah Muhazzab.
  2. Syarh kitab Minhaj karangan Imam An-Nawawi, bernama Al Ibtihaj.
  3. Tafsir adDurun Nazhim fi Tafsiril Qur’anil’Azhiim.
  4. Kitab Penolak paham Ibnu Taimiyahdalam soal thalaq dan ziarah.
  5. AtTahribiril Muhazzab fi Tahriril Mazhab, syarh Minhaj.
  6. Raful Hajib’an Mukhtashar Ibnul Hajib.
  7. Nurul Mashabih fi Shalatit Tarawih.
  8. AlRaqamul Ibrizi fi Syarahi Mukhtashar Tibrizi (Syarh Mukhtashar Tibrizi).
  9. Syarh Mashabihussunnah, karangan al Bagawi, (hadis).

Ia menjabat sebagai hakim ketua selama tujuh belas tahun, hingga pada akhirnya ketika ia jatuh sakit dan jabatannya digantikan oleh putranya Tajuddin as-Subki. Imam As-Subki selalu mengecek perkembangan keilmuan Tajudin. Simak penuturan Tajuddin As- Subki (771H):

”Aku jika datang dari seoarang syaikh, maka ayahku (Taqiyuddin As-Subki) berkata kepadaku,”tunjukkan apa yang telah kamu peroleh, yang kamu baca dan yang kamu dengar”. Maka, aku menerangkan tentang hal-hal yang telah kuperoleh dalam majelis. Jika aku pulang dari Ad Dzahabi, ia berkata,”tunjukkan yang telah engkau dapat dari syaikhmu”. Jika aku pulang dari Syaikh Najmuddin Al Qahfazi, ia mengatakan,”yang kau dapat dari masjid Thingkiz”. Jika aku pulang dari Syaikh Syamsuddin Ibnu Naqib, maka ia mengatakan,”yang kamu dapati dari Syamiyah”. Jika aku pulang dari Syaikh Abu Abbas Al Andarsy, ia mengatakan, ”yang kau dapati dari masjid”. Jika aku pulang dari Hafidz Al Mizzi, ia mengatakan,”yang kamu peroleh dari As Syaikh”. Ia melafadzkan kata As Syaikh dengan fashih, dan meninggikan suaranya. Aku mengerti, bahwa itu bertujuan agar aku juga ikut merasakan kebesaran nama Al Mizzi, hingga aku lebih banyak mendatangi majelisnya”. (lihat, Thabaqat As Syafi’iyah, As Subki, 10/399).

Syaikh Taqiyuddin As-Subki wafat pada tahun 756 H di Kairo, Mesir. Penguburan jenazahnya diiringi ribuan umat Islam. Ada yang mengatakan bahwa tidak ada yang bisa menandingi jumlah petakziyah Imam Ahmad bin Hanbal, kecuali jumlah petakziyah as-Subki.


*Mahasiswi Universitas Hasyim Asy’ari

Disarikan dari berbagai sumber.