Sejumlah santri baru PP Putri Walisongo Cukir Diwek Jombang menyanyikan yel-yel di depan sebagai bagian dari kegiatan Masa Ta’aruf Santri Baru (Mastaba) pada Kamis-Jumat (20-21/07/2017)

Tebuireng.online— Kegiatan pengenalan lingkungan Pondok Pesantren Putri Walisongo Cukir Jombang yang biasa disebut Mastaba (Masa Ta’aruf Santri Baru) kembali dihelat pada Kamis-Jumat (20-21/07/17) di Gedung Madrasah Tsanawiyah Perguruan Muallimat Cukir. Kegiatan ini diikuti oleh sekitar 300 santri baru dari jenjang pendidikan Madrasah Tsanawiyah dan Madrasah Aliyah.

Kegiatan pengenalan pesantren tersebut berlangsung selama dua hari yang diisi dengan  berbagai acara, di antaranya, sosialisasi wudlu dan shalat oleh Ustadah Siti Nur Ratih, S.Pdi dan penampilan yel-yel kelompok.

“Tujuan diadakannya Mastaba, yakni mengenalkan pondok lebih dekat, agar nanti tahu kegiatan dan bagaimana berperilaku yang baik,” ungkap Pengasuh Pesantren Walisongo, Drs. KH. Amir Jamiluddin di hari pertama Mastaba, yang juga merupakan Dosen Univesitas Hasyim Asy’ari (Unhasy) Tebuireng itu.

“Orang jika memiliki ilmu derajatnya akan naik,” imbuh beliau yang akrab dengan panggilan Gus Jamil ini. Dalam hal itu, Gus Jamil mencontohkan sebotol air mineral, oleh orang yang berilmu dikemas dalam sebuah botol dan memiliki hak cipta. Menurutnya, hal tersebut akan menghasilkan harga jual yang tinggi.

Senada dengan hal di atas, lanjut beliau, contoh lain, ada seorang tukang kaca biasa memberikan harga standar Rp.50.000 – Rp.100.000, berbeda dengan tukang kaca yang berilmu, mereka akan membuat benda dari kaca yang lebih variatif seperti kacamata, kaca spion, dan benda lainnya. Benda berbahan dasar kaca ini akan menghasilkan harga jual yang lebih tinggi.

Majalah TebuirengIklan Tebuireng Online

Sementara itu, di hari kedua Mastaba, acara lebih dominan kepada pemberian materi. Materi yang pertama disampaikan oleh Bapak Machsun Shohib, M.Pd.I. Beliau menyampaikan kisah KH. Adlan Aly semasa hidup. “Mbah Yai itu orangnya alim dan amil, beliau nggak hanya alim atau tahu tetapi juga mengamalkan ilmunya,” ungkapnya di hadapan seluruh santri baru.

Selanjutnya, materi kedua disampaikan oleh Ibu Chofsotul Maryam, M.Pd.I. Dalam pemaparan materi, beliau menyampaikan tentang tujuan nyantri dan membenahi niat dalam menuntut ilmu. Menurut beliau, ada lima niat yang harus dibenahi dalam menuntut ilmu, yakni niat menuntut ilmu karena Allah, berdoa Robbi Zidni ‘Ilma, niat berbakti kepada orang tua, menjaga amanah orang tua, dan niat untuk menjadi insan yang salehah.

Suasana haru sempat tercipta saat santri baru menyanyikan lagu tentang menuntut ilmu. Tidak sedikit santri yang terisak saat menyampaikan rindu mereka kepada Ayah dan Ibu di rumah. “Rasanya sedih karena belum betah dan masih merasa asing. Tetapi InsyaAllah nanti pasti kerasan,” respon Salma Alfiyatul Husna, santri baru asal Kediri saat diwawancarai oleh tebuireng.online.

Terselenggaranya kegiatan Mastaba yang mengusung tema “Mewujudkan Generasi Muda Penerus Bangsa Berbasis Al Quran dan Hadis” tersebut bertujuan mencetak para santri menjadi muslimah yang berkarakter mulia. Acara Mastaba ini kemudian ditutup dengan ziarah ke makam para Masyayikh di Pesantren Tebuireng dan Pesantren Madrasatul Qur’an.


Pewarta:  Azminatul Alfay Rohmah

Editor:     Rara Zarary

Publisher: M. Abror Rosyidin

SebelumnyaKhatmil Quran Awali Acara Tahlil Akbar, Temu Alumni XII, dan Munas V IKAPETE
BerikutnyaIndonesia Tanpa Tebuireng? Boleh Jadi Tak Ada NKRI