
Hari Kemenangan
(Menang melawan siapa?)
Ramadan akan berakhir
hari kemenangan segera tiba
tetap sibuk dengan kekhawatiran dan hawa nafsu
tidak ada yang menyusut meski hampir 4 pekan berusaha menahan
malah sibuk meniti jalan, menciptakan kenangan
menyiapkan makan, membersihkan setiap sudut rumah dan halaman
katanya bersiap menuju kemenangan
menang melawan siapa?
hari kemenangan segera tiba
tapi kenapa tidak merasa menang dari siapapun dan apapun
terus dikalahkan oleh nafsu dan keinginan-keinginan
hari kemenangan segera tiba
masih lemah terkapar oleh nafsu
kemarin ibadah ku hanya transaksi belaka
semakin banyak ku lakaukan semakain banyak ku dapatkan
permohonan ampunku hanya komat kamit dzikir semata
semakin banyak bilangannya semakin merasa bangga
dipenghujung Ramadan ini ternyata
semua orang sudah bersiap menyambut kemenangan menuju fitrah
fitrah manusia yang lemah
tidak ada daya dan upaya kecuali dengan kekuatan dari-Nya
di penghujung Ramadan ini ternyata
kemenanganku karena allah ijinkan bukan karena aku yang hebat melawan
Tunduk dalam Kemenangan
Langit mendung menaungi senja
terbawa angin dalam lirihnya
suara takbir lirih-lirih mulai terdengar dari kejauhan
suara kegembiraan yang dinanti banyak insan
tapi juga suara menyesakkan untuk sebagian orang
di sudut sepi, ada rindu yang tak pulang
ada doa-doa yang melayang tanpa genggaman
hari kemenangan, tapi hati siapa yang benar-benar menang?
aku masih terus sibuk dengan kekhawatiranku
siapkah aku menjalaninya tanpamu?
langit bertabur cahaya, tapi hatiku redup tak bermuara
di antara gema takbir, namamu masih kusebut
langkahku tertahan di antara kenangan
takbir menggema, tapi hatiku tetap hampa
aku berdiri di antara malam yang bersujud
namun namamu masih menggenang di sela doa yang lirih
aku mencoba meyakinkan diri, bahwa perpisahan ini adalah takdir ilahi
aku pun sedang melangkah menuju ketetapan-Nya
kita hanya sedang menunggu waktu yang menyapa
kini kumengerti, takdir-nya tak pernah keliru
setiap luka hanyalah langkah yang harus kutempuh
diterima atau tidak, takdir-nya tetap berjalan
maka kupeluk semua dengan hati yang lapang
sebab dia-lah yang paling tahu, apa yang terbaik untukku
bahkan yang aku sendiri tidak tahu
dan kini, kusambut kemenangan dengan hati yang tunduk
bersama fitrahku yang lemah
kupasrahkan semua pada-Nya
sebab tiada daya dan upaya
kecuali dengan kekuatan dari-Nya.
Penulis: Alfia Zaqiya, Mahasiswa KPI Unhasy