
Percakapan Tak Bersambut
Di waku luang, aku mengajaknya ke Pantai
ia sedikit muram dengan segala yang mengatup
tangan ingatan hendak menjala mutiara di jantungnya,
tapi tak cukup sanggup menyelam ke dasar
suaraku menjadi ombak; gemuruh pasang
menggulung hingga tepi pesisir sambutannya
entah ombak mana yang membuat
langkahnya diam mengelak
dan aku seperti karang terdampar
tanpa sempat ia bawa pulang
Padang, 2024
Senyampang
Menyaksikan gulungan ombak
di bawah atap langit krayon oren
deru kidungnya gontai memutar
hikayat ke tepi menyambut kaki cinta
semuanya terlihat fana pada ujung mata
waktu seakan menabung tanya
mengasuh metafora menatang hiperbola
kata-kata lahir prematur tatkala ragu membayi
dan sepi tumbuh seperti anak kecil tanpa kasih
remang-remang turun perlahan mengantar malam
membawa pulang puisi ke gelanggang
selubung kenangan tergerai dengan ajek
mengundang rindu yang basil
Padang, 2024
Jauh di Mata
Jika hadiah bukan barang dari berlian dan emas.
aku pungut segala macam warna kenangan
menjadi suatu kalung berliontin kejujuran.
terlilit di lehermu nanti, niscaya cantik kau merekah,
membias biang adiwarna.
terimalah segenap hadiah itu bersama pelukanku
di surat jarak yang bertanda tangan rindu.
sambutlah sebaik- baiknya, di tilas genggammu,
seperti dulu, yang pernah mengasuh belai di pipiku.
sapu ragu kita, lipat sengketa menyelinap di dada.
lantangkan doa cinta, semoga fasihnya sampai, kekasih.
Padang, 2024
Sedih yang Diam
Di kerangkeng sungkan, mendungmu
tertahan urai tanpa bahasa.
menunggu gerimis jatuh
di tubuh pikiranku adalah interpretasi
yang berkelana, sepanjang gelap,
bukan teluk dengan desir ombak
tapi fajar terbelangah biru haru.
lantas, apa gerangan yang membawa awanmu?
tidakkah malamku cukup sunyi
untuk rintih rintikmu yang demikian riuh?
Padang, 2024
Penulis: Zikri Amanda Hidayat, lahir di Pesisir Selatan.