Ilustrasi pemudik menggunakan kendaraan bermotor. (sumber: disway)

“Punya tidak punya biaya, kita harus tetap pulang ke rumah ibuk. Bagaimana kata saudara, kalau kita lebaran tidak mudik?” suara Ahmad Dahlan, ayah dua anak itu terdengar jelas di kuping Diana. Ayah dan ibunya yang sedang berdebat di dalam kamar dengan ruangan tak kedap suara itu membuat Diana dan Andi, adik lelakinya mendengar percakapan orang tuanya, sebelum mereka berangkat mudik.

Tepat hari Rabu, pagi itu, langit belum sepenuhnya cerah. Udara terasa sejuk, meskipun matahari sudah mulai memancarkan sinarnya yang lembut. Diana, anak perempuan pertama dari keluarga kecil itu, berdiri di halaman rumah dengan tatapan penuh harapan. Tahun ini, mereka akan kembali mudik ke desa. Desa yang terletak jauh di pelosok, sekitar 330 kilometer dari rumah mereka. Sebuah perjalanan panjang yang selalu penuh cerita, terutama bagi Diana yang mulai belajar banyak tentang hidup.

Bersama orang tua, adik, dan dua sepeda motor yang mereka bawa, Diana merasa ada banyak pelajaran yang menunggu di sepanjang perjalanan. Meskipun jarak yang jauh dan perjalanan yang melelahkan, bagi Diana, mudik ke rumah nenek dan kakek adalah momen yang selalu ditunggu-tunggu.

Diana terlihat mengangkat tas kecilnya, yang berisi pakaian dan beberapa makanan ringan. Ibunya sudah menyiapkan bekal di dalam keranjang besar yang digantung di motornya. Sementara itu, ayahnya sudah mempersiapkan motor dengan penuh perhatian, mengecek mesin, ban, dan bahan bakar. Adik-adiknya sudah duduk di belakang, wajah mereka penuh semangat, tidak sabar untuk berangkat.

“Ayo, nak, kita berangkat!” kata ayahnya sambil memanggil Diana yang masih berdiri terpaku di halaman.

Majalah TebuirengIklan Tebuireng Online

Diana tersenyum dan mengangguk. Dia tahu, perjalanan ini tidak hanya tentang sampai di tujuan, tapi tentang apa yang mereka pelajari di sepanjang jalan. Selama ini, setiap mudik selalu membawa perasaan campur aduk—antara rasa rindu, kebersamaan, dan juga kadang-kadang kesal. Namun, semua itu mengajarkan Diana banyak hal.

****

Perjalanan dimulai dengan lancar, meskipun tidak jarang mereka harus berhenti untuk istirahat. Di perjalanan panjang itu, banyak hal yang harus mereka hadapi. Jalanan yang kadang rusak, cuaca yang tidak menentu, dan kendaraan lain yang tak sabar untuk melaju. Diana merasakan tiap detik berjalan begitu panjang. Di depan, ayah memimpin dengan motor besar yang cukup bertenaga, sementara ibu mengendarai motor matic dengan penuh kehati-hatian.

Namun, meskipun mereka harus menghabiskan waktu berjam-jam di atas motor, Diana tidak merasa terlalu lelah. Justru, ia merasa ada kedekatan yang tercipta antara dia, orang tua, dan adik-adiknya. Setiap kali berhenti, mereka berbicara tentang apa saja. Mulai dari cerita lucu masa kecil, hingga obrolan ringan tentang kehidupan sehari-hari. Diana, sebagai anak pertama, selalu merasa jadi pendengar utama, sekaligus penyambung cerita antara adik-adiknya dan orang tua mereka.

Di tengah perjalanan, hujan datang tiba-tiba. Hujan rintik yang menjadi lebat dalam waktu singkat. Tak ada pilihan selain mencari tempat berteduh. Mereka berhenti di sebuah warung kecil di pinggir jalan, tempat yang biasa dipakai para pengendara untuk istirahat. Aroma kopi dan gorengan menguar dari dalam warung. Namun, tak lama setelah mereka berhenti, hujan semakin deras.

Diana merasa ada rasa kesal di hatinya. Bagaimana mungkin perjalanan yang sudah lama mereka tunggu-tunggu harus terganggu oleh hujan? Perasaan itu datang begitu saja, membuatnya berpikir bahwa perjalanan ini menjadi lebih berat. Namun, ketika melihat ibu yang masih tersenyum walaupun pakaian basah kuyup, dan ayah yang sabar memeriksa kondisi motor, Diana merasa sedikit lega. Perjalanan ini bukan hanya tentang sampai tujuan, tapi tentang bagaimana mereka menghadapi segala hal dengan sabar dan penuh kebersamaan.

“Diana, kamu kenapa?” tanya ibunya ketika melihat raut wajahnya yang sedikit cemberut.

“Ada hujan begini, perjalanan jadi lebih lama, Ma,” jawab Diana, agak kesal.

Ibu mengelus rambut Diana lembut. “Hujan itu rahmat, nak. Terkadang kita merasa terganggu, tapi justru saat seperti ini, kita bisa lebih dekat dan saling menjaga.”

Diana terdiam, merenungkan kata-kata ibunya. Hujan memang tidak bisa diprediksi, tapi dari situ dia belajar tentang keikhlasan. Keikhlasan menerima hal-hal yang di luar kendali kita. Seperti hidup yang tidak selalu sesuai rencana.

Perjalanan kembali dilanjutkan setelah hujan reda. Mereka menempuh jalanan yang lebih sepi dan menantang. Semakin jauh, keadaan mulai berubah. Desa-desa yang mereka lewati semakin jarang, hingga akhirnya hanya ada jalanan sepi yang terbentang. Sepanjang perjalanan, Diana mulai merasakan kelelahan. Punggungnya terasa pegal, dan wajahnya yang tertutup helm mulai terasa gerah. Namun, ia terus berusaha bertahan, tak ingin menunjukkan kelelahan di hadapan adik-adiknya.

Pada suatu titik, motor yang mereka naiki tiba-tiba mogok. Ayah pun berhenti dan mencoba memperbaiki mesinnya. Waktu terasa semakin lambat saat mereka terjebak di tengah jalan, jauh dari mana pun. Rasa kesal kembali datang, tapi kali ini lebih kuat. Diana merasa frustrasi. Seharusnya perjalanan ini menyenangkan, kenapa harus ada halangan seperti ini?

Namun, saat ayah dan ibu bekerja sama memperbaiki motor, Diana melihat betapa mereka berdua begitu sabar. Tak ada keluh kesah, meskipun mereka jelas lelah. Ayah yang memegang obeng, dan ibu yang dengan cekatan menyiapkan makan siang, membuat Diana terdiam. Ia menyadari bahwa kesabaran orang tuanya bukan hanya untuk menghadapi masalah teknis, tetapi juga untuk mengajarkan mereka tentang kehidupan.

Beberapa jam kemudian, motor itu kembali menyala. Mereka melanjutkan perjalanan dengan hati yang lebih tenang. Sesampainya di desa, mereka disambut dengan hangat oleh nenek dan kakek. Pemandangan rumah kayu yang sudah tua namun penuh kenangan, serta sambutan keluarga yang begitu hangat, membuat segala rasa lelah selama perjalanan seperti terbayar lunas.

****

Malam tiba, dan keluarga besar berkumpul. Diana duduk bersama neneknya yang sudah sangat tua, mendengarkan cerita-cerita masa lalu yang penuh makna. Nenek bercerita tentang bagaimana dulu dia dan kakek harus berjalan kaki berbulan-bulan untuk pergi ke kota. Bagaimana mereka berjuang menghadapi segala tantangan hidup tanpa banyak keluhan.

Diana merasa malu dengan dirinya sendiri. Perjalanan panjang itu, meskipun melelahkan, memberikan banyak pelajaran. Keikhlasan dalam menghadapi kesulitan, kebersamaan dalam setiap perjalanan, serta rasa syukur atas hal-hal kecil yang sering kali terlupakan. Mudik kali ini mengajarkan Diana banyak hal, yang tidak hanya didapatkan dalam perjalanan, tetapi juga dalam hati yang ikhlas menerima segala keadaan.

Di bawah langit yang penuh bintang, Diana menatap jauh ke depan. Perjalanan hidupnya masih panjang, namun ia tahu, setiap langkah yang diambil bersama keluarga akan membawa banyak pelajaran, yang akan selalu dikenang dalam hati.

Begitulah perjalanan mudik tahun ini. Seperti perjalanan hidup itu sendiri, penuh dengan lika-liku, kebersamaan, dan pelajaran yang mengubah cara kita melihat dunia. Diana belajar banyak hari itu—bahwa kadang, perjalanan yang panjang dan penuh tantangan adalah bagian dari perjalanan hidup yang harus dijalani dengan hati yang ikhlas.



Penulis: Albii