
Bagi kebanyakan umat Islam tentu saja tidak asing dengan Nabi Yusuf. Beliau merupakan salah satu dari 25 nabi dan rasul yang wajib diketahui oleh umat islam. Selain itu, Nabi Yusuf juga termasuk salah satu nabi yang kisahnya di abadikan dalam Al-Qur’an, yakni surat Yusuf.
Nabi Yusuf merupakan putra dari Nabi Ya’qub, cucu dari Nabi Ishaq. Nabi Yusuf mempunyai 11 saudara yang terdiri dari 10 saudara tiri dan 1 saudara kandung. Diantara semua saudaranya hanya Nabi Yusuf yang mendapatkan tugas kenabian dari Allah SWT.
اِذْ قَالَ يُوْسُفُ لِاَبِيْهِ يٰٓاَبَتِ اِنِّيْ رَاَيْتُ اَحَدَ عَشَرَ كَوْكَبًا وَّالشَّمْسَ وَالْقَمَرَ رَاَيْتُهُمْ لِيْ سٰجِدِيْنَ
Artinya: “(Ingatlah) ketika Yusuf berkata kepada ayahnya (Ya‘qub), “Wahai ayahku, sesungguhnya aku telah (bermimpi) melihat sebelas bintang, matahari, dan bulan. Aku melihat semuanya sujud kepadaku.” (QS. Yusuf; 4)
Setelah Nabi Yusuf menceritakan mimpinya, ayahnya berpesan kepdanya agar tidak menceritakan mimpinya kepada sauda-saudaranya. Sebab hal itu akan membuatnya celaka,
قَالَ يٰبُنَيَّ لَا تَقْصُصْ رُءْيَاكَ عَلٰٓى اِخْوَتِكَ فَيَكِيْدُوْا لَكَ كَيْدًا ۗاِنَّ الشَّيْطٰنَ لِلْاِنْسَانِ عَدُوٌّ مُّبِيْنٌ
Artinya: Dia (ayahnya) berkata, “Wahai anakku, janganlah engkau ceritakan mimpimu kepada saudara-saudaramu karena mereka akan membuat tipu daya yang sungguh-sungguh kepadamu. Sesungguhnya setan adalah musuh yang jelas bagi manusia.” (QS. Yusuf; 5)
Dalam riwayat Ibnu Katsir disebutkan, ketika Yusuf bercerita kepada ayahnya tentang mimpinya, ibu tirinya juga mendengar cerita tersebut. Nabi Ya’qub berpesan kepada istrinya agar tidak menceritakan mimpi Yusuf kepada anaknya yang lain.
Akan tetapi, ketika anak-anak pulang dari mengembala, ia menceritakan hal tersebut kepada mereka. Sehingga hal tersebut membuat mereka benci kepada Yusuf.
Selain karena mimpi tersebut, penyebab Yusuf di benci saudara-saudaranya adalah karena kecemburuan sosial. Saudaranya menilai bahwasanya Nabi Ya’qub dominan lebih mencintai Yusuf dan adiknya Bunyamin.
اِذْ قَالُوْا لَيُوْسُفُ وَاَخُوْهُ اَحَبُّ اِلٰٓى اَبِيْنَا مِنَّا وَنَحْنُ عُصْبَةٌ ۗاِنَّ اَبَانَا لَفِيْ ضَلٰلٍ مُّبِيْنٍۙ
Artinya: “(Ingatlah) ketika mereka berkata, “Sesungguhnya Yusuf dan saudara (kandung)-nya lebih dicintai Ayah daripada kita, padahal kita adalah kumpulan (yang banyak). Sesungguhnya ayah kita dalam kekeliruan yang nyata.” (QS. Yusuf; 8)
Setelah mendengar cerita tersebut, saudara-saudara Yusuf berkata, “Tidak ada maksud dari matahari selain ayah, bulan adalah ibu, dan bintang-bintang adalah kita. Sungguh, anak dari Rahel (Yusuf) ingin menguasai kita dan memimpin kita.” Kemudian saudara-saudarany berencana untuk menyingkirkan Yusuf.[1]
اقْتُلُوْا يُوْسُفَ اَوِ اطْرَحُوْهُ اَرْضًا يَّخْلُ لَكُمْ وَجْهُ اَبِيْكُمْ وَتَكُوْنُوْا مِنْۢ بَعْدِهٖ قَوْمًا صٰلِحِيْنَ
قَالَ قَاۤىِٕلٌ مِّنْهُمْ لَا تَقْتُلُوْا يُوْسُفَ وَاَلْقُوْهُ فِيْ غَيٰبَتِ الْجُبِّ يَلْتَقِطْهُ بَعْضُ السَّيَّارَةِ اِنْ كُنْتُمْ فٰعِلِيْنَ
Bunuhlah Yusuf atau buanglah dia ke suatu tempat agar perhatian Ayah tertumpah kepadamu dan setelah itu (bertobatlah sehingga) kamu akan menjadi kaum yang saleh. Salah seorang di antara mereka berkata, “Janganlah kamu membunuh Yusuf, tetapi masukkan saja dia ke dasar sumur agar dia dipungut oleh sebagian musafir jika kamu hendak berbuat.” (QS. Yususf; 9-10)
Mereka bermusyawarah untuk menyingkirkan Yusuf, ada yang mengusulkan untuk membunuhnya, atau membuangnya. Akhirnya mereka bersepakat untuk membuang Yusuf dengan memasukannya ke dalam sumur.
Untuk mengelabuhi ayahnya, mereka meminta kepada Nabi Ya’qub agar mengizinkan Yusuf pergi bersama mereka untuk mengembala dan bermain-main. Awalnya Nabi Ya’qub tidak mengizinkan karena takut terjadi hal yang buruk kepada Yusuf. Karena mereka meyakinkan Nabi Ya’qub untuk menjaga Yusuf, akhirnya Nabi Ya’qub memberikan izin.
Nabi Yusuf dibawa saudaranya untuk pergi dan bermain. Kemudian mereka membawanya ke sumur, melepas bajunya dan memasukkannya ke dalam sumur. Saudaranya pulang dan berpura-pura menangis dengan membawa baju Nabi Yusuf yang sudah dilumuri darah palsu. Mereka berkata kepada ayahnya bahwasannya Yusuf dimakan serigala dan hanya tersisa baju.
Akhirnya, Nabi Yusuf yang sudah kelelahan di dalam sumur ditemukan oleh musafir dan dikeluarkan dari sumur tersebut. Ia dijual oleh musafur tersebut, dan di beli oleh salah seorang mentri Mesir dan di angkat menjadi anak. Kesimpulannya, tidak ada manusia yang dicintai semua orang. Jangankan kita yang manusia biasa, Nabipun tidak ada yang membencinya. Jangan pernah berharap agar kamu dicintai semua orang. Kejarlah cinta Allah, maka manusia akan mencitaimu dengan sendirinya.
Penulis: Almara Sukma
[1] Ibnu Katsir, Al-Kamil fi Tarikh, (Beirut, Darul Kitab Al- Arabi:1977) juz 1, hal 124