
Hari Raya Idul Fitri adalah momentum perayaan seluruh umat muslim di seluruh penjuru dunia setalah satu bulan berpuasa pada bulan ramadhan. Tentu hal ini adalah momen yang paling dinantikan, sama seperti kita menantikan hadirnya bulan ramadhan. Pastinya banyak hal akan disiapkan ketika menyambut hari raya. Dilansir dari laman website NU Online, Syekh Abdul Qodir Al-Jailani dalam kitabnya Al-Ghuniyah li Thalibi Tariqil Haq Azza wa Jalla fil Akhlaq, wat Tashawwuf, wal Adabil Islamiyah. Beliau memaknai Hari Raya Idul Fitri sebagai berikut
“ليس العيد بلبس الناعمات وأكل الطيبات ومعانقة المستحسنات والتمتع باللذات والشهوات. ولكن العيد بظهوره علامة القبول للطاعات وتكفير الذنوب والخطيئات وتبديل السيئات بالحسنات والبشارة بارتفاع الدرجات والخلع والطرف والهبات والكرامات وانشراح الصدر بنور الإيمان وسكون القلب بقوة اليقين وما ظهر عليه من العلامات وانفجار بحور العلوم من القلوب على الألسنة وأنواع الحكم والفصاحة والبلاغة”
Artinya, “Idul Fitri itu bukan mengenakan pakaian bagus, mengonsumsi makanan enak, memeluk orang-orang tercinta, dan menikmati segala kelezatan duniawi. Idul Fitri adalah kemunculan tanda penerimaan amal ibadah; pengampunan dosa dan kesalahan; penghapusan dosa oleh pahala; kabar baik atas kenaikan derajat di sisi Allah, ‘pakaian’ pemberian, ‘harta benda’ baru, aneka pemberian, dan kemuliaan; kelapangan batin karena cahaya keimanan; ketenteraman hati karena kekuatan keyakinan; tanda-tanda Ilahi lain yang tampak; pancaran lautan ilmu dari dalam sanubari melalui ucapan; pelbagai kebijaksanaan, kafasihan, dan kekuatan retoris,” (Lihat Syekh Abdul Qadir Al-Jailani, Al-Ghuniyah li Thalibi Tariqil Haq Azza wa Jalla, Beirut, Darul Kutub Al-Islamiyah, 1997 M/1417 H, juz II, halaman 34).
Dari tulisan beliau kita dapat mempelajari makna yang sesungguhnya tentang Hari Raya Idul Fitri. Hal-hal yang bersifat materialistic tidak menjadi penghalang untuk kita tetap memperhatikan hal-hal yang bersifat non-materialistik, contoh seperti kita memperhatikan dan mengevaluasi bagaimana ibadah dan ketaqwaan kita selama bulan Ramadhan, perbanyak dzikir dan ibadah untuk menyambut kemenangan di bulan syawal. Hal seperti itulah yang pantas mendapatkan perhatian dan persiapan khusus dari diri kita sendiri.
Baca Juga: Stop Pertanyaan Menyakitkan, Agar Suasana Lebaran Tetap Nyaman
Dalam menyambut kemenangan, kita sebagai umat muslim pasti sangat banyak yang dipersiapkan. Ternyata tidak hanya memasak daging, atau memasak ketupat saja tetapi juga pastilah kita mempersiapkan penampilan, gaya baru, baju baru dan semua yang harus baru. Prinsip seperti inilah yang perlahan harus diubah. Karena tidak semua hal yang harus di tampilkan itu serba baru.
Banyak hal baik yang terdapat di hari kemenangan ini salah satunya adalah bersilaturahmi, berjumpa dengan sanak saudara, menerbar senyum kebahagiaan, menggemakan takbir. Dan masih banyak yang lainnya.
Maka dari itu tak seharusnya kita menjadikan hari raya ini sebagai ajang pamer atau riya’. Sibuk membeli baju koleksi terbaru yang mahal dan mewah, membeli sesuatu yang baru padahal tidak butuh, memakai emas secara berlebihan. Atau ada saja hal yang harus di pamerkan ketika tetangga ataupun keluarga sedang berjumpa.
Dalam moment ini kita memang boleh untuk bersuka, namun kita tidak boleh melupakan yang sedang berduka. Seharusnya yang ditampilkan kepada manusia bukan baju dan emas termahal tetapi yang ditampilkan adalah kesederhanaan dalam menyambut hari raya idul fitri. Jangan karena kita menggunakan barang-barang mewah tersebut menjadikan munculnya sifat iri hati orang lain.
Kala bersilahturahmi, niatkan untuk memyambung tali persaudaraan. Bukan untuk adu banding dan adu kekayaan atau pangkat jabatan. Kesederhanaanlah yang melahirkan kebahagiaan yang kita butuhkan bukan yang kita inginkan.
Menurut Syekh Izzudin bin Abdissalam dalam Maqashidur Ri‘ayah li Huquqillah, ada 3 macam riya’ dan sekaligus cara menanggulanginya:
لخطرة الرياء ثلاثة أحوال إحداهن أن يخطر قبل الشروع في العمل لاينوي بعمله إلا الرياء فعليه أن يترك العمل إلى أن يستحضر الإخلاص، الثانية أن يخطر رياء الشرك فيترك ولايقدم على العمل حتى يمحض الإخلاص، الثالثة أن يخطر في أثناء العمل الخالص فليدفعها ويستمر في العمل فإن دامت الخطرة ولم يجب نفسه إلى الرياء صح عمله استصحابا لنيته الأولى
“Terdapat tiga bentuk riya: pertama, orang yang terbesit riya sebelum mengerjakan amalan dan dia mengerjakan amalan tersebut hanya semata karena riya. Agar selamat, orang semacam ini harus menunda amalannya sampai timbul rasa ikhlas. Kedua, orang yang timbul di dalam hatinya riya syirik (mengerjakan ibadah karena ingin mengharap pujian manusia serta ridha Allah).
Baca Juga: Menikmati Momen Lebaran dengan Keluarga
Orang seperti ini juga dianjurkan menunda amalan hingga benar-benar ikhlas. Ketiga, riya yang muncul di saat melakukan aktivitas/amalan. Orang yang dihadang riya di tengah jalan seperti ini, dianjurkan untuk menghalau gangguan itu sambil meneruskan amalannya. Kalau godaaan riya terus hadir, ia tidak perlu menggubrisnya. Insya Allah amalannya diterima karena tetap berpijak pada niatnya semula.”
Penulis: Nabila Rahayu