Pipit Maulidiya*

Buah tak pernah jatuh jauh dari pohonnya, begitu kiranya pepatah ini pantas disandangkan kepada Muhammad Ishomuddin Hadziq, yang akrab dipanggil Gus Ishom. Lahir dari pasangan Khadijah binti Hasyim Asy’ari, dan Kiai Muhammad Hadziq Mahbub dari Ketanggungan, Brebes. Cucu Syaikh KH. Hasyim Asy’ari, pendiri pondok pesantren Tebuireng Jombang, sekaligus tokoh pendiri organisasi Islam terbesar di Indonesia, Nahdhatul Ulama[1] ini, lahir pada 18 Juli 1965 di Kediri Jawa Timur.

Muhammad Ishomuddin Hadziq merupakan putra pertama dari tiga bersaudara tunggal ayah-ibu. Adik setelahnya bernama Fahmi Amrullah dan yang terakhir bernama Zakki.

Pada masa kelahirannya, ibunya Khodijah mengalami kesulitan. Melihat hal itu, secepatnya sang ayah Kiai Hadziq sowan (berkunjung) kepada Kiai Mahrus Ali untuk meminta minuman (segelas air putih) dan do’a. Tapi, saat itu juga Kiai Mahrus Ali langsung datang sendiri, dan mendo’akan agar proses kelahirannya diberikan kemudahan dan kelancaran Allah.

Puji Syukur, berkat do’a Kiai Mahrus Ali, bayi lahir dengan selamat. Sontak Kiai Mahrus Ali berkata “bayi ini akan menjadi anak yang shalih,” seraya memberi nama bayi itu Ishomuddin yang artinya orang yang mampu menjaga agama. Kiai Mahrus Ali yakin bahwa bayi ini kelak akan menjadi orang besar yang mampu menyebarkan dakwah Islam dan mampu meneruskan estafet kepemimpinan kakeknya, Hadhratusyaikh KH. M. Hasyim Asy’ari.[2]

Majalah TebuirengIklan Tebuireng Online

Benarlah, Gus Ishom tumbuh cerdas. Dari silsilah ibunya saja, Hj. Khadijah merupakan anak ke tiga dari empat bersaudara (1. Abdul Qadir, 2. Fathimah, 3. Khadijah, 4. M. Ya’qub) pasangan KH. M. Hasyim Asy’ari dengan Nyai Masrurah putri Kiai Hasan, pengasuh Pondok Pesantren Kapurejo, Pagu, Kediri.[3] Ilmu dan ketangguhan Kiai Hasyim dalam memahami Islam, tentunya telah diwarisinya.

Setelah kelahirnya, Ishom kecil dibawa ke Pondok Pesantren Tebuireng yang didirikan oleh Hadratusyaikh KH. Muhammad Hasyim Asy’ari. Sehingga sejak kecil, Gus Ishom telah diperkenalkan kepada kehidupan pesantren yang sarat dengan pendidikan agama. Gus Ishom kecil terkenal memiliki pribadi yang rajin, disiplin, sopan santun dan menunjukkan minat yang besar pada ilmu pengetahuan. Beliau sangat disayang Kiai Idris Kamali (menantu Hadratusyaikh KH. M. Hasyim Asy’ari) yang terkenal alim dan wara’. Gus Ishom selalu mengerjakan shalat maghrib tepat waktu dan persis dibelakang Kiai Idris.

Sejak berusia sekitar tujuh tahun ketika duduk di kelas 2 SD, pada waktu Bulan Ramadan Gus Ishom selalu mengerjakan sholat tarawih dengan tuntas dari awal sampai selesai. Uniknya, beliau selalu berpindah-pindah dari satu imam ke imam yang lain. Ternyata hal ini mempunyai tujuan, yakni mencari orang yang paling fasih bacaan al-Qur’annya. Setelah Ramadlan selesai, Gus Ishom minta izin kepada ibunya “Bu, aku ingin ngaji al-Qur’an sama kiai ini”, pinta Gus Ishom. “Kenapa harus ke kiai ini?, tanya ibunya. “Saya sudah mendengarkan semua bacaan imam shalat saat tarawih, dan yang paling fasih bacaannya adalah kiai ini”, jawab Gus Ishom. Mendengar jawaban anaknya ini, Khodijah kaget, dan dengan legowo memberikan ijin. Jadi sejak kecil, Gus Ishom sudah lihai dan cerdas memilih guru yang betul-betul mendalam pengetahuan dan tinggi moralitasnya, tidak sembarangan memilih guru. Karena pengaruh guru sangat besar dalam menyukseskan pendidikan murid-muridnya.[4]

*Staff Produksi eastjavatraveler.com, alumnus UIN Sunan Ampel Surabaya


[1] Samsul Munir Amin, Karomah Para Kiai, (Yogyakarta: Penerbit Pustaka Pesantren, 2008)

[2] sachrony.wordpress.com/2007/08/30/gus-ishom-tebuireng-jawatimur/, 2007. (Diakses pada tanggal 15 Nopember 2013)

[3] Muhammad Subakhi, Kiai Sastrawan yang Tak Dikenal, (Jombang: Pustaka Tebuireng, 2011) hlm. 21.  

[4] Asmani Jamar Ma’mur. Sang Penerus Estafet KH. Moh. Hasyim Asy’ari. 2009. https:/www.pondokpesantren.net/ponpren/index.php?option=com_content&task-view&id=268 (Diakses tanggal 15 Nopember 2012)

SebelumnyaMenimba Amarta, Melepas Dahaga
BerikutnyaJenggot dan Kebodohan