Fatwa Sembelih Dam di Tanah Air itu Bukan Khilaf, Melainkan Masalah yang Tak Perlu Dihiraukan

142
KH. Musta’in Syafi’ie

Khutbah oleh: KH. Musta’in Syafi’i

Kalau orang yang ibadah haji sekarang ini menyembelih dam di tanah haram, maka semua ulama mengatakan sah. Tetapi penyembelihan dam yang dilakukan di tanah air itu tidak khuruj minal khilaf.

اِنَّ الْحَمْدَ لِلَّهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنَعُوْذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَسَيّئَاتِ أَعْمَالِنَا مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلاَ مُضِلّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلاَ هَادِيَ لَهُ أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلهَ إِلاّ اللهُ وَأَشْهَدُ أَنّ مُحَمّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُه اَللهُمّ صَلّ وَسَلّمْ عَلى سيّدنا مُحَمّدٍ وَعَلى آلِهِ وِأَصْحَابِهِ وَمَنْ تَسْلِيمًا كَثِيْرًا

اتَّقُوا اللَّهَ مَا اسْتَطَعْتُمْ  فَقَدْ فَازَ المُتَّقُوْنَ

وَوَصَّيْنَا الْإِنْسَانَ بِوَالِدَيْهِ إِحْسَانًا حَمَلَتْهُ أُمُّهُ كُرْهًا وَوَضَعَتْهُ كُرْهًا وَحَمْلُهُ وَفِصَالُهُ ثَلَاثُونَ شَهْرًا حَتَّى إِذَا بَلَغَ أَشُدَّهُ وَبَلَغَ أَرْبَعِينَ سَنَةً قَالَ رَبِّ أَوْزِعْنِي أَنْ أَشْكُرَ نِعْمَتَكَ الَّتِي أَنْعَمْتَ عَلَيَّ وَعَلَى وَالِدَيَّ وَأَنْ أَعْمَلَ صَالِحًا تَرْضَاهُ وَأَصْلِحْ لِي فِي ذُرِّيَّتِي إِنِّي تُبْتُ إِلَيْكَ وَإِنِّي مِنَ الْمُسْلِمِينَ (الاحقاف:15)

أُو۟لَـٰۤىِٕكَ ٱلَّذِینَ نَتَقَبَّلُ عَنۡهُمۡ أَحۡسَنَ مَا عَمِلُوا۟ وَنَتَجَاوَزُ عَن سَیِّـَٔاتِهِمۡ فِیۤ أَصۡحَـٰبِ ٱلۡجَنَّةِۖ وَعۡدَ ٱلصِّدۡقِ ٱلَّذِی كَانُوا۟ یُوعَدُونَ

Melanjutkan konsep Al-Quran tentang panduannya bagi orang yang sudah berusia 40 tahun. Ada enam panduan untuk bagi mereka yang telah berusia 40 tahun. Dalam hal ini kita akan membahas panduan yang ketiga, yakni وَأَنْ أَعْمَلَ صَالِحًا تَرْضَاهُ (semoga amal saya diridai Allah). Seorang mukmin itu dituntut harus beramal saleh yang disukai oleh Allah. Karena tidak semua amal saleh itu disukai oleh Allah.

Baca Juga: Begini Sikap Nabi yang Patut Dicontoh kepada Umat Non-Muslim

Terkait bulan Haji, Rasulullah Saw., berhaji hanya sekali yang disebut dengan haji wada’. Beliau beserta para sahabat berangkat dari Madinah, dan tiba di Makkah pada tanggal 4 Dzulhijjah, sekitar lima hari menjelang wujuf. Haji beliau berbentuk tamattu’, yaitu ihram dilakukan untuk umrah, baru kemudian ihram untuk wukuf.

Haji tamattu’ ini dijelaskan oleh Al-Qur’an sekaligus teknisnya, pun diperagakan oleh Rasulullah SAW. Haji ini menyebabkan konsekuensi pada kewajiban dam nusuk. Kambing (dam) itu disembelih sendiri oleh Rasulullah di tanah haram dengan deskripsi dalam Al-Qur’an hadyan baligh al-ka’bah (هَدْيًا بَالِغَ الْكَعْبَةِ). Sampai-sampai Hadraturrasul memberikan arahan batas tanah haram yakni:

Majalah TebuirengIklan Tebuireng Online

كُلُّ فِجَاجِ مَكَّةَ مَنْحَرٌ، وَكُلُّ أَيَّامِ التَّشْرِيقِ ذَبْحٌ

Setiap jalan/lorong di antara bukit di Makkah adalah tempat penyembelihan (manhar), dan semua hari-hari Tasyrik adalah waktu penyembelihan (HR. Ahmad & Al-Baihaqi)

Baca Juga: Adab kepada Orang Tua Lebih Utama dari Ilmu

Dengan demikian tentang haji tamattu’ yang sembelihan dam-nya dilakukan di tanah haram, hingga detail teknisnya itu sangat jelas teksnya melalui firman Allah, praktik Rasul, diikuti oleh para sahabat, tabiin, hingga menjadi ijma’ imam mazhab. Tahun ini ada fatwa yang menyebutkan kebolehan menyembelih dam di tanah air. Memang ada qaul yang membolehkan demikian. Akan tetapi perlu diperhatikan bahwa qaul tersebut tidak berdasar pada Al-Qur’an maupun Hadis. Tidak pula dideskripsikan oleh tokoh-tokoh imam Mujtahid, melainkan hanya diungkapkan oleh beberapa ashab muhtahid, seperti imam Natifi dari kalangan Hanafiyyah.

Pada teori Ushul Fiqh, sebuah pendapat yang diungkapkan oleh Imam Mujtahid dinamakan Qaul. Sementara pendapat yang dilontarkan oleh murid-murid imam mujtahid, apalagi murid tersebut bukan murid ternama, maka disebut wajh. Kemudian bagaimana jika kita membuat skoring, jika empat imam mazhab itu sepakat disebut mujma’ alaih. Akan tetapi jika hanya tiga yang sepakat, sementara satu berbeda, maka disebut muttafaq. Sementara pendapat itu jika berbanding sama (2:2), maka disebut mukhtalaf fih. Oleh karena itu, di dalam persoalan dam bagi orang haji tamattu’ dengan dasar Al-Qur’an, Hadis, dan Ijma’ adalah kebenaran mutlak. Sementara kebolehan penyembelihan dam di tanah air itu hanya pendapat bagian kecil ulama’.

Meskipun caranya misal menggunakan pendekatan al-manath (secara sederhana adalah illah yang berhubungan). Ada kalanya disebut takhrij al-manath (eksposif), tanqih al-manath (purifikasi), tahqiq al-manath (verifikasi). Persoalannya kemudian apa dasar manath yang digunakan hingga menjadi taraf tahqiq? Jawabannya harus ditunjukkan oleh mereka yang memfatwakan dam itu boleh disembelih di tanah air.

Baca Juga: Hal-hal yang Mengindikasikan Haji Mabrur

Mereka yang menganggap perbedaan proses penyembelihan dam haji tamattu’ sebagai bentuk khilafiyyah adalah sebuah kesalahan. Fatwa yang membolehkan tadi tidak mempunyai dasar yang kuat. Kemudian sosok yang berpendapat tidak setara dengan imam Mujtahid dalam kualitasnya. Pada masalah ini fikih tidak menyebutnya sebagai khilafiyyah melainkan hafawat (هفوات). Redaksi teks fikih biasa mendeskripsikannya dengan kalimat wa la yultafat bih (tidak perlu dihiraukan).

Kemudian tidak berhenti di situ, berdasarkan Al-Qur’an dan Hadis ketika melihat sesuatu itu ada berbagai variannya sebagai seorang beriman dituntut mengerjakan ayyukum ahsanu amala; amal yang terbaik. Rasulullah juga menganjurkan amal yang terbaik. Sehingga para ulama’ dalam produk fikih mengenai masalah khilaf itu ada aturannya.

Jangan hanya berhenti pada perkara khilaf  “biarlah menurut selera masing-masing”. Harusnya berlanjut pada term “al-khuruj minal khilaf mustahab” (keluar dari khilaf itu dianjurkan). Amal yang seperti itulah yang disukai dan dicintai oleh Allah. Kalau orang yang ibadah haji sekarang ini menyembelih dam di tanah haram, maka semua ulama mengatakan sah. Tetapi penyembelihan dam yang dilakukan di tanah air itu tidak khuruj minal khilaf.

بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ، وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ الآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ، وَتَقَبَّلَ مِنِّيْ وَمِنْكُمْ تِلاَوَتَهُ إِنَّهُ هُوَ السَّمِيْعُ الْعَلِيْمُ. أَقُوْلُ قَوْلِيْ هَذَا وَاسْتَغْفِرُ اللهَ الْعَظِيْمَ لِيْ وَلَكُمْ فَاسْتَغْفِرُوْهُ، إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ



Ditranskrip: Yuniar Indra Yahya
Editor: Rara Zarary