Situs Langit dan Strategi Bumi: Kisah Heroik Kiai Wahab dan Kiai Nursalim Jombang

64
Dr. KH. Ahmad Musta’in Syafi’i M.Ag., Ketua Dewan Masyayikh Pesantren Tebuireng di Mukatamar ll Pemikiran KH. M. Hasyim Asy’ari dengan tema “Aktualisasi Pemikiran Hadratussyaikh KH. M. Hasyim Asy’ari untuk Indonesia Maju pada Jumat (4/10/2024). Foto: Ayong
Dr. KH. Ahmad Musta’in Syafi’i M.Ag., Ketua Dewan Masyayikh Pesantren Tebuireng (Foto: Ayong)

Khutbah oleh: Dr. KH. Musta’in Syafi’i, M.Ag.

Sejarah menunjukkan para ulama dan pendahulu kita selain mereka adalah sosok sufi, mereka juga ahli fikih. Sehingga perkembangan giat keislaman di negeri ini lebih marak, sebab para ulamanya ramai yang ahli fiqih.

اِنَّ الْحَمْدَ لِلَّهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنَعُوْذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَسَيّئَاتِ أَعْمَالِنَا مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلاَ مُضِلّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلاَ هَادِيَ لَهُ أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلهَ إِلاّ اللهُ وَأَشْهَدُ أَنّ مُحَمّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُه اَللهُمّ صَلّ وَسَلّمْ عَلى سيّدنا مُحَمّدٍ وَعَلى آلِهِ وِأَصْحَابِهِ وَمَنْ تَسْلِيمًا كَثِيْرًا

اتَّقُوا اللَّهَ مَا اسْتَطَعْتُمْ  فَقَدْ فَازَ المُتَّقُوْنَ

وَوَصَّيْنَا الْإِنْسَانَ بِوَالِدَيْهِ إِحْسَانًا حَمَلَتْهُ أُمُّهُ كُرْهًا وَوَضَعَتْهُ كُرْهًا وَحَمْلُهُ وَفِصَالُهُ ثَلَاثُونَ شَهْرًا حَتَّى إِذَا بَلَغَ أَشُدَّهُ وَبَلَغَ أَرْبَعِينَ سَنَةً قَالَ رَبِّ أَوْزِعْنِي أَنْ أَشْكُرَ نِعْمَتَكَ الَّتِي أَنْعَمْتَ عَلَيَّ وَعَلَى وَالِدَيَّ وَأَنْ أَعْمَلَ صَالِحًا تَرْضَاهُ وَأَصْلِحْ لِي فِي ذُرِّيَّتِي إِنِّي تُبْتُ إِلَيْكَ وَإِنِّي مِنَ الْمُسْلِمِينَ (الاحقاف:15)

أُو۟لَـٰۤىِٕكَ ٱلَّذِینَ نَتَقَبَّلُ عَنۡهُمۡ أَحۡسَنَ مَا عَمِلُوا۟ وَنَتَجَاوَزُ عَن سَیِّـَٔاتِهِمۡ فِیۤ أَصۡحَـٰبِ ٱلۡجَنَّةِۖ وَعۡدَ ٱلصِّدۡقِ ٱلَّذِی كَانُوا۟ یُوعَدُونَ

Melanjutkan konsep Al-Quran tentang panduannya bagi orang yang sudah berusia 40 tahun. Ada enam panduan bagi mereka yang telah berusia 40 tahun. Dalam hal ini kita akan membahas panduan yang keempat, yakni وَأَصْلِحْ لِي فِي ذُرِّيَّتِي (turunkan kesalehanku pada keluargaku). Usia sebenarnya seseorang menentukan eksistensi dirinya adalah ketika berusia 40 tahun. Ada penelitian di Suttle dan California pada tahun 1954-1972 yang memfokuskan pada empat tempat panti jompo atau Yayasan yang menampung orang-orang tua dengan sampling sekitar 4700 orang.

Baca Juga: Hal-hal yang Mengindikasikan Haji Mabrur

Hasil dari penelitian tersebut adalah bahwa mereka yang suka berteman dan berkunjung berumur lebih panjang dibanding orang tua yang tidak srawungan. Sehingga wajar jika disebutkan bahwa silaturahmi itu memperpanjang umur. Kesimpulan kedua, bahwa mereka yang suka berkunjung, bersahabat, bergurau, berinteraksi dengan sesama itu sehat. Alasannnya sederhana bahwa ksehatan itu 80% ditentukan oleh jiwa yang sehat. Sedangkan bakteri hanya memengaruhi 20% kesehatan.

Oleh karena itu, mendapatkan hiburan, senda gurau yang bermanfaat itu sungguh menyehatkan. Kemudian dari sisi pembiayaan, mereka yang sering berkunjung dan bercengkrama itu biaya hidupnya lebih irit 30%. Hampir bersamaan di Harvard University tentang wisudawan atau tamatan universitas tersebut. Bagaimana mahasiswanya yang punya koneksi pribadi tinggi dan yang tidak. Mereka yang mempunyai relasi tinggi lebih mudah mendapatkan kemapanan lebih mudah dibanding mahasiwa yang tidak. Itu adalah hasil penelitian akademik.

Majalah TebuirengIklan Tebuireng Online

Agama Islam sudah mepraktikkan proses-proses interkasi sosial tersebut, bahkan melalui ibadah yang nampak individu seperti shalat. Meskipun shalat itu adalah ibadah individu, tetapi tetap disyariatkan shalat berjamaah. Saya tidak membicarakan apakah shalat berjamaah itu sebuah fardhu atau tidak. Untuk itu interaksi antara Allah sebagai al-Khaliq dan menusia sebagai makhluk timbul sebuah khuluq atau akhlak. Karena itu, perlakukan Tuhan sebagai Khaliq kepada makhluk tidak sekedar mencipta saja, melainkan juga dibekali dengan tata krama dan etika. Sehingga masyhur ada riwayat takhallaqu bi akhlaqillah; beretikalah seperti akhlak Tuhan.

Baca Juga: Adab kepada Orang Tua Lebih Utama dari Ilmu

Sejarah menunjukkan para ulama dan pendahulu kita selain mereka adalah sosok sufi, mereka juga ahli fikih. Sehingga perkembangan giat keislaman di negeri ini lebih marak, sebab para ulamanya ramai yang ahli fiqih. Bandingkan dengan Pattani, kebanyakan para ulama yang memperjuangkan Islam adalah sosok-sosok ahli sufi. Pendekatan mereka banyak yang mengadopsi aktivitas sufistik. Mereka tidak banyak melakukan pergerakan dan perkumpulan. Sehingga pendekatan yang ditampakkan cenderung individual. Pantas jika pertumbuhan Islam di dua negeri ini berbeda.

Termasuk di dalam mewarisi perjuangan mereka tidak sekedar melalui sisi akademik saja. Mereka adalah gabungan sesuai dengan bakat masing-masing. Organisasi Islam itu tidak cukup hanya dengan satu disiplin saja. Saya ambil contoh, hadratussyaikh sudah jelas peran kepemimpinannya. Tahun 1965 di alun-alun Jombang organisasi komunis saat itu mengadakan pesta besar.

Cerita waktu itu Kiai Haji Abdul Wahab Hasbullah itu kolaborasi dengan Kiai Nursalim di daerah Diwek. Kiai Wahab yang diberi kesempatan pidato, sebab saat itu ada perwakilan pidato juga dari misonaris, komunis, dan organisasi lain, beliau meminta didahulkan daripada perwakilan lain. Pada ujung sambutannya beliau mengatakan, “Yang merasa NU setelah ini segera pulang.”

Baca Juga: Kisah Awal Mula Seorang Manusia Diwajibkan Berpuasa

Ternyata di sisi lain Kiai Nursalim yang sedang mendownload situs langit melakukan ritual khusus, yakni membakar ikan Wader di pertigaan Ceweng, kemudian memanggil para tukang becak untuk memberi makan mereka, sekaligus meminum air dari dalam kendi. Begitu ritual sudah selesai kendi yang digunakan untuk minum tadi dipecah seraya membaca ayat:

وَنَبِّئْهُمْ أَنَّ الْمَاءَ قِسْمَةٌ بَيْنَهُمْ ۖ كُلُّ شِرْبٍ مُّحْتَضَرٌ فَنَادَوْا صَاحِبَهُمْ فَتَعَاطَىٰ فَعَقَرَ فَكَيْفَ كَانَ عَذَابِي وَنُذُرِ إِنَّا أَرْسَلْنَا عَلَيْهِمْ صَيْحَةً وَاحِدَةً فَكَانُوا كَهَشِيمِ الْمُحْتَظِرِ

“Dan beritahukanlah kepada mereka bahwa air itu dibagi di antara mereka (dan unta itu); setiap waktu minum menghadiri (gilirannya masing-masing).”

“Maka mereka memanggil kawan mereka, lalu kawan itu mengambil (pedang) dan menyembelih (unta itu).”

“Maka betapa dahsyatnya azab-Ku dan peringatan-peringatan-Ku!”

“Sesungguhnya Kami kirimkan kepada mereka satu suara yang mengguntur (suara keras yang mengguncang), maka jadilah mereka seperti reruntuhan jerami kering yang hancur (di dalam kandang ternak).”

Saat bacaan sampai pada ayat كَانَ عَذَابِي وَنُذُرِ tiba-tiba terjadi hujan deras dan banjir besar di alun-alun Jombang, sehingga banyak korban jiwa. Sementara kalangan muslim sudah pulang ke rumah masing-masing karena diminta Kiai Wahab pulang.

Baca Juga: Kejahatan Kuat Bukan Sebab Hebat, Melainkan Karena Kebaikan Bungkam

بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ، وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ الآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ، وَتَقَبَّلَ مِنِّيْ وَمِنْكُمْ تِلاَوَتَهُ إِنَّهُ هُوَ السَّمِيْعُ الْعَلِيْمُ. أَقُوْلُ قَوْلِيْ هَذَا وَاسْتَغْفِرُ اللهَ الْعَظِيْمَ لِيْ وَلَكُمْ فَاسْتَغْفِرُوْهُ، إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ



Ditranskrip: Yuniar Indra Yahya

Editor: Rara Zarary