
KH. Fahmi Amrullah Hadziq
Sikap memuliakan tamu ini tentu tanpa memandang latar belakang tamu tersebut, tidak memandang agamanya, tidak memandang suku bangsanya, tidak memandang ormasnya.
الْحَمْدَ لِلَّهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنَعُوْذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَسَيّئَاتِ أَعْمَالِنَا مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلاَ مُضِلّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلاَ هَادِيَ لَهُ
أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلهَ إِلاّ اللهُ وَأَشْهَدُ أَنّ مُحَمّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُه وَلاَ نَبِيَّ بَعدَهُ
اَللهُمّ صَلّ وَسَلّمْ عَلى سيّدنا مُحَمّدٍ وَعَلى آلِهِ وِأَصْحَابِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدّيْن
فَيَاعِبَادَ اللهِ اوْصِيْكُمْ وَنَفْسِي بِتَقوَى الله اتّقُوا اللهَ حَقّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوْتُنّ إِلاّ وَأَنْتُمْ مُسْلِمُوْنَ
Marilah senantiasa kita meningkatkan ketakwaan kita kepada Allah, dengan haqqa tuqahtihi (sebenar-benar takwa). Menjalankan perintah dan tinggalkan larangan-Nya. Janganlah sekali-kali meninggalkan dunia ini, kecuali dalam keadaan Islam dan husnul khatimah.
Baca Juga: Situs Langit dan Strategi Bumi: Kisah Heroik Kiai Wahab dan Kiai Nursalim Jombang
Jamaah Jumat Rahimakumullah
Diriwayatkan suatu malam Nabi Ibrahim menerima seorang tamu, seorang Majusi berusia 70 tahun. Orang Majusi tersebut menyampaikan hajatnya, tetapi mengetahui bahwa tamunya adalah orang Majusi, maka Nabi Ibrahim tidak mau membantunya. “Aku tidak bisa membantumu hingga engkau meninggalkan kepercayaan dan agamamu.” Kata Nabi Ibrahim kepada tamunya itu. Mendengar hal tersebut tamu itu pergi meninggalkan rumah Nabi Ibrahim dengan perasaan sedih.
Sepeninggal tamu itu Allah menurunkan wahyu kepada Nabi Ibrahim sebagai teguran. “Wahai Ibrahim, engkau tidak sudi membantu orang tersebut hanya karena ia Majusi. Sebenarnya apa rugi bagimu jika kamu membantunya saat itu? Dia beragama Majusi, dia kafir kepada-Ku, tetapi Aku tetap memberinya rezeki selama 70 tahun.”
Setelah mendapat teguran dari Allah itu maka Nabi Ibrahim merasa sadar. Keesokan harinya Nabi Ibrahim berusahan menemui tamu yang mendatanginya semalam. Dan ketika bertemu orang Majusi ini merasa heran. “Ada apa gerangan? semalam engkau menolakku, tetapi sekarang engkau malah mencariku.” Tanya orang Majusi itu dengan penuh keheranan.
Baca Juga: Hal-hal yang Mengindikasikan Haji Mabrur
Maka Nabi Ibrahim meminta maaf dan menceritakan akan turun wahyu Allah sebagai teguran. Mendengar hal itu, orang Majusi tersebut tersentuh hatinya, kemudian ia berujar kepada Nabi Ibrahim, “Wahai Ibrahim, ulurkan tanganmu. Aku bersaksi bahwa tiada tuhan selain Allah, dan engkau adalah utusan Allah.”
Jamaah Jum’at Rahimakumullah
Kisah ini memberikan hikmah kepada kita, bahwa memuliakan tamu itu adalah ajaran dan akhlak orang-orang yang beriman. Sebagaimana disebutkan dalam sebuah hadis;
مَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللَّهِ واليومِ الآخِرِ فَلْيُكْرِمْ ضَيْفَهُ
“Barang siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, maka hendaklah ia memuliakan tamunya.”
Sikap memuliakan tamu ini tentu tanpa memandang latar belakang tamu tersebut, tidak memandang agamanya, tidak memandang suku bangsanya, tidak memandang ormasnya.
Jamaah Jum’at Rahimakumullah
Islam merupakan agama yang rahmatan lil ‘alamin. Baginda Nabi diutus oleh Allah juga sebagai rahmatan lil ‘alamin, wa ma arsalnaka illa rahmatan lil ‘alamin (tidaklah aku mengutus engkau Muhammad, kecuali sebagai kasih sayang bagi seluruh alam). Kita mungkin masih ingat bagaimana Rasulullah memperlakukan pengemis buta Yahudi yang setiap saat mencaci-maki, serta menghina baginda Nabi. Akan tetapi baginda tidak pernah memusuhi orang tersebut. Bahkan tiap hari baginda Nabi menemui pengemis buta tersebut, bukan hanya mengunjunginya, melainkan juga memberikannya makanan.
Baca Juga: Kisah Awal Mula Seorang Manusia Diwajibkan Berpuasa
Bisa jadi apa yang kita lakukan terhadap orang non-muslim sebagaimana dilakukan oleh baginda Ibrahim dan Rasulullah Muhammad adalah satu bentuk dakwah yang terbaik. Artinya dakwah kepada manusia itu tidak hanya sebatas dengan kata-kata atau ceramah. Sementara dakwah dengan perbuatan dan sikap itu terkadang lebih menyentuh dibandingkan dengan dakwah melalui kata-kata. Lisanul hal afsahu min lisanil maqal; dakwah melalui perbuatan itu lebih baik dibandingkan dengan dakwah dengan ucapan.
Maka kemudian kisah-kisah sahabat, Nabi, banyak yang menggambarkan betapa dakwah mereka sangat luar biasa itu. Dimulai dengan sikap yang lembut kepada tamu, tetangga. Sehingga pantas bagi kita untuk berharap agar Allah memudahkan kepada kita untuk senantiasa berbuat baik kepada siapa pun.
إن أحسن الكلام، كلام الله الملك العلام والله يقول وبقوله يهتدي المهتدون مَّنْ عَمِلَ صَالِحًا فَلِنَفْسِهِ ۖ وَمَنْ أَسَاءَ فَعَلَيْهَا ۗ وَمَا رَبُّكَ بِظَلَّامٍ لِّلْعَبِيدِ بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ، وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ الآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ، وَتَقَبَّلَ مِنِّيْ وَمِنْكُمْ تِلاَوَتَهُ إِنَّهُ هُوَ السَّمِيْعُ الْعَلِيْمُ. أَقُوْلُ قَوْلِيْ هَذَا وَاسْتَغْفِرُ اللهَ الْعَظِيْمَ لِيْ وَلَكُمْ فَاسْتَغْفِرُوْهُ، إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ
Pentranskip: Yuniar Indra Yahya
Editor: Rara Zarary


















