Adab kepada Orang Tua Lebih Utama dari Ilmu

116
KH. Mustaqim Askan

Khutbah oleh: KH. Mustaqim Askan

Ada seorang murid yang berkata, “Wahai imam, engkau sedang mengajarkan ilmu, tidakkah perintah itu bis akita tunda?” Tanggapan Abu Hanifah menjawab, “Ilmu ini tidak akan diberkahi oleh Allah, jika aku menunda perintah ibuku.”


اِنَّ الْحَمْدَ لِلَّهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنَعُوْذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَسَيّئَاتِ أَعْمَالِنَا مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلاَ مُضِلّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلاَ هَادِيَ لَهُ أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلهَ إِلاّ اللهُ وَأَشْهَدُ أَنّ مُحَمّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُه

اَللهُمّ صَلّ وَسَلّمْ عَلى سيّدنا مُحَمّدٍ وَعَلى آلِهِ وِأَصْحَابِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدّيْن

يَاأَيّهَا الّذَيْنَ آمَنُوْا اتّقُوا اللهَ حَقّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوْتُنّ إِلاّ وَأَنْتُمْ مُسْلِمُوْنَ

وَقَضَىٰ رَبُّكَ أَلَّا تَعْبُدُوا إِلَّا إِيَّاهُ وَبِالْوَالِدَيْنِ إِحْسَانًا ۚ إِمَّا يَبْلُغَنَّ عِندَكَ الْكِبَرَ أَحَدُهُمَا أَوْ كِلَاهُمَا فَلَا تَقُل لَّهُمَا أُفٍّ وَلَا تَنْهَرْهُمَا وَقُل لَّهُمَا قَوْلًا كَرِيمًا

Jamaah Jumat yang dirahmati oleh Allah Swt

Ada sebuah maqalah yang berbunyi “al-adabu muqaddamun ‘ala al-‘ilm” (adab lebih didahulukan daripada ilmu). Sebuah  maqalah  yang muttafaq ‘alaih menurut jumhur salaf, fuqaha’, serta muhaddisin. Dari sini akan saya tampilkan sebuah kisah, pada sekitar abad ke-2 hijriyah ada seorang imam besar di Irak yang merasa ilmunya tidak berarti di hadapan ibunya sendiri, namun justru menemukan kunci rahasia keberkahan dalam hidupnya. Beliau adalah Imam Abu Hanifah Al-Nu’man Rahimahullah.

Baca Juga: Hal-hal yang Mengindikasikan Haji Mabrur

Beliau dikenal sebagai sosok yang alim, tajam pemikirannya, kuat hafalannya, serta termasuk rujukan umat hingga saat ini. Majelis ilmunya selalu dipenuhi para penuntut ilmu dari berbagai macam negara. Ribuan orang datang untuk meminta fatwa kepadanya. Namanya juga dihormati, pendapatnya pula diikuti, ia juga penggagas mazhab Hanafi.

Majalah TebuirengIklan Tebuireng Online

Namun, pada suatu hari ibunya datang dengan sebuah pertanyaan masalah agama. Ia menjawab dengan tenang disertai dengan dalil-dalilnya. Hanya saja ibunya belum merasa puas, bahkan ibunya berkata, “Aku ingin mendengar jawaban dari Umar ibn Dzar”. Umar memang seorang yang alim sekaligus penceramah di Kufah. Beliau juga dikenal sebagai ahli ibadah dan pemberi nasihat yang paling lembut. Akan tetapi di mata masyarakat kala itu bahwa dalam bidang fikih keilmuan beliau belum berada pada tingkat yang sama dengan Abu Hanifah.

Bayangkan seorang imam besar yang diminta oleh ibunya untuk mendatangi orang alim. Meskipun orang tersebut secara keilmuan di bawah kedudukan Abu Hanifah, namun perintah ibunya tidak dibantah oleh Abu Hanifah. Dengan penuh hormat beliau menggendong ibunya dan berjalan menuju majelis Umar ibn Dzar untuk menanyakan masalah. Sesampainya di sana Umar terkejut, ia tahu siapa sosok di hadapannya saat itu. Ia merasa segan kepada Abu Hanifah. Bagaimana mungkin ia menjawab pertanyaan ibu Abu Hanifah, apalagi saat itu berada di hadapan putranya.

Mendadak Imam Abu Hanifah mendekat seraya membisikkan jawaban kepada Umar ibn Dzar. Lalu Umar menyampaikan jawabannya. Maka, sang ibu tersenyum, hatinya tenang, serta puas. Abu Hanifah juga merasa senang dan bahagia melihat senyum ibunya. Beliau juga tidak merasa kehilangan wibawa. Justru di situlah kemuliaannya semakin dilihat, seakan nampak ilmu setinggi apa pun tidak berarti di hadapan ibu sendiri. Ini mengindikasikan bahwa Imam Abu Hanifah lulus dalam ujiannya.

Baca Juga: Hati dan Lisan Penentu Baik Buruknya Seorang Hamba

Pada kesempatan yang lain, Imam Abu Hanifah tengah mengajar, semua muridnya duduk mengelilinginya dengan penuh khidmah. Namun tiba-tiba terdengar suara dari pintu. Ibunya memanggil, “wahai anakku Nu’man ayam-ayam di belakang itu belum diberi makan.” Spontan murid-murid kaget mendengar hal tersebut, mereka mengira bahwa Abu Hanifah akan menyelesaikan pelajarannya dahulu.

Namun yang terjadi adalah beliau menutup kitabnya lalu berdiri. Tiba-tiba ada seorang murid yang berkata, “Wahai imam, engkau sedang mengajarkan ilmu, tidakkah perintah itu bis akita tunda?” Tanggapan Abu Hanifah menjawab, “Ilmu ini tidak akan diberkahi oleh Allah, jika aku menunda perintah ibuku.” Akhirnya beliau meninggalkan majelis, pulang ke rumah, sekaligus memberi makan ayam-ayam ibunya dengan tangannya sendiri. Setelah itu Kembali ke majelis ilmu dan melanjutkan pelajarannya seolah-olah tidak terhadi sesuatu.

Sesampainya di majelis ilmu, beliau mengatakan kepada murid-muridnya, “Aku tidak akan sampai pada kedudukan seperti ini hanya karena banyak hafalan yang aku miliki. Melainkan semua itu karena baktiku kepada ibuku.” Hadirin ketahuilah bahwa ilmu bisa membuat anda dihormati dan dihargai oleh manusia, akan tetapi adab kepada orang tua membuat anda diridhai Allah Swt.

بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ

وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ الآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ

وَتَقَبَّلَ مِنِّيْ وَمِنْكُمْ تِلاَوَتَهُ إِنَّهُ هُوَ السَّمِيْعُ الْعَلِيْمُ. أَقُوْلُ قَوْلِيْ هَذَا وَاسْتَغْفِرُ اللهَ الْعَظِيْمَ لِيْ وَلَكُمْ فَاسْتَغْفِرُوْهُ، إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ



Ditrakskrip: Yuniar Indra Yahya

Editor: Rara Zarary