
Khutbah Jumat oleh: KH. Ahmad Syakir Ridlwan
Para santri seharusnya tidak lalai dengan keutamaan bulan Sya’ban. Kelalaian tersebut boleh jadi dalam bentuk hafalan tanpa meresapi, mengaji tanpa hadir hatinya, beramal agar dipuji, merasa cukup dengan label santri padahal belum tentu kita lebih baik dari orang di luar sana.
اِنَّ الْحَمْدَ لِلَّهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنَعُوْذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَسَيّئَاتِ أَعْمَالِنَا مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلاَ مُضِلّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلاَ هَادِيَ لَهُ أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلهَ إِلاّ اللهُ وَأَشْهَدُ أَنّ مُحَمّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُه لا نبي بعده. اَللهُمّ صَلّ وَسَلّمْ عَلى سيّدنا مُحَمّدٍ وَعَلى آلِهِ وِأَصْحَابِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدّيْن. يَاأَيّهَا الّذَيْنَ آمَنُوْا اتّقُوا اللهَ حَقّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوْتُنّ إِلاّ وَأَنْتُمْ مُسْلِمُوْن
Jamaah Jum’at Rahimakumullah
Sebagai khatib saya berwasiat kepada diri saya sendiri dan kepada para jamaah semua, mari kita tingkatkan keimanan dan ketakwaan kepada Allah SWT. Yakni melaksanakan perintah Allah dan menjauhi segala larangan-Nya. Dengan takwa Allah ini insha allah kita akan dijamin oleh Allah baik di dunia maupun di akhirat. Sebagaimana disebutkan oleh Al-Qur’an:
الَّذِينَ آمَنُوا وَكَانُوا يَتَّقُونَ (63)لَهُمُ الْبُشْرَىٰ فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَفِي الْآخِرَة
Baca Juga:Keutamaan Bulan Rajab dan Makna Shalat sebagai Pembersih Hati
Jamaah Jum’at Rahimakumullah
Saat ini kita berada di bulan Sya’ban, di mana bulan ini digambarkan oleh Rasulullah banyak yang lalai. Karena bulan Sya’ban ini berada di tengah bulan mulia yakni Rajab dan Ramadhan. Bulan Rajab termasuk salah satu dari empat bulan mulia (arba’un hurum) yang disebut Al-Qur’an; Dzulqa’dah, Dzulhijjah, Muharram, dan Rajab. Sementara Ramadhan juga termasuk bulan mulia lantaran ada kewajiban puasa sekaligus bulan turun Al-Qur’an. Nabi Muhammad SAW memperhatikan bulan Sya’ban ini:
عن أسامة بن زيد رضي الله عنه عن النبي ﷺ، حيث سأل النبي ﷺ قائلاً: قلتُ: يا رسولَ اللهِ، لم أرَك تصومُ من شهرٍ من الشُّهورِ ما تصومُ شعبانَ، قال: ذاك شهرٌ يغفَلُ النَّاسُ عنه بين رجب ورمضانَ، وهو شهرٌ تُرفعُ فيه الأعمالُ إلى ربِّ العالمين وأُحِبُّ أن يُرفعَ عملي وأنا صائمٌ
Rasulullah ditanya, Ya Rasul aku tidak pernah melihat Anda berpuasa penuh dibanding bulan-bulan yang lain? Nabi menjawab, “Bulan di antara Rajab dan Ramadhan tersebut banyak dilupakan oleh orang-orang. Ia adalah bulan terangkatnya amal kepada Allah. Dan aku suka ketika amalanku dihaturkan kepada Allah saat aku berpuasa.
Baca Juga: Jika Tak Bisa Mengukir Kebahagiaan Orang Lain, Jangan Sampai Menghapusnya
Di samping itu banyak peristiwa yang terjadi di bulan Sya’ban. Bulan Sya’ban dalam bahasa Arab yang tersusun dari Syin, ‘Ain, dan Ba’ yang berarti cabang. Dinamakan Sya’ban karena di dalamnya terdapat banyak kebaikan. Pada bulan ini diturunkan surah Al-Ahzab ayat 56 tentang shalawat kepada baginda Nabi Muhammad Saw., Yakni,
إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ ۚ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا (56)
Sesungguhnya Allah dan malaikatNya berselawat (memberi segala penghormatan dan kebaikan) kepada Nabi (Muhammad s.a.w); wahai orang-orang yang beriman berselawatlah kamu kepadanya serta ucapkanlah salam sejahtera dengan penghormatan yang sepenuhnya.
Pada bulan ini juga terjadi perpindahan kiblat dari masjid Al-Aqsa ke Ka’bah. Tempat peristiwa ini dapat dilihat di sebuah masjid yang saat ini Bernama masjid Qiblatain. Sekaligus menjadi waktu turun ayat:
قَدْ نَرَىٰ تَقَلُّبَ وَجْهِكَ فِي السَّمَاءِ ۖ فَلَنُوَلِّيَنَّكَ قِبْلَةً تَرْضَاهَا ۚ فَوَلِّ وَجْهَكَ شَطْرَ الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ ۚ وَحَيْثُ مَا كُنتُمْ فَوَلُّوا وُجُوهَكُمْ شَطْرَهُ ۗ
Kerap kali Kami melihat engkau (wahai Muhammad), berulang-ulang menengadah ke langit, maka Kami benarkan engkau berpaling mengadap kiblat yang engkau sukai. Oleh itu palingkanlah mukamu ke arah masjid Al-Haraam (tempat letaknya Kaabah); dan di mana sahaja kamu berada maka hadapkanlah muka kamu ke arahnya.
Baca Juga: Hidup Selalu Berubah, Tetapi Bekalnya Tetaplah Takwa
Kemudian perintah puasa Ramadhan juga difirmankan oleh Allah pada bulan Sya’ban. Beberapa peperangan juga terjadi di bulan Sya’ban. Yang tidak kalah penting pada bulan ini yakni adanya malam Nisfu Sya’ban. Di antara keutamaan Nisfu Sya’ban karena Nabi berziarah ke makam Baqi’ pada malam ini. Malam ini juga disebut malam pengampunan Allah kepada hamba-Nya. Sehingga saat memasuki bulan Ramadhan berada dalam kondisi suci.
Malam ini juga disebut lailatul qismah wa al-taqdir, yakni malam saat Allah membagikan tugas kepada para malaikat untuk menuliskan takdir masing-masing manusia. Bukankah nasib baik, jodoh, dan ajal sudah ditentukan oleh Allah? Memang betul demikian, akan tetapi ketentuan takdir yang dibawa oleh malaikat merupakan takdir mu’allaq, atau dapat diubah dengan doa. Malam Nisfu Sya’ban juga disebut dengan lailatul istijabah, yakni malam saat Allah mengabulkan segala doa.
Jamaah Jum’at Rahimakumullah
Para santri seharusnya tidak lalai dengan keutamaan bulan Sya’ban. Kelalaian tersebut boleh jadi dalam bentuk hafalan tanpa meresapi, mengaji tanpa hadir hatinya, beramal agar dipuji, merasa cukup dengan label santri padahal belum tentu kita lebih baik dari orang di luar sana. Sebagai santri seharusnya harus menempatkan momentum bulan Sya’ban dengan sebaik-baiknya. Bulan ini merupakan bulan waktu terangkatnya amal. Bulan Sya’ban adalah bulan latihan untuk persiapan bulan Ramadhan. Bulan Sya’ban juga termasuk bulan taubat dan tazkiah nafsi.
Baca Juga: Begini Sejarah Natal yang Sebenarnya, Sekaligus Cara Menyikapinya
Rasulullah mengingatkan kepada para muslimin tentang bulan Sya’ban:
عَنْ عَلِيِّ بْنِ أَبِي طَالِبٍ، قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ: إِذَا كَانَتْ لَيْلَةُ النِّصْفِ مِنْ شَعْبَانَ، فَقُومُوا لَيْلَهَا وَصُومُوا نَهَارَهَا، فَإِنَّ اللَّهَ يَنْزِلُ فِيهَا لِغُرُوبِ الشَّمْسِ إِلَى سَمَاءِ الدُّنْيَا، فَيَقُولُ: أَلَا مِنْ مُسْتَغْفِرٍ لِي فَأَغْفِرَ لَهُ أَلَا مُسْتَرْزِقٌ فَأَرْزُقَهُ أَلَا مُبْتَلًى فَأُعَافِيَهُ أَلَا كَذَا أَلَا كَذَا، حَتَّى يَطْلُعَ الْفَجْرُ
Apabila malam datang Nisfu Sya’ban, maka dirikanlah shalat di malam hari, dan puasa di siang hari. Karena Allah turun ke langir dunia pada matahari terbenam. Jika ada seorang yang meminta ampun, maka Aku ampuni. Jika ada orang yang meminta rezeki, maka Aku beri. Jika ada orang yang tertimpa musibah, maka aku selesaikan. Hal itu berlangsung hingga terbit fajar.
Baca Juga: Kebaikan Seseorang akan Nampak Usai Wafat
Momentum ini harus kita manfaatkan untuk tazkiyah nufus sebelum memasuki bulan Ramadhan. Marilah kita jadikan Sya’ban kali ini berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya. Jangan sampai kita termasuk orang yang lalai.
بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ، وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ الآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ، وَتَقَبَّلَ مِنِّيْ وَمِنْكُمْ تِلاَوَتَهُ إِنَّهُ هُوَ السَّمِيْعُ الْعَلِيْمُ. أَقُوْلُ قَوْلِيْ هَذَا وَاسْتَغْفِرُ اللهَ الْعَظِيْمَ لِيْ وَلَكُمْ فَاسْتَغْفِرُوْهُ، إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ
Pentranskrip: Yuniar Indra Yahya
Editor: Rara Zarary


















