Oleh: Almara Sukma Prasintia*

Membaca merupakan perintah pertama dari Allah. Sebagaimana difirmankan dalam Al-Qur’an surat Al-Alaq ayat 1. Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

اِقْرَأْ بِا سْمِ رَبِّكَ الَّذِيْ خَلَقَ 

Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu yang menciptakan.

Menuntut ilmu hukumnya wajib bagi setiap muslim. Membaca merupakan salah satu sarana untuk menuntut ilmu yang efektif, baik membaca buku maupun membaca kitab. Membaca adalah jendela dunia. Dengan membaca seseorang akan mendapatkan wawasan yang luas.

Majalah TebuirengIklan Tebuireng Online

Buku atau kitab merupakan sumber ilmu, sebagaimana diajarkan dalam islam seorang penuntut ilmu harus menghormati sumber ilmunya. Buku harus dirawat sebaik-baiknya. Dalam kitab Adabul Alim wal Muta’allim , Hadratussyaikh KH. M. Hasyim Asy’ari menjelaskan bahwa terdapat 5 macam akhlak (etika) kepada buku sebagai sarana Ilmu, yaitu:

Pertama, hendaknya seorang pelajar sebisa mungkin mempunyai buku pelajaran yang dibutuhkan, baik dengan cara membeli, menyewa, ataupun meminjam. Namun dengan memiliki buku, bukan berarti ilmu sudah didapat dan dengan mempunyai beragam referensi tidak berarti itu sebanding dengan kualitas pemahaman yang dicapai, sebagaimana banyak terjadi pada pelajar zaman sekarang.

Kedua, jika seorang pelajar tidak keberatan, dianjurkan untuk meminjamkan bukunya kepada temannya yang dianggap tidak akan menciderai akad pinjaman. Seyogyanya, peminjam berterimakasih kepada pemilik buku atas peminjaman tersebut. Tidak diperkenankan menahan buku pinjaman di sisinya terlalu lama, bila sudah tidak perlu ia harus mengembalikan buku kepada pemiliknya secepat mungkin, tidak boleh melakukan perbaikan tulisan tanpa izin pemiliknya, tidak memberi catatan pinggir, tidak menuliskan sesuatu apapun pada bagian kosong lembaran-lembaran, tidak boleh membuat buku jadi hitam, tidak meminjamkan dan menitipkan kepada orang lain bila tidak ada perlunya, tidak menyalin tulisan dari buku tersebut tanpa izin dari pemiliknya.

Ketiga, tatkala membuat salinan dari sebuah buku atau sedang menelaahnya, jangan sampai meletakkan buku terhampar diatas lantai. Namun, letakkanlah buku dalam keadaan terganjal oleh dua benda, buku atau lainnya, atau di atas meja kecil khusus buku.

Keempat, bila meminjam buku atau membelinya, periksalah dengan teliti bagian depan, belakang, tengah, susunan bab, dan kertasnya.

Kelima, tatkala menyalin tulisan dari buku-buku yang berisi ilmu-ilmu syariat, hendaknya dalam keadaan suci, menghadap kiblat, badan dan pakaian bersih, dengan menggunakan tinta yang suci. Tulislah basmallah pada awal setiap buku yang hendak anda tulis. Bila buku itu ingin dibuka dengan prakata penulis yang mencantumkan pujian kepada Allah, shalawat dan salam kepada Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam, maka prakata tersebut ditulis setelah basmallah. Begitupula, basmallah hendaknya ditulis diakhir buku di akhir setiap jilidnya. Setelah penulisan jilid pertama atau kedua selesai, hendaknya pula menuliskan kata-kata yang menunjukkan bahwa buku tersebut belum rampung (masih ada jilid berikutnya). Tapi jika sudah rampung, maka tulislah kata-kata yang menandakan tulisah telah berakhir, Karena banyak faedah yang terkandung di dalamnya.

Referensi: Kitab Adabul ‘Alim wal Muta’alim

*Mahasantri Ma’had Aly Hasyim Asy’ari

Sebelumnya6 Cara Cerdas Mengubah Hidup Lebih Baik & Mengasyikkan
BerikutnyaKetahui, Cara Mandi Wajib setelah Operasi Caesar