Oleh: Almara*

Rasulullah adalah manusia paling mulia, beliau merupakan sosok panutan dalam semua hal. Tidak hanya soal ibadah (hablun minallah), beliau juga teladan terbaik dalam pergaulan.  Beliau adalah kekasih Allah yang namanya selalu disandingkan bersama-Nya. Cinta kepada Rasulullah adalah obat cinta yang menyembuhkan. Telaga Kautsar yang melegakan dahaga kerinduan. Cinta yang menyelamatkan serta mengundang keecintaan Allah yang bersifat Ar-Rahman.

Seseorang tidak akan bisa sempurna mencintai Allah tanpa didasari kesempurnaan cinta kepada Rasulullah. Dialah yang mengenalkan umat manusia kepada Allah, dialah yang mengajarkan berbagai hal untuk bisa berhubungan dengan Allah. Tidak mudah jalan Rasulullah dalam menyebarkan agama Islam, berbagai macam cacian, makian, siksaan, bahkan ancaman tetap ia lawan.  Beliau tidak pernah lelah dan putus asa dalam menjalankan semuanya. Hal ini merupakan bukti kecintaan Rasulullah terhadap umatnya. Seseorang yang mau mencintai Rasulullah maka Allah akan mencintainya, sebagaimana diterangkan dalam firman Allah SWT surat Ali Imron ayat 31:

قُلْ إِنْ كُنْتُمْ تُحِبُّونَ اللَّهَ فَاتَّبِعُونِي يُحْبِبْكُمُ اللَّهُ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ ۗ وَاللَّهُ غَفُورٌ رَحِيمٌ

Majalah TebuirengIklan Tebuireng Online

Katakanlah: “Jika kamu (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mengasihi dan mengampuni dosa-dosamu. Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.”

Puncak hubungan adalah cinta, karena itu ayat di atas membahas tentang cinta kepada Allah dan syarat mendapatkannya. Mengikuti Rasulullah dalam hal-hal yang sifatnya wajib baru akan mengantar seseorang memasuki gerbang cinta sejati kepada Allah.

Salah satu bukti kecintaan umat kepada Rasulullah adalah dengan mengikuti perilaku Rasulullah, yang merupakan jalan untuk meraih kecintaan Allah. Bagaimana mungkin bisa mengenal Allah kalau tidak dengan perantara nabi. Seperti halnya kewajiban mencintai Allah setiap muslim juga wajib mencintai Rasulullah.

Perilaku cinta Rasulullah

Rasulullah  Saw diutus oleh Allah SWT untuk menyempurnakan akhlak manusia melalui agama Islam rahmatan lil alamin. Oleh karenanya, sudah sepatutnya umat muslim mencontoh dan menjadikan Nabi terakhir itu sebagai suri teladan dalam kehidupan sehari-hari. Akhlak Rasulullah Saw adalah al-Quran. Wujud cinta umat kepada Rasulullah  haruslah disertai perbuatan yang mencerminkan kecintaan kepadanya, bila tidak, maka sama saja cinta itu bohong adanya. Perhatikan pernyataan salah seorang waliyullah Hatim Az Zahid berikut ini:

من ادعى حب النبي صلى الله عليه وسلم من غير اتباع السنة فهو كذاب

Barang siapa mengaku cinta Rasulullah Saw.tanpa mau mengikuti perilaku beliau, maka ia adalah seorang pembohong.” [1]

Akhlak Rasulullah dijelaskan dalam Kitab Mawlid al-Barzanji. Di dalamnya berisi tentang pujian-pujian terhadap Nabi Muhammad Saw. Salah satu pujian yang ada dalam Kitab Mawlid al-Barzanji adalah tentang betapa mulianya akhlak Nabi Muhammad Saw yang patut kita contoh sebagai umatnya di dalam kehidupan sehari-hari.

Kitab Maulid al-Barzanji terdiri dari 19 Bab yang di dalamnya menceritakan tentang keseluruhan kehidupan Nabi Muhammad Saw dari mulai beliau lahir sampai meninggal dunia. Dalam salah satu isinya terdapat pembahasan tentang akhlak Nabi Muhammad Saw. Berikut ini akhlak Rasulullah yang dijelaskan dalam kitab Maulid al-Barzanji,

Rendah hati

Rasulullah Saw adalah seorang yang rendah hati dan juga pemalu. Adapun tulisan Syekh Ja’far al-Barzanji tentang sifat rendah hati Rasulullah Saw adalah sebagai berikut :

وكان صل الله عليه وسلم شديد الحياء و التواضع

Artinya: “Beliau adalah orang yang sangat pemalu dan rendah hati.”[2]

Sifat Mandiri

Rasulullah merupakan pribadi yang mandiri. Adapun tulisan Syeikh Ja’far al-Barzanji tentang sifat mandiri Rasulullah sebagai berikut:

يخصف نعلة و يرفع ثوبه و يحلب شاته  و يسير

Artinya: “Beliau mengesol sendiri sandalnya, menambal pakaiannya, dan memerah kambingnya” [3]

Qanaah

Qanaah memiliki arti merasa cukup. Cukup disini merujuk pada sikap rela atau menerima hasil apa yang didapatkannya tanpa mempunyai perasaan kurang dan tidak puas. Nabi Muhammad Saw memiliki sifat qanaah di dalam diri beliau, sifat tersebut bisa kita teladani dan diterapkan didalam kehidupan sehari-hari. Adapun sifat qanaah Nabi Muhammad Saw yang terdapat pada Kitab Barzanji yang ditulis oleh Syekh Ja’far al-Barzanji adalah :

ويعصب على بطنه الحجر من الجوع وقد أوتي مفاتح الخزائن الأرضية و راودته  الجبال بأن تكون دهبا فأباه

Artinya: “Beliau ikatkan batu di perutnya karena lapar, padahal beliau telah diberi kunci-kunci perbendaharaan bumi. Gunung-gunung merayunya untuk menjadi emas baginya, namun beliau menolaknya[4]

Jujur

Adapun akhlak Rasulullah Saw selanjutnya adalah jujur. Berikut ini adalah tulisan yang ada di Kitab Mawlid Barzanji tentang Akhlah jujur dari Rasulullah Saw:

ويتألو اهل الشراف ويكرم اهل الفضل و يمزح ولم يقول إلا حقا  يحبه الله تعالى و يرضاه

Artinya: “Beliau bergurau tetapi tidak mengatakan kecuali yang benar yang disukai oleh Allah Ta‟ala.”[5]

Dalam kisah Rasulullah dijelaskan ketika beliau menyebarkan agama Islam beliau dimusuhi banyak prang, bahkan ada orang kafir Quraisy yang meletakkan kotoran di punggung beliau ketika beliau dalam keadaan shalat.

Kita sebagai umat muslim ketika muncul hal seperti ini haruslah bersifat sabar dan jangan membenci ketika kita dihina atau dicaci, Sebagaimana firman Allah SWT:

فَاصْبِرْ عَلٰى مَا يَقُوْلُوْنَ وَسَبِّحْ بِحَمْدِ رَبِّكَ قَبْلَ طُلُوْعِ الشَّمْسِ وَقَبْلَ غُرُوْبِهَا ۚوَمِنْ اٰنَاۤئِ الَّيْلِ فَسَبِّحْ وَاَطْرَافَ النَّهَارِ لَعَلَّكَ تَرْضٰى

Maka sabarlah kamu atas apa yang mereka katakan, dan bertasbihlah dengan tata cara Rabbmu, sebelum terbit matahari dan sebelum matahari terbenamnya dan bertasbih pulalah pada waktu-waktu di malam hari dan pada waktu-waktu di siang hari, karena kamu merasa senang .” (QS. Thaha: 130)

Penutup

Sebaik-baiknya akhlak adalah akhlak Rasulullah, kita akan menjadi orang yang sangat beruntung apabila mampu menerapkan akhlak Rasulullah dalam kehidupan sehari-hari.

Kita sebagai umat Islam apabila dicaci maki, dihina, dan sebagainya, jangan membalas balik perbuatan itu, jangan kita benci terhadap orang yang telah menghina, akan tetapi kita harus berusaha agar tetap sabar dan membalas dengan kebaikan. Di dalam ajaran agama Islam hal tersebut sudah dijelaskan, semua itu bisa dilatih. Sedikit demi sedikit apabila kita berusaha untuk menerapkan hal-hal tersebut maka kita akan bisa mempunyai akhlak seperti Rasulullah. Hal besar berawal dari hal yang kecil yang dilakukan terus-menerus.


[1]https://jabar.kemenag.go.id/portal/read/mimbar-dakwah-sesi-9-bukti-cinta-kepada-rasulullah-muhammad-saw

[2] Ja’far al-Barzanji, Maulid al-Barzanji, Ter. Moh. Zuhri, Almauliddin Nabawi Barzanji (Semarang: Karya Toha Putra, 1992), 81.

[3]Maulid al-Barzanji, Ter. Moh. Zuhri, Almauliddin Nabawi Barzanji (Semarang: Karya Toha Putra, 1992), 82.

[4]Maulid al-Barzanji, Ter. Moh. Zuhri, Almauliddin Nabawi Barzanji (Semarang: Karya Toha Putra, 1992), 83.

[5]Maulid al-Barzanji, Ter. Moh. Zuhri, Almauliddin Nabawi Barzanji (Semarang: Karya Toha Putra, 1992), 86.


*Mahasantri Ma’had Aly Hasyim Asy’ari

SebelumnyaAnal Seks dalam Kacamata Hukum dan Fiqh Islam
BerikutnyaKisah Para Wanita Luar Biasa yang Melangit