sumber ilustrasi: suara.com

oleh: Rara Zarary*

Beberapa orang terjebak dalam keputusasaan, beberapa lainnya merasa paling menderita. Ironisnya itu terjadi karena menilai orang lain lebih beruntung, lebih bahagia, dan memiliki kehidupan lebih baik dari pada dirinya, semua secara otomatis bersarang dan menguasai pikirannya. Perbandingan-perbandingan demikian nyatanya secara tak sadar telah memberi pengaruh pada psikis seseorang. Seseorang merasa hidupnya sangat buruk atau bahkan menjadi manusia yang tak beruntung.

Disadari atau tidak, selama ini kita terlalu disibukkan dengan apa yang ada di luar diri kita. Kita menjadi seseorang yang lebih mudah menilai orang lain dari pada diri sendiri, rasa-rasanya kita menjadi lebih bisa menyemangati orang lain daripada diri sendiri, merasa mampu mengatur jalan orang lain daripada menentukan jalan sendiri, bahkan kita sangat responsif atas kegagalan dan pencapaian orang lain. Namun, sadar kah bahwa diri kita memerlukan respons terhadap diri sendiri?

“Kebanyakan orang hidup dalam mode reaktif-responsif. Ketika sesuatu terjadi di sekitar mereka, mereka bereaksi dan merespons dengan segera, secara otomatis tanpa pertimbangan, sehingga menjadi terlalu berpengaruh oleh momen itu.” (Brian Tracy, 2020)

Menurut penulis buku Master Your Time itu, salah satu jenis waktu yang terpenting adalah waktu yang kita habiskan untuk berpikir, menentukan, dan merencanakan cara mencapai hal-hal yang benar-benar kita inginkan dalam hidup. Sedangkan buang-buang waktu terbesar adalah memulai perjalanan tanpa tujuan yang jelas dan spesifik.

Majalah TebuirengIklan Tebuireng Online

Dengan ini, apakah kita telah melakukan pola tersebut pada diri sendiri? paling tidak pola komunikasi intrapersonal. Termasuk dalam hal berterima kasih, memaafkan, memahami, memberikan penghargaan, menguatkan, membahagiakan, bahkan mencintai diri sendiri?

Alih-alih melakukan hal itu, kita malah lebih respons hal-hal di luar diri kita. mari mencoba membaca ulang apa yang terjadi pada diri kita. Jika kita belum melakukan ini, mari refleksikan sebelum terlanjur tak peduli dan tak mengenal siapa dan apa yang sebenarnya sedang kita cari dan kita butuhkan dalam kehidupan ini.

“Anda akan menyadari saat Anda merenungkan hidup Anda bahwa momen-momen yang luar biasa, momen-momen ketika Anda benar-benar hidup, adalah momen ketika Anda melakukan sesuatu dengan semangat cinta.” (Henry Drummond)

Di sini, kita berbicara tentang betapa cinta pada diri sendiri menjadi salah satu hal yang perlu kita lakukan. Bagaimana manusia sebagai makhluk pribadi mampu mencintai dan memaafkan dirinya. Tidak lantas menjadikan dirinya hanya sebagai budak dari ambisi dan nafsu rencana-rencana dalam kehidupan ini. Namun lebih dari itu, kita musti paham bagaimana sebenarnya memperlakukan diri sendiri dengan baik, bijaksana, dan penuh cinta.

Soal mencintai diri dan menghargai diri sendiri juga diungkapkan oleh Adam Roa (2021), dalam kanal youtube suksesdaily “Self Love & Self Care” bahwa kita perlu untuk memberikan penghargaan pada diri sendiri. Selain itu, kita diajak untuk (perlu) bercermin, mengenali dan memahami bahwa yang selama ini kita cari adalah diri kita sendiri, bukan hal-hal di luar kita yang malah membuat kita semakin jauh dengan diri sendiri.

Tentu ini adalah tugas kita bersama, untuk saling mengingatkan dan untuk memahami betapa berharga diri kita, betapa sangat berharga hidup kita. Hal inilah yang seringkali kita lupakan, kita lewatkan karena merasa tak penting, padahal sebaliknya kekuatan terdahsyat akan kita dapatkan jika kita pandai menghargai diri dan hidup kita sendiri.

Betapa seharusnya kita sebagai diri yang utuh mampu menjamin ketenangan dan kebahagiaan diri (terutama jiwa) sehingga kita selamat dari terganggunya mental health yang bisa saja menjadi trigger dalam hal-hal yang tidak kita inginkan, dan akan menjadikan hidup kita lebih sempit, buruk, dan tak bisa tertolong dari perasaan yang negatif.

Selain itu, kita juga perlu memahami posisi diri kita. Posisi saat kita menjadi mahluk individu, mahluk sosial. Dengan itu kita bisa memprediksi tindakan atau sikap apa yang perlu kita lakukan. Inilah mungkin bisa menjadi langkah-langkah kecil untuk kita memahami diri yang akan mencapai hasil luar biasa jika kita melakukannya dengan baik dan teratur.

*Penulis catatan pendek di akun IG @sabdawaktu

SebelumnyaKhidmah dan Sanad Perjuangan, Puncak Gelaran Halal Bi Halal Ikapete Gresik
BerikutnyaTerbit Hari Duka