“Bukan maksudku tidak mensyukuri apa yang telah Tuhan berikan, aku hanya tidak bisa diam saat mengetahui ada pahala yang lebih besar dari sekadar membuatmu tersipu, yaitu qobiltu.” (hal.104)

Sebuah prosa yakni poros rasa dari bilik pesantren tentulah menjadi hal yang unik untuk ditelaah. Mengingat pesantren pada umumnya berfokus pada kebersahajaan agamis. Terlebih hal yang berlawanan dengan bukan mahram tentulah sangat sensitif di kalangan pesantren.

Namun salah satu penyair dari Pesantren Kwagean ini, Gus Muhammad Idris atau biasa disebut Idrishann melahirkan kata demi kata yang terangkai menjadi deretan prosa, kemudian terbentuklah sebuah buku yang berjudul “Bucin Universe”.

Bucin yang kita kenal sebagai budak cinta memiliki arti tersendiri pagi sang penulis, yakni Bumi Cinta. Benar adanya, penulis memaparkan betul bagaimana seseorang yang tengah jatuh cinta menjadi sangat bucin terhadap hal yang dicintainya.

Majalah TebuirengIklan Tebuireng Online

Segalanya terasa sempurna dan kekurangan pun mampu dimaafkan tanpa campur pikir logika. Akibatnya cinta yang salah menjadi masalah tatkala kenyataan tak sesuai ekspektasi.

“Cintaku tidak membutuhkan balasan, aku mencintaimu dengan tulus. Karena aku tahu balasan Tuhan untuk sebuah ketulusan adalah kehadiran cinta yang ter-ridakan.” (hal. 99).

Penulis mengajak bagaimana caranya menyalurkan cinta bagi yang belum menemukan pelabuhannya. Sehingga perasaan menggebu yang disinyalir cinta, diharapkan dapat direalisasikan ke arah yang lebih baik, yang justru mendekatkan para budak cinta untuk lebih mendekatkan diri ke sang Pencipta, daripada sibuk mendekati ciptaan-Nya.

“Orang yang spesial itu tidak datang dari rayuan kata atau kedipan mata, tapi dari bagaimana kita melangitkan cinta melalui doa. Menebarkan cinta dengan ketauhidan yang ada, dan menyuburkan cinta dengan dzikir yang Esa. Cinta adalah senyawa. Cinta yang benar mengajak nyaman di surga, bukan sebaliknya.” (hal. 110).

Menjadi jomlo di tengah hiruk pikuk perbucinan bukanlah suatu hal yang begitu merana. Penulis sangat memberi semangat bahwa seorang jomlo tak boleh dilemahkan karena status yang masih sendiri. Justru karena demikian, seorang jomlo tidak membuang waktu melangkah lebih maju dengan seseorang yang belum tentu mendapat restu.

Penulis memperjelas bahwasanya seseorang tentulah menginginkan yang terbaik dari yang terbaik, yang mampu menjadi jamu untuk setiap pilu, penyatu disaat seteru, serta mampu berjalan maju bersama arungi hal-hal baru. Dimana suka duka segala akan ditempuh bersama, selamanya.

“Kita para jomlo harus punya kehendak dan kemauan. Sesungguhnya kita ini bongkahan yang tengah ditempa dengan godaan dan ke-iri-an, agar kelak bisa menjadi berlian.” (Halaman 146).

Secara tak langsung penulis memberikan contoh, bagaimana perasaan bucin yang kerap dialami utamanya bagi para jomlo. Melalui rangkaian indah dari bilik hatinya. Lahirlah sebuah karya dimana dapat pula menjadi obat pilu bagi sebagian besar para budak cinta.

Mari berkarya, mari berfokus memberi bahagia, sebelum saling memberi kebahagiaan satu sama lain. Agar nanti, tak ada kata ‘aku’ dan ‘kamu’ dalam setiap hal, namun hanya ada ‘kita’ untuk membangun kebersahajaan bumi cinta dan melahirkan anak-cucu, melalui ridaNya.

“Banyak orang berkata: Jodohmu adalah cerminan dirimu. Itu tidak salah, namun lebih tepatnya: Jodohku adalah cerminan kegigihan doa-doaku. Komposisi pendamping yang aku mau harus aku ciptakan lewat doa-doaku.” (hal. 177)


Judul      : Bucin Universe
Penulis    : Idrishann
Penerbit   : Yayasan Pendidikan Islam Fathul ‘Ulum Kwagean
Cetakan    : V/September 2021
Tebal      : 195 halaman
Peresensi : Fadhilah Umdah*

SebelumnyaSantri Harus Punya Visi Besar dan Berdakwah Out of The Box
BerikutnyaAjarkan Santri Cara Mencintai Nabi Muhammad