Penampilan teater santri Tebuireng memeriahkan pembukaan operasional Museum.

Tebuireng.online– Launching (peluncuran) Operasional Museum Islam Indonesia Hasyim Asy’ari (MINHA) dimeriahkan dengan penampilan Teatrikal oleh santri Pesantren Tebuireng pada Rabu (10/11/2021) di halaman museum.

Mengusung teater kolosal musikal, para santri yang merupakan siswa-siswi SMA A. Wahid Hasyim ini membawakan tema Resolusi Jihad Hadratussyaikh KH. M. Hasyim Asy’ari, dan keterkaitannya dengan Hari Pahlawan.

Dalam teater tersebut menampilkan sosok KH. Hasyim Asy’ari dan para ulama Nahdlatul Ulama (NU) se Jawa Bali yang berunding pada 21-22 Oktober 1945 di Surabaya yang kemudian menjadi cikal bakal perlawanan sengit rakyat Indonesia dalam mempertahankan Indonesia dari Sekutu. Mereka menampilkan aksi koreo heroik yang menujukkan para santri melawan tentara Sekutu.

“Kami sangat bangga anak-anak hanya latihan 10 hari saja sudah menampilkan permorfa yang baik. Panitia sangat mengapresiasi para pelatih,” ungkap M. Abror Rosyidin, Sekretaris Panitia 76 Tahun Resolusi Jihad dan Hari Santri Nasional 2021.

Majalah TebuirengIklan Tebuireng Online

Ia mengungkapkan bahwa para santri ini dilatih oleh dua aktor Jejak Langkah 2 Ulama dan pegiat teater Jombang, Ukil Kentroenk dan Yahya. Dua jebolan teater Ringin Contong itu dibantu oleh Ega, pegiat musik Jombang untuk melatih band pengiringnya.

“Saya pribadi tidak bisa berkata-kata, selain ucapan terima kasih yang tak terhingga. Dari awal sampai akhir, malah kami akan minta maaf yang sebesar sebesarnya,” ungkap Nyai Ni’maturrohmah, atau yang akrab disapa Ning Ninik.

Ia yang sejak awal mengawal proses latihan melihat kesungguhan para santri dalam berlatih dengan waktu yang sangat singkat. Menurut Suluhil Amin atau Ukil, latihan yang ideal dalam berteater minimal membutuhkan waktu 2-3 bulan dengan puluhan kali pertemuan.

“Dalam waktu sesingkat itu, mereka bisa maksimal. Ada kekurangan, itu pasti. Tapi tidak masalah, yang penting tampilan dapat dinikmati oleh penonton,” ungkap Ukil seniman alumni Madrasah Aliyah Salafiyah Syafi’iyah Tebuireng yang biasa berduet sengan Cak Silo tersebut.

Sejumlah 40 santri terlibat dalam projek teater ini. Mereka antara lain terdiri dari aktor, penari, pemusik, vocal, tata busana, dan tata rias.

“Kami sangat senang, pengalaman yang didapatkan banyak, semoga lain kali bisa tampil lagi,” celetuk Dirwas Alfian Alfarabi, salah satu penampil.

Pewarta: Aros

SebelumnyaLuar Biasa! Event Mahrest Jangkau Peserta se Indonesia
BerikutnyaEmil Dardak Sebut Esensi Seorang Santri