Kompetensi guru merupakan gambaran hakikat kualitatif dan perilaku seorang guru yang menjadi sangat berarti dalam proses transfer dan transformasi keilmuan. Kutipan kata-kata Broke dan Stone membuka buku “Menjadi Guru Favorit” karya Asef Umar Fakhruddin.

Hal itu seolah kita diajak membuka dulu mindset kita bahwa menjadi guru bukan berarti bicara soal transfer keilmuan, tapi juga ada timbal balik kepada murid tentang kesan mereka terhadap guru. Di sini guru diposisikan sebagai produk kelayakan dan personal yang profesional. (hal 19)

Maka dari situ, ada prasarat seorang guru yang harus dipenuhi. Pertama, guru harus punya skil dan pengetahuan yang mendalam. Kedua, mempunya spesifikasi kemampuan dalam ilmu tertentu. Ketiga, punya tingkat pendidikan guru yang memadahi. Keempat, paham betul soal dampak profesinya terhadap masyarakat. Dan kelima, guru harus sejalan dengan dinamika kehidupan (hal. 22).

Fungsi yang bisa berjalan seiring kehidupan seorang guru tergantung pada sudut pandangnya. Ketika guru dilihat dari kacamata profesi, ia hanya terlihat seperti pekerja yang berhak untuk mendapatkan upah dari hasil pekerjaannya. Fungsi ini memang diperlukan untuk sistem yg dikehendaki menjadi baik. Namun rawan dianggap, bahwa pendidikan adalah soal rutinitas belaka.

Majalah TebuirengIklan Tebuireng Online

Yang kedua, guru sebagai sumber belajar. Dalam fungsi ini kompetensi guru benar-benar berada dalam treknya. Namanya juga sumber, maka ilmu yang menjadi basisnya harus dikuasai betul dan mendalam. Tidak hanya sebagai tuntutan profesi, tapi guru juga menempa dirinya sebelumnya dalam proses belajar yang panjang dan serius.

Berkaitan dengan guru sebagai pelayan ilmu, maka guru di sini telah melakukan tugas-tugas fasilitatif. Dalam konteks ini guru merupakan pihak yang memberikan ruang belajar, plus medianya, bahan ajarnya, hingga paket ilmu pengetahuan yang telah dikuasai.

Guru sebagai fasilitator merupakan fungsi lanjutan dari guru sebagai sumber belajar. Kaitannya adalah ilmu pengetahuan yang bersumber dari kualifikasi intelektual guru dikemulsikan dalam pengajaran.

Punya ilmu yang mumpuni, media dan bahan ajar yang lengkap dan terbarukan, tidak menjamin seorang guru bisa jadi favorit di dalam kelas. Bahkan terlalu banyak porsi transfer ilmu dan media serta bahan ajar yang monoton bisa membuat peserta didik bosan. Lalu apa yang perlu dilakukan?

Guru harus juga menjadi pengelola, artinya dapat mengelola semua fungsi modal di atas, menjadi aplikatif dan tepat guna. Inilah yang kemudian dianggap sebagai the art of teaching. Yang sering luput dalam lubuk pendidikan, adalah anggapan bahwa inti pendidikan bukanlah mengajarnya guru, tapi belajarnya peserta didik. Kalau kamu jadi guru, apa yang kamu bisa kelola?

Selanjutnya, guru juga harus menjadi demonstator. Tentu yang dimaksud di sini bukan demonstrasi memprotes kebijakan pemerintah, tapi guru mempertunjukkan sesuatu yang bisa membuat peserta didik mengerti dan mehami sebuah nilai. Demontrator di sini bisa memiliki dua maksud.

Pertama, guru mendemonstrasikan sikap dan prilaku yang baik yang dapat menjadi contoh dan teladan bagi peserta didiknya. Kedua, demonstrator dalam kaitannya dengan kemampuan menyampaikan materi yang dapat mudah dipahami dan dimengerti oleh peserta didik.

Selain itu, guru juga menjadi pembimbing di mana ia juga bertugas mengarahkan peserta didik untuk mengenali hingga mengaktualisasikan potensi diri. Dari situ, guru akan dianggap oleh peserta didik betul-betul sebagai orang tua di luar kehidupan keluarga.

Guru juga harus menjadi mediator dalam mengembangkan interaksi antarsesama. Contohnya hubungan baik dengan sesama teman, guru, keluarga, dan orang-orang lain nya. Guru ketika menjalankan fungsi itu, benar-benar telah menuntun peserta didik menuju kebaikan pendidikan. Mediator juga bisa dilihat dari sisi di mana guru mengarahkan peserta didik menuju kearifan dan kebijaksanaan dalam menggunakan ilmu pengetahuan.

Yang terakhir, guru punya fungsi evaluasi. Evaluasi tidak hanya soal assement nilai kognitif saja tapi juga sisi afektif dan psikomotorik. Malah justru internalisasi dalam penghayatan, perabaan, dan perasa dalam proses belajar sangat penting.

Di sinilah, apakah seorang guru dianggap sukses mengantar muridnya menjadi manusia yang berpendidikan atau bukan. Namun hal itu juga tak bisa dilepaskan dalam beberapa faktor lain, terutama yang bersifat internal. Di mana motivasi mengajar akan sangat berpengaruh bagi arah pembelajaran ke depannya.

Judul buku: Menjadi Guru Favorit
Penulis: Asef Umar Fakhruddin
Penerbit: Diva Press
Tempat: Yogyakarta
Tahun: 2010
tebal: 257 halaman
ISBM: 978-979-963-839-9
Pengulat: MAR

SebelumnyaAkhir Pekan, Jumlah Peziarah Makam Tebuireng Melonjak
BerikutnyaHukum Muslimah Mengunggah Foto di Media Sosial