Nyai Hj. Masriyah Amva. (sumber foto: bbc.com)

oleh: Qurratul Adawiyah*

Dalam sejarah Islam, kemunculan ulama banyak didominasi oleh kaum laki-laki  (Burhanuddin, 2002) padahal eksistensi ulama perempuan sudah ada semenjak zaman
Rasulullah. Dan tidak berhenti pada zaman Rasulullah saja.

Di Indonesia, salah satunya ada Kartini, kaum perempuan Indonesia yang bangkit dan menyusun gerakan yang menghidupkan Indonesia. Masa demi masa berlalu, dan kita tiba pada era globalisasi. Ulama perempuan mempunyai tugas serta peran ekstra dibanding masa sebelumnya.

Salah satu sosok ulama perempuan yang sangat dikenal di masyarakat terutama di Cirebon adalah Nyai Hj. Masriyah Amva. Beliau adalah sosok ulama perempuan inspiratif. Beliau lahir di Cirebon, 13 Oktober 1961, di sebuah kampung pesantren, Babakan, Ciwaringin Kabupaten Cirebon Jawa Barat.

Amva adalah singkatan dari kedua orangtuanya yaitu KH. Amrin Khanan dan Hj. Fariatul `Aini. Ibundanya, Hj. Fariatul `Aini adalah sosok perempuan gigih yang bergerak dalam dunia sosial dan dakwah. Sedangkan ayahnya KH. Amrin Khanan adalah sosok ulama pesantren tradisional yang istikamah mengajar dan membimbing santri untuk mengenal, mendalami dan mengamalkan ajaran-ajaran luhur Islam. (Amva, 2008:244).

Majalah TebuirengIklan Tebuireng Online

Beliau dikenal ramah serta sangat dikagumi oleh para santrinya, karena melakukan banyak terobosan. Ia adalah ulama perempuan inspiratif.

Beliau menjadi pemimpin lebih dari 1.000 santri laki-laki dan perempuan. Beliau telah menghadapi banyak tantangan, apalagi setelah suaminya KH. Muhammad meninggal
dunia. Perkawinannya dengan Kiai Muhammad berjalan sekitar 13 tahun. Selama waktu tersebut, Nyai Masriyah mengambil pelajaran serta pengalaman yang begitu berharga dalam hal manajerial kepemimpinan pesantren.

Nyai Masriyah juga belajar spiritualisme, seperti praktik menjaga wudlu (dawam al-wudlu’), shalat berjamaah, hidup sederhana, sikap zuhud, sikap tawadhu, bersyukur, menghargai perempuan dan pentingnya mendoakan santri (Amva, 2013).

Pasca meninggalnya Kiai Muhammad karena penyakit gagal ginjal, Nyai Masriyah merasakan kebingungan dan kehilangan yang mendalam. Sebab, selama ini dirinya tidak dipandang di masyarakat sebagai tokoh agama. Ia tidak pernah aktif mengikuti kegiatan pengajian ataupun majelis-majelis taklim di lingkungan masyarakat. Meskipun pernah ditujuk sebagai ketua Muslimat NU, misalnya, ia tidak pernah aktif.

Sampai saat ini, setelah kematian suami keduanya, ia belum menikah kembali. Kenyataan ini seolah membenarkan tesis van Doorn-Harder bahwa umumnya para ulama perempuan Nahdliyin ketika seorang nyai meninggal dunia, maka suaminya yang menjadi kiai akan langsung menikah lagi. Sementara bagi seorang nyai, bila ditinggal oleh kiai, ia menghadapi beban-beban budaya seperti mengurus acara-acara pasca kematian seperti haul yang rutin diadakan setiap tahun sehingga menyulitkan bagi seorang nyai untuk menikah kembali (van DoornHarder, 2006: 171).

Setelah KH. Muhammad meninggal pada kenyataanya, pesantren itu bukannya menjadi terpuruk, justru malah semakin maju dan berkembang. Selain dikenal sebagai orang yang teguh memperjuangkan pesantren perempuannya, Nyai Hj. Masriyah Amva telah melahirkan karya puisi religinya yang sudah dibacakan di dalam sampai luar negeri.(Amva,2011:xiv)

Bahkan Nyai Hj. Masriyah Amva pernah mendapatkan penghargaan S.K Trimurti award Tahun 2014 dari Aliansi Jurnalis Independen (AJI), karena kegigihan dan konsistensinya. Apalagi saat ini Indonesia sedang menghadapi gerakan intoleransi dan budaya patriarki.

Nyai Hj. Masriyah Amva juga pernah menjadi tuan rumah dalam acara Kongres Ulama Perempuan Indonesia (KUPI) yang pertama kali di Indonesia dan dunia, acara ini diadakan pada tanggal 25-27 April 2017 di Pondok Pesantren Kebon Jambu Al-Islamy, acara ini adalah acara yang sangat luar biasa, yang dihadiri oleh berbagai kalangan dari ulama perempuan baik ulama perempuan nasional maupun internasional.

Di tengah himpitan dan tekanan yang begitu besar akan masa depan pesantrennya itu, Nyai Masriyah menemukan, menyadari peranan kesalehan sebagai pemasok energi dan kekuatan bagi dirinya untuk bangkit. Muncul kesadaran untuk menjadikan Allah sebagai pusat kesadaran dan pusat segala.

Nyai Masriyah mencoba menghadirkan perasaan bahwa suaminya bisa kuat dan dicintai oleh santri dan masyarakatnya karena semata-mata anugerah Allah. Kekuatannya bukan dari Kiai Muhammad sendiri, melainkan dari Allah. Dari situlah, inspirasi untuk mengambil dan menjadikan Allah sebagai kekasih yang selalu mendampingi dalam dunia rasa tiba.

Sosok Nyai Masriyah merupakan  bukti nyata seorang Nyai di lingkungan masyarakat tradisional dapat muncul sebagai tokoh agama yang otoritasnya diakui secara luas sebagaimana terlihat dari perkembangan pesantren yang dipimpinnya. Selain hal tersebut menarik pula pemikiran Nyai Masriyah yang sangat erat merespons dan berdialektika dengan isu-isu kontemporer dalam Islam seperti kesetaraan gender, kemandirian perempuan, pengakuan terhadap pluralisme, dan keadilan sosial.

Pemikiran dan visi keislaman Nyai Masriyah tampak bukan hanya dipengaruhi oleh pengalaman pribadinya sebagai perempuan yang kurang diuntungkan dalam budaya patriarki, namun juga berakar sangat kuat pada tradisi pesantren.

Pada akhirnya, pemikiran Nyai Masriyah memiliki relevansi dan kontekstualisasi dengan kebutuhan untuk memperkuat bangunan moderasi Islam di Indonesia yang saat ini dihadapkan pada narasi besar menguatnya konservatisme (conservative-turn) di Indonesia.

Sumber data:

https://journal.iainkudus.ac.id/index.php/Palastren/article/download/5981/3956

http://syekhnurjati.ac.id/jurnal/index.php/oasis/article/download/5211/pdf_49

*Mahasantri Mahad Aly Hasyim Asy’ari Jombang.

SebelumnyaKetahui Sistem Perbankan Syariah di Indonesia
BerikutnyaMenguak Tragedi Pelengseran Gus Dur