Oleh: Minahul Asna*

Keilmuan menjadi salah satu sebab mulianya seseorang. Namun apa esensi dari ilmu dan alim (seorang yang berilmu) itu sendiri. Bagaimana ilmu menjadi tanda dari kemuliaan seseorang dan bagaimana suatu ilmu bisa merubah orang tersebut menjadi lebih baik.

Ibnu Mubarak r.a. berkata, “Seseorang dianggap alim selama dia tetap menuntut ilmu. Ketika dia mengira dirinya sudah alim, maka sesungguhnya dia masih bodoh”. Keilmuan terus berkembang. Kemajuan manusia dalam pengetahuan dunia tidak berhenti di abad ini. Hari demi hari manusia menemukan hal baru, dari situ pula pengetahuan semakin berkembang. Dengan pengetahuan kita yang berhenti di bangku sekolah tentu tidak cukup untuk menggali ilmu yang lebih dalam.

Sehingga ilmu bukan suatu hal yang bisa manusia dalami dalam satu malam. Satu ilmu dipahami dan dicermati akan memunculkan keilmuan baru yang lebih dalam. Misalnya, ilmu hadits adalah satu keilmuan yang mendasar. Awal belajar hadits kita akan menjumpai dua cabang yang paling mendasar yaitu ilmu hadits diroyah dan ilmu hadits riwayah, setelah kita mendalaminya lagi ternyata masih banyak cabang keilmuan yang menunggu untuk kita dalami. Begitulah sebuah ilmu, semakin dalam akan semakin banyak hal baru.

Majalah TebuirengIklan Tebuireng Online

Ada ulama yang menyebutkan satu lagi esensi dari ilmu dan alim yaitu Imam Waqi’, guru dari Imam Syafi’i. Beliau berkata, “Seseorang tidak bisa dikatakan alim jika dia belum belajar dari orang yang lebih tua, seumur dengannya, dan yang lebih muda”.

Selain sifat ilmu yang dalam layaknya lautan, ilmu pun juga bisa kita ambil dari siapa saja atau bahkan dari apa saja. Imam Waqi’ mengajarkan kita untuk belajar dari apa pun. Seorang alim ialah orang yang bisa mengambil nilai dari mana saja. Tak memandang dari siapa ia memahami suatu keilmuan dan bahkan mengambil suatu hikmah dari satu kejadian.

Pembaca mungkin mengetahui bagaimana seorang penceramah menceritakan suatu kisah dan mengajak kita untuk mengambil hikmah darinya. Seperti itulah yang dimaksud Imam Waqi’. Tak peduli apapun itu, jika kita bisa mengambil suatu pengetahuan ataupun hikmah maka itulah esensi dari ilmu dan alim.

Wallahu A’lam


*Alumni Ma’had Aly Hasyim Asy’ari

SebelumnyaMengenang Jasa Gus Dur, Perwira TNI-AL Ziarah ke Tebuireng
BerikutnyaMenemukan Kebahagiaan dan Mencintai Diri Sendiri