Tebuireng.online– Rabu (22/10/2021), Pesantren Tebuireng mengadakan acara Pemanduan Museum di Museum Islam Indonesia KH Hasyim Asy’ari (MINHA). Materi dalam acara ini disampaikan oleh Ibu Isti Yuanida dari Museum Ulleh Sentalu.

Dalam materi tersebut Ibu Isti menjelaskan tentang pentingnya mengabadikan para tokoh sejarah yang mana dalam museum terdapat gambar para tokoh supaya para pengunjung tahu bahwa merekalah sang tokoh kemerdekaan Indonesia salah satu di dalamnya terdapat foto KH. Hasyim Asy’ari, hal itulah salah satu bentuk mengabadikan tokoh.

Selain itu setiap  peserta workshop diberikan waktu untuk menjelaskan seluruh gambar yang di desain menarik oleh para arsitektur, mulai dari masuknya Islam ke Indonesia yang melalui jalur perdagangan serta bangun-bangunan bersejarah lainnya. Dalam pelatihan pemanduan wisata tersebut bertujuan untuk meningkatkan pengetahuan staf MINHA guna memberikan pemanduan kepada pengunjung.

Gus Dur merupakan salah satu ulama yang berjasa di Indonesia. Beliau sangat berperan bagi Indonesia. Maqbaroh beliau tidak pernah sepi dari pengunjung. Oleh karena itu kita sebagai orang yang berada di Tebuireng, sebuah keharusan untuk mengetahui tentang Tebuireng salah satunya yaitu mengetahui tentang museum.

Majalah TebuirengIklan Tebuireng Online

“Dari sinilah kita bisa mengarahkan orang yang ziarah ke makam Gus Dur untuk mengunjungi Museum Islam Indonesia KH Hasyim Asy’ari. Selain mendoakan Gus Dur dan para masyayikh di maqbaroh (makam), pengunjung juga mendapatkan ilmu pengetahuan tentang bagaimana sejarah Islam hadir di bumi Indonesia ini,” ungkap  Ibu Isti Yuanida.

Beliau berharap, dengan diadakannya pelatihan ini diharapkan peserta ke depannya bisa memberikan pemanduan yang maksimal, bagaimana memandu museum dengan teknik yang baik, dengan yang edukatif dan entertainment. “Maksudnya ketika memandu itu dengan happy, dengan bahagia, dan mengandung ilmu di dalamnya. Karena tujuan didirikannya museum itu untuk mengkomunikasikan koleksi. Koleksi tersebut dikomunikasikan dengan baik dan benar sehingga masyarakat mendapatkan pengetahuan dari koleksi tersebut. Kita harus membuat masyarakat senang dengan koleksi tersebut, sehingga masyarakat berkata museum selalu di hatiku,” imbuhnya.

“Museum jangan hanya dijadikan sebagai gedung untuk berfo-foto akan sejarah, akan tetapi museum merupakan gedung untuk mengenang sejarah, dan mengingat kembali akan sejarah tersebut,” pungkasnya.

Pewarta: Almara Sukma & Qurratul Adawiyah

SebelumnyaAsal Mula Songkok Hitam sebagai Simbol Nasional
BerikutnyaBetapa Pentingnya Peran Petani Bagi Kiai Hasyim Asy’ari