sumber gambar: dream.co.id

Oleh: Dimas Setyawan*

Tatkala sejarawan Yunani Herodotus menulis bahwasanya tanah orang-orang Mesir kuno “dianugerahkan kepada mereka sebuah sungai,” dia mengacu pada Sungai Nil. Sungai Nil adalah sungai besar dan panjang yang perairannya bernilai penting bagi kebangkitan salah satu peradaban besar paling awal di dunia.

Sungai Nil, yang mengalir ke utara sejauh 4.160 mil dari timur-tengah Afrika ke Mediterania, memberikan Mesir kuno tanah yang subur dan air untuk irigasi, serta sarana transportasi material untuk proyek bangunan. Perairannya yang vital memungkinkan kota-kota tumbuh di tengah gurun Mesir.

Selain memiliki fakta-fakta yang menakjubkan, Sungai Nil memiliki sejarah kelam di masa silam. Sejarah mencatat, di masa lalu agar sungai Nil tetap mengalirkan air guna memberikan kehidupan kepada masyarakat sekitar, konon sungai Nil di setiap tahunnya selalu meminta sebuah tumbal.

Ritual tumbal yang dilaksanakan ialah dengan melempar seorang wanita perawan yang tercantik di masa itu dengan disertai pakaian terbaik.

Majalah TebuirengIklan Tebuireng Online

Kejadian tersebut hampir-hampir tetap dilestarikan oleh masyarakat setempat pada masa gubernur ‘Amr bin Ash’ salah seorang sahabat yang diamanahkan menjadi gubernur di wilayah Mesir dan sekitarnya.

Kemudian ‘Amr bin Ash’ berkata kepada rakyat Mesir, “Sesungguhnya hal ini tidak boleh dilakukan, karna Islam sendiri telah menghapus praktik tercela tersebut”.

Akhirnya, penduduk Mesir bertahan selama 3 bulan tanpa mengalirnya air di sungai Nil, yang saat ini sungai tersebut membelah kurang lebih sembilan negara dikawasan Afrika.

Lalu ‘Amr bin Ash’ mengirimkan surat kepada Sayyidina Umar, dan menceritakan prihal tersebut. Dalam surat jawaban dari Sayyidina Umar kepada ‘Amr bin Ash’ Sayyidina Umar berkata ; “Engkau benar, bahwa Islam telah menghapus praktik tersebut. Aku akan menulis sepucuk surat dan lemparkanlah sepucuk surat itu ke sungai Nil”. Lalu ‘Amr bin Ash’ membaca surat tersebut sebelum melemparkan ke sungai Nil.

Tatkala Amr bin Ash’ membaca isi dari surat tersebut ia mendapati ternyata surat itu berisikan tulisan tangan asli dari Sayyidina Umar dan  isi surat tersebut berbunyi, “Jikalau engkau mengalir karena dirimu sendiri maka jangan mengalir. Namun jika Allah yang Maha Perkasa lagi Maha Esa yang mengalirkanmu, maka kami memohon kepada Allah yang Perkasa lagi Maha Esa untuk membuatmu mengalir.

Setelah sepucuk surat dari Sayyidina Umar dilempar kan di atas sungai Nil, atas seizin kekuasaan Allah SWT, sungai Nil kembali mengalir enam belas hasta dalam satu malam, sehingga masyakarat tidak mendapati kekeringan berkepanjangan.

*Mahasantri Mahad Aly Tebuireng.

 

 

 

 

 

SebelumnyaPencegahan Korupsi Perspektif Tasawuf
BerikutnyaGus Sholah Lahir di Tengah Pergolakan