Oleh: Devi Yuliana*

Sebagai manusia kita tentu sudah tidak asing dengan istilah HAM yakni singkatan dari Hak Asasi Manusia. Menurut KBBI, HAM adalah hak yang dilindungi secara internasional, seperti hak untuk hidup, hak kemerdekaan, hak untuk memiliki, dan hak untuk mengeluarkan pendapat. HAM yang dilanggar bisa mengakibatkan ketidakseimbangan dalam masyarakat atau antar individu. Intinya HAM datang untuk menciptakan ketentraman dalam bermasyarakat dan hidup bersosial. Oleh sebab itulah banyak kita temui kasus pelanggaran HAM yang akibatnya tidak hanya pada satu individu melainkan lebih.

Dalam buku Habib Husein Ja’far yang berjudul Tuhan Ada Di Hatimu, ada sebuah ungkapan milik Cak Nurcholis Madjid perihal HAM, “Penegakan HAM butuh komitmen tulus yang berakar pada kesadaran tentang makna kehidupan yang berbasis agama, agar komitmen dan nilai-nilainya tak dangkal dan hambar”.

Dari sini tentu dapat dibahami bahwa sebelum melahirkan HAM, setiap insan harus menyadari terlebih dahulu apa itu makna kehidupan bermasyarakat. Itulah pentingnya kita mengetahui apa itu Wajib Asasi Manusia (WAM).

Majalah TebuirengIklan Tebuireng Online

Menurut Emha Ainun Najib (Cak Nun), kata ‘hak’ itu berasal dari bahasa Arab yakni الحق  yang bermakna yang benar. Sehingga jika yang benar itu adalah ketika memberi, berarti harus memberi. Tapi kalau yang benar adalah menerima, berarti harus menerima. Sehingga makna hak di sini tidak selalu meminta akan tetapi juga ada kalanya memberi.

Dalam memenuhi hak asasi tentulah ada wajib asasi di baliknya, karena antara hak dan kewajiban tidak bisa dipisahkan begitu saja. Nah, Wajib Asasi Manusia atau WAM ini lah yang menjadi tawaran Cak Nun untuk meningkatkan kualitas HAM. Karena jika seorang melaksanakan wajib asasinya terhadap orang lain. Tentulah hak asasi orang lain akan terpenuhi dengan sendirinya.

Cak Nun mengatakan kalau ketika kita melihat ke orang lain maka gunakanlah hak asasi sedangkan ketika kita melihat diri kita maka gunakanlah wajib asasi. Maksudnya di sini adalah hendaknya kita menghormati hak-hak orang lain terlebih dahulu maka dengan sendirinya hak kita juga akan terpenuhi. Dengan hal ini diharapkan akan tercipta masyarakat yang rukun dan damai karena masing-masing orang saling memenuhi hak-yang lain sehingga hak miliknya pun juga terpenuhi.

Sebagai tambahan, KH. Musthofa Bisri alias Gus Mus juga mengungkapkan bahwa kita harus lebih menyadari kewajiban ketimbang hak dan ketika kita menyadari hak maka kita wajib menghargai hak orang lain. Terakhir penulis ingin mengutip sebuah quote dari Habib Ja’far, “Jika seseorang itu bukan saudaramu dalam agama, maka dia saudaramu dalam kemanusiaan”.


*Mahasantri Ma’had Aly Hasyim Asy’ari

SebelumnyaKunjungan Keagamaan FMKI ke Pesantren Tebuireng
BerikutnyaJangan Merendahkan Guru, Ini Akibatnya