Oleh: KH. Abdul Hakim Mahfudz*

Sangat penting untuk kita sadari bahwa santri tidak seterusnya hanya akan fokus untuk memperdalam ilmu agama saja, akan tetapi sejarah telah mencatat bahwa yang menekuni ilmu agama hanya 10% dari sekian santri, sedangkan 90% yang lain berprofesi di masyarakat menjadi apa saja. Oleh sebab itu sangat penting untuk membahas bagaimana peran santri di masa yang akan datang  ketika terjun di masyarakat nanti.

Banyak kesempatan dan kebutuhan bangsa ini dan Negara Kesatuan Republik Indonesia, sebagaimana membutuhkan tenaga-tenaga yang terampil dan profesional, sehingga di masa depan nanti para santri yang akan memegang kunci untuk perkembangan bangsa ini. Para santri yang akan berperan di masa depan, berani tampil, dan menjadi tokoh-tokoh di masa yang akan datang.

Untuk memperkuat niat dan karakter para santri maka kita harus paham sejarah, siapa pendiri pesantren Tebuireng ini, apa peran beliau, para masyayikh, serta para ulama, sampai sekarang kita bisa menikmati suasana yang sekarang ini sangat nyaman.

Majalah TebuirengIklan Tebuireng Online

Saat itu, Hadratussyaikh berada di bawah pemerintahan Belanda beliau berjuang untuk menyatukan bangsa ini. Mulai awal berdirinya Pesantren Tebuireng ini, Kiai Hasyim sangat menekankan apa yang namanya persatuan dan keilmuan.

Dua hal inilah kemudian menuju persatuan yang akhirnya didirikan Majlis Islam A’la Indonesia (MIAI) pada tahun 1937 itulah puncak persatuan bangsa Indonesia yang mana MIAI menaungi 13 organisasi di Indonesia yang tidak hanya menaungi organisasi Islam saja akan tetapi semua organiasi sekalipun non islam juga dinaungi. Hal ini dikutip dari buku yang ditulis oleh As’ad Syihab yang mana beliau ada di Tebuireng ini pada tahun 1936.

Jadi terbayang bahwa pada saat itu persatuan bangsa Indonesia ini mencapai puncaknya. Menurut catatan Jepang, ada 20.000 ulama yang ada di jawa ini adalah santri Hadratussyaikh KH. M. Hasyim Asy’ari. Hal itu menunjukkan bahwa sejak berdirinya Pesantren Tebuireng ini Hadratussyaikh telah melahirkan lulusan atau santri-santri sehingga menjadi pengasuh pondok yang akhirnya menjadi tokoh masyarakat di daerah masing-masing.

Merupakan suatu anugerah luar biasa pada saat Jepang dikalahkan oleh sekutu di tahun 1944  dan proklamasi Indonesia pada 17 Agustus 1945 menyatakan merdeka. Setelah itu, sekutu dan Belanda ingin masuk kembali ke Indonesia,  kemudian ada perintah untuk berkumpul di Surabaya bersama para masyayikh sehingga lahirlah Fatwa Jihad pada 21 Oktober 1945 kemudian dilanjutkan dengan Resolusi Jihad 22 Oktober 1945.

Ini merupakan suatu peristiwa yang luar biasa yang mana kita harus paham betul, peran-peran yang ada di situ bahwa bangsa Indonesia itu bersatu dan membangun untuk mencapai persatuan itu di akhir tahun 1938 – 1939 kemudian berlanjut pada tahun 1945 kemerdekaan.

Persatuan tersebut tetap kuat sehingga pada saat sekutu belanda mau masuk ke Indonesia lagi di bulan Oktober, sebab itulah resolusi jihad kemudian dikumandangkan bahwa bangsa indonesia wajib mempertahankan Kemerdekaan yang telah diproklamasikan di bulan Agustus 1945.

Penting kiranya untuk merefleksikan resolusi jihad utamanya untuk perjalanan bangsa ini ke depan. Semangat para santri, diharapkan menjadi motivasi untuk lebih lebih banyak membaca lagi, serta menggali sejarah perjalanan bangsa ini menuju masa depan yang lebih baik. Dapat pula menjadi semangat para santri untuk mengisi kemerdekaan. Semangat itu bisa tumbuh dengan mengingat kembali perjuangan para masyayikh pada saat itu yang mana harus dilanjutkan.

Mudah-mudahan nanti para santri menjadi tokoh-tokoh di masyarakat, menjadi kunci di dalam negara kesatuan republik Indonesia, serta menjadi bangsa yang hebat.


*Pengasuh Pesantren Tebuireng.
**Disampaikan Seminar Nasional dengan tema “Refleksi Sejarah Resolusi Jihad untuk Kaum Muda Millenial” diselenggarakan di gedung M. Yusuf Hasyim, Selasa (09/11).

Ditranskip oleh: Rafiqatul Anisah

SebelumnyaSelamat! Nama-nama Pemenang Lomba Mahrest 2021
BerikutnyaAkhir Pekan, Jumlah Peziarah Makam Tebuireng Melonjak