Sang Pencipta Lambang Tebuireng

4670

Kiranya, tak seorangpun akan membantah kalau dikatakan bahwa hampir semua alumni Pesantern Tebuireng, berhasil menjadi ‘orang’. Mereka bertebaran dimana-mana. Ada yang jadi ulama, politisi, ilmuwan, usahawan, kolumnis dan lain-lain. Salah satu diantaranya, KH. Ashiem Ilyas, produk murni Tebuireng yang kini menjadi salah seorang pengasuh Pesantren An-Nukayah Guluk-Guluk, Sumenep, Madura.

Banyak yang menarik dari alumni satu ini. Pada usia yang masih begitu  muda, ia masuk barisan Hizboellah dan ia pulalah yang dipercaya mencucikan semua pakaian Hadratussyekh KH. Hasyim Asy’ari dan yang paling menarik dialah sang pencipta lambang Pesantren Tebuireng yang tetap dipakai sampai sekarang.

Pemuda Ashiem datang untuk pertama kalinya di Pesantren Tebuireng pada tahun 1936, ketika umurnya baru 9 tahun. Tapi tak lama, hanya 40 hari, Karena kakak yang membawanya tidak kerasan sehingga ia pun ikut-ikutan tidak kerasan. Kemudian, pada tahun 1940, ia kembali ke Tebuireng lagi. Kedatangannya yang kedua ini pun tidak lama, hanya sebulan. “Sekarang Amsterdam dan Jerman waktu itu, yang kemudian dikenal dengan perang dunia kedua, membuat para santri gelisah,” kata KH. Ashiem ketika ditanya alasan kepulangannya.

Walaupun sudah dua kali datang dan harus pulang, pemuda Ashiem rupanya tidak jera. Pada Tahun 1943 (zaman Jepang), untuk ketigakalinya ia kembali lagi dan menetap sampai Tahun 1946, “Dalam masa inilah saya masuk Hizboellah,” kenangannya.

Sebelum ikut ke medan pertempuran, pemuda Ashiem mendapat latihan kemiliteran di Jombang. Dan tak lama kemudian tugas memanggilnya untuk mengikuti pertempuran selama 22 hari di Gedangan, Sidoarjo.

Majalah TebuirengIklan Tebuireng Online

Yang lucu dari kisah pertempuran ini, sebelum berangkat ke medan pertempuran, ia dan kawan-kawannya dibekali dengan doa oleh Kyai Wahab. “Untuk menjatuhkan kapal-kapal musuh.” Ketika kapal-kapal itu datang, mereka betul-betul mengamalkan doa itu, “Tapi, kapalnya ngga ada yang jatuh.” Kenangannya sambil tersenyum lebar.

🤔  13 Butir Risalah KH. Hasyim Asy'ari tentang Masjid

Pencipta Lambang

KH. Ashiem Ilyas yang pernah sekelas dengan HM. Yusuf Hasyim (salah satu Pengasuh Pesantren Tebuireng) di shifir tsani itu mempunyai cerita menarik sekitar terciptanya lambang Tebuireng.

Sekitar tahun 1954, ia pernah memenangkan sayembara yang diadakan perusahaan susu cap Nona. Hadiahnya berupa satu peti susu. Tiap hadiah itu dijual dan laku Rp. 265.

Dengan uang Rp. 265, hasil penjualan hadiah sayembara itu, ia berangkat ke Surabaya dengan mengendarai bis Lestari. Ongkos Tebuireng-Surabaya, waktu itu, Rp. 2,5 jadi pulang pergi Rp. 5. Di Surabaya, ia membeli sebuah pen ‘pelikan’ seharga Rp. 260. Pas!

Dengan pen itulah, tanpa disuruh siapa-siapa, ia mulai mencorat-coret, merancang lambang, “Waktu itu saya merasa, Tebuireng perlu punya lambang,” tandasnya ketika ditanya sekitar timbulnya inisiatif mencipta lambang.

Lambang Tebuireng 2
Coretan KH. Ashiem Ilyas ketika merancang lambang pertama kali pada tahun 1954.
Sampai sekarang tetap disimpan dengan baik sebagai dokumen pribadi.
Lambang Tebuireng 3
Lambang Tebuireng yang dicetak pertama kali di percetakan Sjukur Surabaya tahun 1955

Tanpa mengalami kesulitan, lambang itu pun jadilah. Seperti pertama kali diciptakannya, lambang itu terdiri dari lima komponen yaitu bingkai berbentuk segitiga yang berarti al-tsabat, garis vertikal yang berarti al-istiqamah, dua sayap yang berarti al-Nasyath Wa al-Tayaquzh dan sebuah lingkaran yang berarti non-afiliasi, bebas dari campur tangan dengan urusan politik. Politik, waktu itu, dimaksudkan dengan kemelut yang terjadi antara Masyumi dan NU. Begitulah.