sumber gambar: katmut.com

Oleh: Qurratul Adawiyah*

Pagi ini benar-benar melelahkan, ditambah dengan kepala yang kembali pusing. Bagaimana tidak, pikiran dan energiku terkuras mencari sebuah tema untuk menulis cerita.

Aku memang senang menulis dari puisi hingga cerita pendek. Pagi ini aku ingin kembali menulis sebuah cerita. Namun entah kenapa hobi menulisku ini terjeda saat aku tidak menemukan ide.

Memang suatu hal yang aneh, saat seseorang suka menulis tidak punya satupun ide, mungkin sama seperti seorang yang senang bermimpi tapi tidak berusaha keras untuk menggapainya.

Aku berbaring di kamar yang agak sempit, rapi dan indah sambil menatap layar laptop yang tak kunjung usai menemukan ide untuk dijadikan bahan tulisan. Segera beranjak keluar menatap sekitar di tengah kesunyian tanpa jejak langkah seorang pun, hanya aliran air selokan yang terdengar.

Majalah TebuirengIklan Tebuireng Online

Namun tetap saja tak menemukan ide untuk ditulis, entah kenapa cara itu tidak ampuh, padahal sekali tak menemukan ide memandang sekitar saja minggu lalu aku bisa membuat tiga tulisan. Aneh batinku.

***

Aku mencoba berpindah tempat, di teras pondok kulihat pohon-pohon mangga, bunga dengan berbagai warna cantik, sepeda onthel yang berjejer rapi. Namun aku masih tidak menemukan satu ide yang terlintas, sedang aku berusaha memutar otak i untuk mendapatkannya.

Angin dingin yang sejuk di pagi ini tak sedikitpun membantuku, ia hanya bisa menyegarkan badanku dari letih kemarin yang tak ada jeda istirahat saking padatnya jam kuliah. Tapi lagi-lagi tak bisa menyegarkan pikiranku.

Terkadang pula, angin hanya menggangguku dengan menambah pekerjaan baru membersihkan daun-daun yang berjatuhan karenanya yang terlalu kencang menyampaikan sapaan paginya.

Aku kembali melangkah letih, arah tujuanku kali ini adalah Museum. Menatap bangunan indah dan megah yang sulit menerka dari mana pemikiran Gus Sholah hingga cipta sedemikian.

Sambil menghayal, mengharap menemukan ide dari pandangan yang sempat tak bisa berpikir diluar nalar kebiasaan tentang ciptanya bangunan itu. Namun aku semakin terlarut dalam kebingungan.

“Entah kapan aku akan kembali menemukan ide itu. Yang pasti aku lelah dan sulit menemukan ide untuk hari ini,” aku mulai terusik dengan diriku sendiri.

Aku beranjak dari khayal yang tak pernah menemukan ide, bergegas wudhu untuk merefresh pikiran dan menuju perpustakaan mini yang terletak di paling sudut kanan kamar, tatanannya berserakan, aku mencoba merapikannya dengan rasa kasih sayang yang besar terhadap buku yang sangat disayangkan sekali tidak ada yang merawatnya.

Keasyikan membaca berbagai buku yang luar biasa membuatku tak bisa mengelak dan lupa waktu, sekali membukanya, diawali diksi indah, buku itu harus aku khatamkan.

Tanpa disadari Aku telah melewatkan banyak waktu di tempat yang membuatku sunyi tak berkata namun berbicara dengan pikiran dan hati.

Tiga jam lebih waktuku bersama dengan lembaran-lembaran menarik yang tak sempat aku baca sebelumnya demi menemukan ide yang sedari tadi tak menemukannya.

***

Matahari mulai tampak dengan cahaya yang cukup menyegarkan dan memberikan warna lebih indah pada hari ini, semoga esok masih bisa memandanginya dengan harap tanpa henti untuk selalu diberikan kesehatan.

Selepas Ashar, aku kembali mencari ide. Aku masih terduduk lesu, memangku diri, seorang diri. Semakin aku berusaha mendapatkan ide, semakin jauh rasanya aku untuk mendapatkannya.

Kali ini aku menuju tempat tidur berbaring sambil memainkan HP, mencoba sedikit lebih santai menghadapi kerumitan ide yang tak segera muncul.

Akhirnya aku punya ide, tapi bukan ide tentang tema cerpen yang akan aku tulis, namun ide agar aku bisa dapat tema cerpen yang akan aku tulis. Aku coba online di Instagram dan Whatsapp, lalu update status agar ada yang membantuku untu mencarikan tema.

Namun, nihil aku tidak mendapatkan komentar pun yang kukira bisa membantu di tengah pencarian yang sangat aku butuhkan. Malah pertanyaan demi pertanyaan yang muncul untuk apa dan tentang apa.

Tak berhenti disitu, aku mencoba cara lain. kali ini aku chat kakak ku untuk dimintai tema cerpen yang sedang menjadi pergulatan tak teratasi dari tadi, tapi aku dicuekin, cuma sekedar dibaca saja pesan yang aku kirim. Aku mulai menyerah hingga aku memilih offline. Aku sudah kehilangan banyak cara menemukan ide.

Angan berteriak sesekali mengeluarkan kekesalan dan kekecewaan, namun aku dibuatnya bingung.

“Kenapa semua orang hari ini telah bekerjasama untuk membuatku putus asa, apa mungkin aku memang tidak bisa menulis cerpen lagi?” Batinku.

Aku mulai lemas, ingin rasanya tidur tapi pikiran terus saja menjalar kemana-mana memaksaku harus tetap produktif menulis.

Aku terus saja berbaring, meratapi nasibku yang mungkin bukanlah seorang penulis. Tak satupun ide kutemukan dari pagi hingga sore ini. Mungkin aku tak berbakat menjadi penulis.

Aku mulai membayangkan para penulis hebat yang menghasilkan berbagai tulisan baik berupa novel atau ratusan cerpen, sedang aku hanya kebingungan saat hendak menulis satu cerpen saja.

Memang kebanyakan para penulis hebat itu tak lelah untuk berusaha mereka juga membaca dari bacaan yang berkualitas pula, tak sepertiku yang sukanya membaca hal-hal yang sifatnya bucinisme.

“Aku berharap semoga usahaku yang hampir seharian tak menjadi sia-sia meskipun sudah hampir putus asa.” Aku masih terus bersemangat dan tak mau menyerah.

Seketika pikiranku mulai terbuka dan refresh untuk kembali diajak berpikir. Aku bangkit mengakhiri rebahan yang tak membuahkan hasil, segera aku beranjak menuju meja belajar yang sudah ditinggal tanpa aku matikan terlebih laptop yang sudah kubuka tadi.

Sekitar satu jam aku telah menyelesaikan tulisan yang tak tahu gimana akhir ceritanya, tapi masih perlu diedit untuk penyempurnaan dan keindahan kata-kata yang dipilih.

Akhirnya usahaku tak sia-sia setelah lama berpikir menciptakan tema untuk sebuah tulisan yang sangat aku harapkan untuk diterbitkan di sebuah majalah pesantren. Ide itu kutemukan saat aku percaya bahwa seseorang akan tetap bisa menulis sekalipun tidak punya ide, karena ide muncul saat seseorang mau menulis. Dan yang terpenting menulis apa yang hendak mau ditulis, sekalipun kadang berupa kemustahilan yang susah untuk dipahami.

Tapi tetaplah menulis. Bukan, memikir apa yang mau ditulis. Dan alhasil aku menuliskan cerita tentang kejadian hari ini dari pagi hingga sore, tentang cara mendapatkan sebuah tema yang tak seorangpun membantuku untuk mendapatkannya. Aku berdesak kagum pada diri sendiri, akhirnya tahap menulisku sampai juga pada tahap penyelesaian.

*Mahasantri Mahad Aly Hasyim Asy’ari Tebuireng.

SebelumnyaAl-Qur’an Mengakui Kesetaraan Gender
BerikutnyaMemahami Iman, Islam, dan Ihsan ala Gus Dur