“Sabar itu nggak ada batasnya, kalau ada batasnya berarti tidak sabar.”

(KH. Abdurrahman Wahid)

Oleh: Quratul Adawiyah*

Setiap orang tentunya ingin sukses dalam mencapai segala keinginannya, dan tentunya untuk mencapainya hanya dapat diraih dengan kerja keras atau ikhtiar yang sungguh-sungguh serta tak lepas dari doa. Dalam ikhtiar ini, seseorang perlu bersabar menjalani setiap prosesnya. Al-Quran menjelaskan bahwa sabar adalah salah satu bentuk meminta tolong kepada Allah selain shalat.

Majalah TebuirengIklan Tebuireng Online

وَاسْتَعِيْنُوْا بِالصَّبْرِ وَالصَّلٰوةِ ۗ وَاِنَّهَا لَكَبِيْرَةٌ اِلَّا عَلَى الْخٰشِعِيْنَۙ

“Dan mohonlah pertolongan (kepada Allah) dengan sabar dan shalat.” (QS. Al-Baqarah [2]:45)

Dalam hadisnya, Nabi bahkan mengatakan bahwa sabar adalah bagian dari iman, “Sabar adalah setengah dari iman dan keyakinan adalah seluruh keimanan.” (HR. Ath-Thabrani dan Al-Baihaqi). Ibnu Qayyim Al-Jauziyah dalam kitab Al-Fawa’id menegaskannya, “Kedudukan sabar dalam iman laksana kepala bagi tubuh. Apabila kepala sudah terpotong maka tidak ada lagi kehidupan di dalam tubuh.”

Ikhtiar adalah kewajiban manusia, sementara Allah yang menentukan takdirnya. Manusia tidak pernah tahu takdirnya, dan karena itu mesti terus belajar berikhtiar untuk menemukan dan menjalai takdirnya itu sampai akhit hayat. Ketika dalam proses ikhtiar ini ada sesuatu yang manusia rasakan sulit atau ia anggap merugikannya.

Pada hakikatnya itu adalah ujian sementara yang mesti harus disikapi yaitu dengan bersabar, menahan diri sejenak untuk memikirkan permasalahan yang dihadapi dengan pemikiran dan hati yang jernih, mencari solusinya, kemudian berikhtiar lagi dengan cara-cara lain yang lebih baik. Karena, seperti firman-Nya dalam Al-Qur’an.

Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum sebelum mereka mengubah keadaan diri mereka sendiri.” (QS. Ar-Rad[13]: 11)

Sabar dalam hal ini, seperti dikatakan Imam Al-Ghazali dalam kitab Ihya ‘Ulumuddin, termasuk bentuk sabar dalam ketaatan kepada Allah, karena itu adalah kewajiban dari Allah yang dibebankan kepada setiap manusia. Maksud dalam ketaatan yaitu melaksanakan tugas atau kewajiban dengan ikhlas, tidak menggerutu atau mengeluh saat menghadapi kesulitan di dalamnya. Namun, apabila seseorang berkeluh kesah dan melaksanakannya, maka yang demikian itu belum termasuk sabar, terutama dalam hal ibadah kepada Allah.

Dalam sebuah buku karya Badrul Munier Buchori dijelaskan bahwa Rasulullah SAW, dalam sebuah hadis, membagi sabar menjadi tiga bagian yaitu:

Pertama, sabar dalam menghadapi musibah. Rasulullah tidak serta merta hidup tanpa musibah, banyak sejarah mencatat bahwa masa kecil Rasulullah penuh dengan berbagai kedukaan, bahkan pada waktu itu disebut dengan yaumul hazn. Sesuai dalam firman-Nya:

وَلَنَبْلُوَنَّكُمْ بِشَيْءٍ مِنَ الْخَوْفِ وَالْجُوعِ وَنَقْصٍ مِنَ الْأَمْوَالِ وَالْأَنْفُسِ وَالثَّمَرَاتِ وَبَشِّرِ الصَّابِرِينَ (155) الَّذِينَ إِذَا أَصَابَتْهُمْ مُصِيبَةٌ قَالُوا إِنَّا لِلَّهِ وَإِنَّا إِلَيْهِ رَاجِعُونَ (156).

Artinya: dan sungguh kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa, dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar, yaitu orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka mengucapkan: “Inna lilla wa innaa ilaihi raji’un.” (QS. Al-Baqarah[2]: 155-1556)

Kedua, sabar dalam menaati perintah Allah. Di zaman yang serba instan ini, tidak sedikit orang yang ingin merasakan kenikmatan yang instan tanpa bersusah payah terlebih dahulu, padahal segala sesuatu butuh proses seperti halnya dalam berdakwah sebagaimana yang dicontohkan Rasulullah makna kesabaran dalam proses dakwahnya. Kesabaran Rasulullah dalam dakwahnya layak dijadikan motivasi bagi kita untuk meneladaninya. Sesuai dalam firman-Nya.

فَاصْبِرْ لِحُكْمِ رَبِّكَ وَلَا تُطِعْ مِنْهُمْ آثِمًا أَوْ كَفُورًا

Artinya: “Maka bersabarlah kamu untuk (melaksanakan) ketetapan Tuhanmu, dan janganlah kamu ikuti orang yang berdosa dan orang yang kafir di antara mereka.” (QS. Al-Insan [76]:24).

Ketiga, kesabaran dalam menghadapi maksiat. Sebagai umat muslim yang baik, seharusnya kita memiliki sifat merasa selalu siawasi oleh Allah, sehingga dengan demikian, kita selalu merasa bahwa kita tidak bisa sembunyi-sembunyi dan merasa aman dari pengawasan Allah, karena sesungguhnya tidak ada yang luput dari pandangan Allah.

إِنَّ رَبَّكَ لَبِالْمِرْصَادِ

Artinya: “Sesungguhnya, Tuhanmu benar-benar mengawasi.” (QS. Al-Fajr [89]: 14).

Namun apabila kita merasa bahwa telah melakukan dosa dengan berbuat maksiat, maka hendaknya segera untuk memohon ampun kepada Allah dengan bertaubat dan berusaha tidak mengulaginya. Semoga kita bisa senantiasa bersabar dalam kehidupan di dunia ini.

*Mahasantri Ma’had Aly Hasyim Asy’ari

SebelumnyaHukum Wanita Menolak Lamaran Pernikahan
BerikutnyaMempertanyakan Khazanah Keilmuan Kitab Kuning di Pesantren Tebuireng