Pembukaan Mukernas Forum Pesantren Muadalah Salafiyah.

Tebuireng.online– Forum Komunikasi Pesantren Muadalah (FKPM) Salafiyah, menggelar Musyawarah Kerja Nasional (MUKERNAS) di Pesantren Tebuireng, Senin (22/11).

“Melalui Musyawarah Kerja Nasional ini, semoga dapat membawa perubahan yang signifikan dalam memajukan pendidikan muadalah di Indonesia,” ungkap Pengasuh Pesantren Tebuireng, KH. Abdul Hakim Mahfudz saat membuka acara.

Menurut Ketua FKPM Salafiyah, KH. Ahmad Taufiq, Mukernas FKPM Salafiyah dengan tema “Penguatan Jaringan Pesantren Muadalah Salafiyah” ini merupakan pertemuan ketiga setelah  2018 lalu.

“Pertemuan ini merupakan pertemuan ketiga. Adapun pertemuan pertama itu dilaksanakan di Kajen, Pati pada tahun 2018 setelah terbitnya undang-undang pesantren,” ungkap KH. Ahmad Taufiq.

Sedangkan pertemuan kedua, lanjutnya, dilakukan di Pondok Salafiyah Pasuruan pada tahun 2019. Kemudian Mukernas ini sempat vacum sementara, akibat pandemi yang ada di Indonesia.

Majalah TebuirengIklan Tebuireng Online

Acara ini dihadiri oleh berbagai kepala pondok pesantren se Indonesia yang menjalankan pendidikan muadalah Salafiyah. Setidaknya ada 26 pesantren yang terkonfirmasi hadir dalam acara ini, dari 35 pesantren muadalah salafiyah se Indonesia.

Selain itu, Sekjend FKPM, KH Lukman Haris, Tremas, juga menyampaikan sambutan dalam acara Mukernas ini.

“Salah satu kaidah yang sangat masyhur sekali bagi kita ‘Al-muhafadhatu ‘ala qodimi al-shalih wa al-akhdzu bi al-jadid al-ashlah (menjaga tradisi lama yang baik dan mengambil inovasi terbaru yang lebih baik). Dalam Al-muhafadhatu ‘ala qodimi al-shalih memang iya, telah kita terapkan; Jurumiyah, ‘imrithi, fathul wahab, dan lain-lain masih eksis hingga saat ini,” ungkap Kiai Lukman.

Namun menurut Sekjend FKPM itu, kita belum sepenuhnya menerapkan al-akhdzu bi al-jadid al-ashlah, berinovasi kepada yang lebih baik.

Pewarta: Al Fahrizal

SebelumnyaMengenal Perempuan Sebagai Khalifah fil Ardh
BerikutnyaAgar Otak Tidak Lemot, Lakukan 8 Hal Sederhana Ini