Mantan Rektor UIN Malang, Prof. Imam Suprayogo menyampaikan ceramah dalam pembukaan acara Resolusi Jihad dan Hari Santri Nasional di Tebuireng.

Tebuireng.online—Dalam forum pembukaan rangkaian acara Resolusi Jihad dan Hari Santri Nasional, di gedung KH. Yusuf Hasyim, Jumat (22/10), Prof. Imam Suprayogo menyampaikan beberapa hal terkait perbedaan pendidikan pesantren hingga non pesantren.

Saat menyampaikan ceramah, Prof. Imam bercerita pernah ditantang oleh Gus Sholah. “Pak, silakan pilih mahasiswa (tidak berlatar belakang pesantren) yang paling pintar, bandingkan nanti dengan santri saya yang paling bodoh. Di antara mereka siapa yang lebih beradaptasi di masyarakat,” ungkap Gus Sholah pada Prof. Imam.

Prof. Imam memahami bahwa untuk mendidik seseorang, kita harus tahu siapakah manusia sesungguhnya itu. Sebenarnya yang terlihat pada diri kita adalah tubuh. Itu sebabnya kita mengatakan ‘kaki saya’, ‘tangan saya’, ‘otak saya’.

“Nah, berarti ada “saya” dalam tubuh kita. Lalu di manakah letak “saya”?. Posisinya adalah di dalam tubuh kita, yakni “ruh” atau “hati” kita. Otak, tangan, dan kaki sebenarnya hanya perangkat/pembantu. Penggerak sebenarnya adalah ruh,” terang Ketua Yayasan Unhasy itu.

Atas dasar tersebut, Prof. Imam menilai bahwa kesalahan dari pendidikan formal non-pesantren dalam pendidikannya hanya mengena pada “pembantu” ruh. Maka dari itu, baginya inilah alasan pesantren merupakan tempat pendidikan yang tepat mendidik obyeknya.

Majalah TebuirengIklan Tebuireng Online

“Manusia itu terdiri atas jasmani dan rohani. Jasmani bisa wafat. Tetapi rohani tidak pernah wafat. Dari situ alasan orang meninggal dikatakan hudhur, wangsul, mantuk, kondur, roji’un. Dan patut kita yakini KH. M. Hasyim Asy’ari melihat kita saat ini,” ungkap Prof. Imam masih dalam ceramahnya.

Dalam waktu yang sama, Prof. Imam mengungkapkan kedekatannya dengan Pesantren Tebuireng.

“Saya punya hubungan dekat dengan pesantren ini, lanjut Prof. Imam, sejak menjadi mahasiswa saya jadi tukang ketiknya Gus Dur, saat itu beliau menjadi dosen sekitar tahun 70-an. Semua kegiatan Gus Dur, mulai dari seminar, mengisi acara, dan lain-lain. Saya sering menulis laporan beliau dengan rapi dan tepat waktu,” ungkap mantan Rektor UIN Malang ini.

Ia juga bercerita saat Gus Sholah mendirikan Universitas Hasyim Asy’ari, saat itu Prof. Imam yang masih menjabat Rektor UIN Malang dipanggil Gus Sholah, dan diceritakan tentang rencana Gus Sholah untuk membangun Unhasy lebih maju dan lainnya, hingga akhirnya Gus Sholah menjabat Rektor di Unhasy.

Untuk diketahui, rangkaian acara peringatan Resolusi Jihad ini dibuka langsung oleh Pengasuh Pesantren Tebuireng, KH. Abdul Hakim Mahfudz, di gedung Yusuf Hasyim Tebuireng.

Pewarta: Indra

SebelumnyaMeneladani Spirit Literasi Nabi Muhammad
BerikutnyaMengenal 3 Tokoh Tebuireng, Kontributor Pendidikan Islam di Indonesia