Tebuireng.online– Minggu (24/10/2021), Pasca Sarjana Universitas Hasyim Asy’ari (UNHASY) mengadakan acara webinar nasional “Kontribusi Hadratussyaikh KH. M. Hayim Asy’ari, KH. A. Wahid Hasyim dan KH. Saifuddin Zuhri dalam Hukum Keluarga Islam dan Pendidikan Agama Islam” secara daring melalui aplikasi zoom dan youtube. Prof. Dr. H. Ali Mudzakir, M.A., menyampaikan hal terkait Pesantren dan Negara dalam Pemikiran KH Wahid Hasyim.

“Sesungguhnya dalam lapangan pengetahuan, tidak perlu ada perselisihan dan perpecahan; dan juga dalam pandangan Islam demikian pula halnya. Dan Islam pada hakikatnya tidak mengenal diskriminasi atau sikap membeda-bedakan, juga dalam lapangan pengetahuan.” Salah satu kata-kata yang beliau kutip dari KH Wakhid Hasyim.

Rektor Universitas Wahid Hasyim Semarang tahun 2021-2025 ini mengatakan bahwa Kiai Wahid Hasyim merupakan Pahlawan Nasional, tokoh pembeharu pesantren yang mempunyai power besar terhadap perkembangan pesantren hingga saat ini. Kiai Wahid Hasyim menorehkan jasa besar bagi kemajuan Pendidikan Islam Indonesia adalah gagasan yang cemerlang muncul sebagai harapan Kiai Wahid terhadap kemajuan umat Indonesia. Melalui Pesantren Tebuireng beliau banyak melakukan perubahan mendasar, seperti; memasukkan bahasa asing, sistem klasikal, memasukkan pengetahuan-pengetahuan umum di pesantren.

Lanjutnya, Kiai Wahid Hasyim merupakan generasi penerus ke-dua yang melalui Pesantren Tebuireng yang mempunyai perhatian yang besar dan aktif dalam usaha memperbarui sistem kelembagaan Pendidikan Islam.

Majalah TebuirengIklan Tebuireng Online

Pria kelahiran Demak ini mengatakan perlu diperbaruinya pesantren, karena pesantren sering disebut sebagai lembaga pendidikan tradisional. Disebut tradisional karena lembaga ini sudah ada sejak ratusan tahun yang lalu sebelum Indonesia merdeka dan tidak terpisahkan dari sistem kehidupan masyarakat Islam Indonesia, bahkan sebagai satu-satunya pendidikan Islam asli Indonesia adalah pesantren. Maka pesantren disebut juga sebagai lembaga pendidikan indigenuous; produk budaya asli peradaban Indonesia. Pesantren seringkali diasosiasikan dengan keterbelakangan dalam segala hal: fasilitas, teknologi, metode pembelajaran, dan bahkan kurikulumnya. Padahal sesungguhnya metode sorogan tidak lain adalah tutorial, dan juga bandongan itu dibenarkan dalam pendidikan.

“Tahun 1933, Kiai Wahid Hasyim kembali dari Saudi ke Tebuireng memperbaiki sistem pendidikan pesantren. Oleh ayahnya disarankan membuka madrasah sendiri. Tahun 1934 (usia 20 th) mendirikan Madrasah Nizamiyah, memasukkan pelajaran umum, bahasa Jerman dan Inggris. Tebuireng merupakan pesantren pertama memasukkan pelajaran umum dan bahasa asing. Kiai Wahid Hasyim melakukan terobosan dengan memperbaharui kurikulum pesantren, yang merupakan bentuk kesadaran beliau akan tantangan zaman yang senantiasa berkembang.

Kiai Wahid Hasyim, menurut Prof. Ali Mudzakir, memiliki kepribadian lintas batas, tidak sekedar dibentuk dari gesekan dialektikanya dengan komunitas pesantren dan NU, tapi dengan berbagai komunitas seperti dengan organisasi pergerakan Islam, partai politik dan juga birokrasi pemerintahan ketika beliau menjabat sebagai Menteri Agama. Indonsia merupakan negara yang masih sangat muda, beliau Kiai Wahid Hasyim sebagai tokoh muda yang memiliki pemikiran-pemikiran setara dengan tokoh-tokoh senior pada zamannya. Karir politik Kiai Wakhid Hasyim dimulai dari sebagai ketua direktur majalah bulanan milik NU yakni “Suluh Nahdatul Ulama” yang merupakan mimbar dan menara NU yang ia kendalikan dari Pesantren Tebuireng.

Prof. Ali Mudzakir menjelaskan beberapa poin dari peran KH Wahid Hasyim:

Konvergensi Pesantren & Negara

Kebijakan Kiai Wahid Hasyim sebagai Menteri Agama RI saat itu untuk menyetujui berdirinya Perguruan Tinggi Islam dari embrio Fakultas Agama UII, nantinya merupakan mata rantai cita-cita umat Islam semenjak sebelum kemerdekaan. Perguruan Tinggi Islam menjadi cikal bakal beberapa institusi pendidikan tinggi Islam yang kini telah berkembang banyak dan mengalami tranformasi keilmuan interdisipliner sebagai bagian dari ikhtiar mempersiapkan kader bangsa yang lebih baik dimasa mendatang. Kebijakan yang kedua adalah mengeluarkan peraturan pemerintah tertanggal 20 Januari 1950, yang mewajibkan pendidikan dan pengajaran agama di lingkungan sekolah umum, baik negeri maupun swasta.

Pesantren; mozaik nusantara

Dalam catatan sejarah menunjukkan, respon pesantren sebagai lembaga pendidikan tradisional, terhadap sistem pendidikan modern yg diperkenalkan Belanda dibilang lambat, untuk tidak mengatakan tidak sama sekali. Hal ini dapat dipahami mengingat, dalam doktrinasi pesantren, Belanda adalah orang kafir; musuh Islam. Segala hal yang berasal dari orang kafir dianggap tidak baik. Karenanya, tak heran bila sekolah rakyat yang didirikan Belanda cenderung kurang mendapat sambutan yang positif dari masyarakat Istilah Karel Stenbrink, pesantren di Jawa cenderung “menolak dan mencontoh” terhadap sistem kolonial

Modernisasi

Hal pertama yang dilakukan oleh Kiai Wahid Hasyim adalah membongkar paradigma pesantren dari yang asalnya teosentris (ketuhanan) ke antroposentris (kemanusiaan). Bagi Kiai Wahid Hasyim, tujuan pembelajaran di pesantren tidak hanya berdimensi ketuhanan, namun bermanfaat untuk kemanusiaan. Pendidikan harus memenuhi tuntutan duniawi dan ukhrowi, moralitas dan akhlak. Titik tekannya pada kemampuan kognisi (ilmu), afeksi (iman), juga psikomotor (amal, akhlak yang mulia). Dalam pandangan Kiai Wahid Hasyim, tujuan pesantren adalah mencetak santri yang berkepribadian muslim dan bertaqwa kepada Allah serta memiliki ketrampilan sehingga santri dapat mandiri dan berkiprah dalam berbagai aspek kehidupan. Pembaharuan-pembaharuan dalam dunia pendidikan yang diciptakan oleh Kiai Wahid Hasyim khususnya pendidikan Islam di Indonesia mengarah modernisasi. Untuk peningkatan literasi, Kiai Wahid Hasyim mendirikan sebuah perpustakaan, yang tersedia 1000-an judul buku, dari buku-buku teks dan karya ilmiah popular baik yang ditulis dalam bahasa Arab, Inggris, Belanda, Indonesia dan Jawa.

Paradigma Kiai Wahid Hasyim

Dalam pandangan Kiai Wahid Hasyim, tujuan pesantren adalah mencetak santri yang berkepribadian muslim dan bertaqwa kepada Allah serta memiliki keterampilan sehingga santri dapat mandiri dan berkiprah dalam berbagai aspek kehidupan. Tujuan dari pemikiran Kiai Wahid Hasyim adalah paradigma pendidikan Islam inklusif. Sikap inklusif ini sebaiknya dimiliki oleh civitas akademika pelaku pendidikan Islam di Indonesia. Reformasi radikal yang dilakukan oleh Kyai Wahid terhadap model pendidikan Islam yang dikenal konservatif tidak lain adalah bagian dari usaha membentuk model pendidikan Islam yang adaptif terhadap isu- isu aktual. Hal ini dilakukan untuk mendobrak mainstream tentang kekolotan pesantren yang hanya bergumul dengan kitab-kitab klasik.

Modernisasi pesantren

Modernisasi meliputi sistem pendidikan pesantren seperti mendirikan Madrasah Nizamiyah di mana 70% kurikulumnya berisi materi pelajaran umum, dan 30 % agama di ruang kelas. Dari sisi metodologi, Kiai Wahid Hasyim menerapkan sistem klasikal, dengan jenjang dan tingkatan yang jelas. Selain itu, Wahid Hasyim mengusulkan metode tutorial sebagai pengganti dari sistem bandhongan, meski kemudian tidak disetujui oleh KH. Hasyim Asy’ari. Kiai Wahid Hasyim mendirikan beberapa institusi pendidikan baru misalnya PGA (Pendidikan Guru Agama), dan PTAIN (Perguruan Tinggi Agama Islam Negeri)., memperbaiki kelemahan pendidikan umat Islam Indonesia dan membangun jembatan yang memisahkan dua sistem pendidikan yang sudah berkembang saat itu, yaitu sistem Barat untuk sekolah dan Islam bagi pesantren.

Pendidikan menuju era 5.0

Era super smart society (society 5.0) sendiri diperkenalkan oleh Pemerintah Jepang pada tahun 2019, dibuat sebagai antisipasi dari gejolak disrupsi akibat revolusi industri 4.0, yang menyebabkan ketidakpastian yang kompleks dan ambigu (VUCA). Dalam menghadapi era society 5.0, dunia pendidikan berperan penting dalam meningkatkan kualitas SDM. Selain pendidikan beberapa elemen dan pemangku kepentingan seperti pemerintah, Organisasi Masyarakat (Ormas) dan seluruh masyarakat juga turut andil dalam menyambut era society 5.0 mendatang. Untuk menjawab tantangan Revolusi industri 4.0 dan Society 5.0 dalam dunia pendidikan diperlukan kecakapan hidup abad 21 atau lebih dikenal dengan istilah 4C (Creativity, Critical Thingking, Communication, Collaboration).Sementara abad 21 kompetensi yang diharapkan dimiliki oleh pelajar/santri adalah memiliki kemampuan 6 Literasi Dasar (literasi numerasi, literasi sains, literasi informasi, literasi finansial, literasi budaya dan kewarganegaraan). Selain itu juga memiliki kompetensi lainnya yaitu mampu berpikir kritis, bernalar, kreatif, berkomunikasi, kolaborasi serta memiliki kemampuan problem solving. Dan yang terpenting memiliki perilaku (karakter) yang mencerminkan profil pelajar pancasila seperti rasa ingin tahu, inisiatif, kegigihan, mudah beradaptasi memiliki jiwa kepemimpinan, memiliki kepedulian sosial dan budaya.

Pewarta: Almara Sukma

SebelumnyaKontribusi Hadratussyaikh KH. M. Hasyim Asy’ari untuk Agama dan Negeri
Berikutnya3 Warisan Besar Hadratussyaikh KH. M. Hasyim Asy’ari