KH. Junaidi Hidayat, menjelaskan pesan moral Maulid Nabi pada santri Tebuireng dalam acara memperingati Maulid Nabi Muhammad SAW, Senin (18/10).

oleh: KH. Junadi Hidayat*

Nabi Muhammad adalah seorang ilmuwan, muallim. Jadi tugas Nabi adalah sebagai penyempurna keilmuan. Terbukti ayat Al-Quran yang pertama kali diturunkan berbicara mengenai ilmu—surah Al-‘Alaq: 1-5.

Begitupun halnya ketika Allah menciptakan Adam, Allah berbicara kepadanya mengenai ilmu. Kok begitu? Karena dengan ilmu manusia betul-betul mampu menjadi manusia yang sesungguhnya.

Hidup manusia ini diciptakan oleh Allah dengan dimensi yang sangat unik dan berbeda dengan makhluk lain. Kalau malaikat diciptakan Allah itu dalam keadaan final. Malaikat tidak punya ambisi dan keinginan. Sebagaimana dalam QS. Al-Tahrim: 6 :

 …لَّا يَعْصُوْنَ اللّٰهَ مَآ اَمَرَهُمْ وَيَفْعَلُوْنَ مَا يُؤْمَرُوْنَ

Majalah TebuirengIklan Tebuireng Online

Mereka (malaikat) itu tidak ingin menikah, jadi penguasa, atau memiliki jabatan. Malaikat diciptakan dengan standar yang tunggal, yakni melakukan tugas-tugas Allah. Seperti halnya hewan. Mereka itu diciptakan dengan kondisi final.

Berbeda dengan manusia. Manusia diciptakan Allah ini dalam keadaan proses. Coba kita lihat, ketika bayi dilahirkan apakah untuk bisa berdiri membutuhkan proses? Ya, itu pasti. Bandingkan dengan kucing, sudah lahir tanpa dukun bayi sekaligus bisa langsung berdiri.

Dari sini kita tahu bahwa tingkat keberhasilan manusia dapat diukur melalui prosesnya menjalani kehidupan ini. Dan proses di sini adalah ilmu. Waja’alna likull Syai’in Sababa. Segala hal itu pasti memiliki sebab. Contoh, untuk pintar itu tidak mungkin tanpa belajar. Yang menjadi sebab pintar adalah belajar.

“Sebab” sendiri dalam disiplin ilmu Tauhid itu ada dua macam. Pertama, sebab yang ‘adiyah (lumrah). Contohnya seorang bayi lahir pasti ada sebabnya, yakni kedua orang tuanya. Nah, sifat dari sebab ini adalah jaiz  bagi Allah, bukan merupakan sebuah keharusan. Artinya Allah sangat mungkin untuk menciptakan manusia tanpa melalui perantara kedua orang tua—Adam dan Hawa misalnya, atau Isa bin Maryam. Namun Allah masih punya hak membuat sebab yang ghairu ‘adiyah (tidak biasa).

Nabi Muhammad itu diciptakan oleh Allah adalah untuk memanusiakan manusia. Kuncinya untuk memastikan bahwa manusia menempati posisi yang berakhlak karimah. Karena manusia dalam pertarungan hidup ini dua kemungkinan.

1) Akal yang dikalahkan oleh syahwat, maka ia fa ayyuma ghalabat al-syawah al-‘aqla fahuwa syarrun min al-bahimah (jika syahwat seseorang mengalahkan akalnya, maka ia lebih hina dari binatang).

2) sebaliknya, fa ayyuma ghalabat al-‘aqla al-‘syahwata fahuwa khairun min al-malaikah (apabila akal itu dapat mematahkan syahwat, maka ia lebih baik daripada malaikat. Maka kuncinya di ilmu.

Jadi kita sebagai santri harus cerdas. Apalagi kita berada di Tebuireng yang memiliki puluhan alim ulama. Hal ini harus dimanfaatkan. Saya ini tidak pernah mondok di mana-mana, kecuali di Tebuireng. Jadi darah saya murni darah Tebuireng.

Saya belum pernah melihat orang yang mampu mempunyai kekuatan hidup melebihi orang pesantren. Nabi dulu itu ditinggal oleh Ayahnya, ditinggal oleh ibunya, menjadi yatim piatu. Tetapi Allah mengawal itu.

Jadi kita harus paham bahwa kehidupan yang cenderung banyak fasilitas, cenderung akan menyebabkan kemanjaan dalam hidup. Wong kalau mondok itu tidur di semua tempat itu bisa. Dulu itu kalau tidur yang dijadikan bantal itu adalah karung isi beras. Jadi kalau berasnya sering dipakai otomatis bantal kita semakin menipis.

Orang pintar itu gampang kok, semua sekolah, kurikulum apapun bisa menjadikan orang pintar. Tapi kalau membentuk diri yang tahan banting, hanya bisa dibentuk melalui pondok pesantren. Makanya momentum di pondok ini harus dimaksimalkan. Apalagi jika kita berada di Tebuireng yang menjadi miniatur Indonesia.

Dengan memaksimalkan diri menjadi santri, maka akan ada momentum besar yang memanggil kita di masyarakat nanti. Maka di situlah nilai ilmu manfaat akan muncul. Dan definisi ilmu manfaat adalah ilmu yang heandleing problem, yakni yang dapat menanggapi permasalahan.

Ditranskip oleh: Indra Yuniar

Sebelumnya6 Rekomendasi Penting Hasil Mu’tamad 2021
BerikutnyaApa Itu Integritas? Simak Kisah Ini