KH. Lukman Hakim Saifuddin, menghadiri webinar Pscasarjana Unhasy, secara virtual Zoom, (24/10).

Tebuireng.online Menteri Agama periode 2014-2019, KH. Lukman Hakim Saifuddin, mengajak santri, mahasiswa, dan para dosen agar mampu melihat peluang dalam berkontribusi terhadap keislaman dan keindonesiaan, seperti yang telah dilakukan oleh KH. Hasyim Asy’ari, KH. Wahid Hasyim, dan KH. Saifuddin Zuhri.

“Peluang tersebut dapat dilihat dari hal yang telah dilakukan oleh para pendahulu kita, yakni Kiai Hasyim, Kiai Wahid, dan Kiai Saifuddin Zuhri. Di mana ketiga tokoh ini mampu melakukan upaya memadukan nilai-nilai keislaman dan keindonesiaan,” ungkapnya dalam forum webinar Pascasarjana Unhasy, (24/10).

Sementara mengenai kontribusi, lanjut Lukman Hakim, kita harus melihat kepada tantangan keislaman dan keindonesiaan. Paling tidak ada 3 tantangan utama yang belakangan ini semakin muncul.

“Adapun 3 tantangan itu adalah destruktif atas nama Islam, munculnya tafsir keagamaan yang tidak mendasar, umat beragama mengancam sendi-sendi kehidupan berbangsa dan bernegara,” terangnya.

Maksud dari tantangan destruktif atas nama Islam, menurutnya adalah fenomena yang muncul saat ini berbanding terbalik dengan yang seharusnya, dimana ajaran islam yang inklusif (melebur menyatu, mengayomi, dan melindungi di tengah keberagaman) yakni memanusiakan manusia, malah menjadi eksklusif, mengingkari nilai-nilai kemanusiaan.

Majalah TebuirengIklan Tebuireng Online

“Kemudian segregasi (mengotak-kotakkan, dan memisahkan), berlawanan dengan nilai Islam yang integrasi, konfrontasi (permusuham, menyalahkan, memaki, berdakwah dengan ungkapan kebencian, mencela bahkan mengkafirkan), bertentangan dengan nilai koperatif dimana seharusnya bekerja sama, bersinergi, saling mengisi dan saling melengkapi,” imbuhnya.

Sedangkan yang dimaksud dengan tantangan munculnya tafsir keagamaan yang tidak mendasar, menurut Lukman Hakim, yaitu fenomena munculnya tafsir-tafsir Al Quran dan Hadis dan ilmu keislaman yang tidak berdasarkan kaidah yang mestinya diikuti dan dilalui.

“Muncul  klaim kebenaran yang menyatakan hanya fahamnya yang benar, menyalahkan yang lain, serta memaksa untuk mengikuti fahamnya yang dianggap benar dengan cara kekerasan, yang pada akhirnya mengingkari nilai-nilai kemanusiaan, dan kemerdekaan beragama. Padahal keberagaman pemahaman yang dimiliki hakikatnya sunnatullah sebagai wujud dari keterbatasan manusia itu sendiri,” tuturnya.

Selain dua hal itu, Lukman Hakim juga menjelaskan tantangan ketiga yaitu umat beragama mengancam sendi-sendi kehidupan berbangsa dan bernegara. Yaitu munculnya fenomena orang beragama, orang berislam justru merusak mengoyak ikatan-ikatan kebangsaan, berislam tapi merongrong, mengancam, bahkan meruntuhkan sendi-sendi kehidupan berbangsa dan bernegara.

“Tiga tantangan ini yang dapat dijawab oleh perguruan tinggi dengan mengkaji meneliti, dan melakukan studi perkembangan  titik ekstrem dalam memahami ajaran islam. Namun perlu diingat lagi bukan islamnya, namun cara berislam, karena islam sudah moderat sebagai ciptaan Allah yang pasti sempurna,” tegasnya.

Pewarta: Sayidatul Afifah Rusda

SebelumnyaAjarkan Santri Cara Mencintai Nabi Muhammad
BerikutnyaKisah Zainab binti Muhammad SAW Menepati Janji