“Menulislah! Nggak usah banyak alasan: belum ada inspirasi, belum ada ide, belum nemu lead yang nonjok. Jika tidak, kertas di hadapanmu, layar gadget di hadapnmu tetap tanpa koma dan titik sekalipun!.” (Kang Maman)

Oleh: Adawiyah*

Membaca, menulis, membaca lagi, menulis lagi. Kata- kata yang sering kita dengar dari para pencinta literasi, meskipun pada kenyataan banyak yang mengatakan bahwa menulis itu bukan cuma sulit, tapi sulit sekali. Ada juga yang bilang, menulis itu gampang. Bahkan gampang sekali. Namun yang sangat penting dari perkara menulis itu yaitu menulis apa yang kita pikirkan bukan memikirkan apa yang kita tulis,  apalagi merenungi kertas kosong di depan mata yang menatap nanar dan kosong sungguh, tak akan menghasilkan apa-apa dibanding menulis di atas kertas itu, apa saja meski tulisan buruk sekali!.

Memang perkara menulis bukanlah suatu yang mudah dan bukan pula sesuatu yang sulit namun yang harus kita ketahui mau tidak mau kita harus bisa menulis. Sebagaimana yang dikatakan Seno Gumira Ajidarma, “Boleh bisa apa saja, termasuk menulis. Boleh tidak bisa apa saja, kecuali menulis”. Dari perkataan tersebut sangat penting sekali bahwa kita harus bisa menulis karena selain kita bisa berkontribusi dengan menuangkan pikiran lewat tulisan , dengan tulisan pula hidup kita tidak dilupakan oleh manusia saat tiada nanti. Jadi, jika kita tak ingin dilupakan oleh manusia nanti, maka ada dua pilihan:

Majalah TebuirengIklan Tebuireng Online
  1. Lakukan sesuatu yang layak ditulis
  2. Tulislah sesuatu yang layak dibaca

Agar nama kita dikenang sejarah, jadilah manusia yang perjalanan hidupnya penuh arti. Atau kalau perjalanan hidup kita biasa saja, jadilah penulis yang karyanya abadi.

Menulis adalah salah satu langkah untuk mengabadikan pemikiran. Sesederhana apapun yang kita pikirkan, hakikatnya itu adalah karunia Tuhan yang sayang sekali untuk diabaikan begitu saja. Pemikiran yang tak dituliskan, sangat rawan hilang begitu saja. Beruntunglah orang yang menulis, karena mereka tidak melewatkan begitu saja detik demi detik kehidupannya. Mereka tidak membiarkan pemikiran yang dihadiahkan oleh Tuhan berlalu begitu saja. Mereka mencatatnya, membagikannya, hingga membuatnya menjadi sesuatu yang bermakna, buat diri sendiri maupun orang lain.

Namun sayangnya dengan perkembangan zaman melihat ribuan buku yang terdapat di toko-toko besar dan perpustakan yang terpapang di sana, mayoritas penulisnya adalah laki-laki. Bahkan tidak usah jauh-jauh kita ke toko buku ataupun ke perpustakaan. Coba ambil saja buku-buku yang ada di rumah lalu kumpulkan semuanya dan bandingkan lebih banyak mana antara penulis laki-laki dengan perempuan?.

Maka kita pun akan mendapati suatu fenomena yang menarik. Mengapa buku-buku yang beredar saat ini lebih dominasi oleh penulis laki-laki dibandingkan perempuan? Beberapa data menyebutkan bahwa pembaca buku, khususnya buku fiksi lebih banyak dibaca perempuan. Sayangnya, mereka berhenti pada aktivitas membaca saja. Padahal sebenarnya mereka bisa menulis lebih bagus dari apa yang dibaca, karena jika perempuan banyak yang menulis maka banyak pula peluang yang bisa diambil. Selain itu, yang paling tahu persoalan perempuan, paling mengerti tentang hak dan kewajiban, paling paham kondisi emosional khususnya ketika mereka jatuh cinta adalah kaum perempuan itu sendiri.

Tapi apa yang terjadi saat ini? Justru sebaliknya buku-buku tentang perempuan banyak yang ditulis oleh laki-laki seperti halnya buku yang berjudul the perfect muslimah yang mana penulisnya Rifa’I Rif’an. Beliau mengatakan dalam bukunya bahwa itu termasuk salah satu buku yang mengandung penasaran hingga naik cetak ulang berungkali dalam waktu yang sangat cepat. Selain itu beliau menceritakan faktor-faktor susahnya menulis buku tersebut. Di antaranya: hanya sebatas mengira-ngira dan masih bertanya sama perempuan terkait persoalan yang dibahas. Padahal jika buku itu ditulis oleh perempuan lebih mudah menemukan persoalan-persoalan yang mayoritas dihadapi oleh kaum perempuan. Sebab mereka tidak sebatas berasumsi, tapi juga menjalani apa yang hendak ditulis, tidak hanya melihat sebuah fenomena dari luar, tetapi cukup merenungkan apa yang selama ini di alami oleh kaum perempuan itu sendiri.

Untuk kaum perempuan, yuk berkisah dan berceloteh  dengak bait-bait kata supaya dikenang sejarah dengan menungkan lewat tulisan yang tak akan musnah ditelan masa untuk kehidupan selanjutnya. Bukan perempuan jika tidak bisa menulis.

SELAMAT MENULIS UNTUK KAUM PEREMPUAN.


*Mahasantri Ma’had Aly Hasyim Asy’ari

SebelumnyaMenguak Alasan Kang Maman Menjadi Penulis
BerikutnyaMembaca Sejarah Kekuasaan G30S/PKI