Kepala Pondok Putri Pesantren Tebuireng, KH. Fahmi Amrullah Hadzik, mengungkapkan alasan perayaan maulid Nabi Muhammad.

Tebuireng.online– Organisasi Santri Pondok Putri Pesantren Tebuireng (OSPI)  memperingati maulid Nabi Muhammad “Semangat Cinta Rasul dengan Gelora Shalawat”. KH. Fahmi Amrullah, Kepala Pondok Putri Pesantren Tebuireng memperingatkan santri untuk istikamah bershalawat sebagai salah satu wujud cinta Rasulullah.

“Hampir setiap perayaan maulid selalu meriah bahkan sangat ramai dimeriahkan masyarakat. Sebab perayaan ini bukan perayaan biasa akan tetapi memperingati kelahiran manusia paling agung di seluruh jagat raya,” ungkap Gus Fahmi, Kamis (21/10).

Karena pandemi, lanjut Gus Fahmi, tahun tahun kemarin dan saat ini diselenggarakan dengan sederhana yang tak mengundang kerumunan massa.

Le lek niatnya jajan buat maulid kudu apik-apik, ojo sak karepan sebab yang diperingati adalah manusia paling Agung seluruh dunia,” ungkap Gus Fahmi mengutip pesan yang disampaikan oleh ibu Nyai Maimunah, ibu KH. Muhammad Subadar, pesantren di pasuruan.

Dari pesan itu, Gus Fahmi mengibaratkan orang tua yang merayakan ulang tahun anaknya tentu yang terbaik. Apalagi untuk merayakan kelahiran Kanjeng Nabi, tentu lebih dahsyat daripada itu.

Majalah TebuirengIklan Tebuireng Online

“Karena kelahiran kanjeng nabi merupakan  rahmatan lil’alamin. Namanya rahmat bukan hanya untuk orang Islam saja ataupun orang baik saja, akan tetapi untuk seluruh umat,” terangnya.

Di dalam kitab Hilyatul Auliya diceritakan bahwa pada zaman Nabi Musa zaman Bani Israel. Ada seorang ahli maksiat selama 200 tahun, diampuni dosanya karena memuliakan Baginda Nabi. Sedangkan Abu Lahab diampuni dosanya berkat gembiranya Abu Lahab atas kelahiran nabi. Maka setiap hari Senin siksa Abu lahab diringankan.

“Hikmah dari cerita di atas ialah jika dosa ahli maksiat selama 200 tahun dan Abu Lahab diampuni sebab memuliakan dan gembiranya atas kelahiran nabi, maka bisa kita bandingkan dengan kita yang cinta shalawat,” terang Kepala Pondok Putri Tebuireng itu.

Menurutnya, kita perlu dan harus mengidolakan Nabi Muhammad. Kita harus menyontoh shalat jama’ahnya, akhlaknya, adabnya, karakternya وإنك لعلى خلق عظيم.

“Kalau tidak bisa semuanya, setidaknya bisa menyontoh salah satu sifatnya,” pesannya.

Peringatan Maulid Nabi Muhammad di masjid Pondok Putri ini juga dihadiri oleh Nyai Ainul Fadhilah, Gus Dzannuroin Aldivano, para pembina, dan seluruh santri putri. Acara maulid dipimpin oleh Kumpulan Banjari dan Hadrah Tebuireng (Kubahireng).

Pewarta: Rafiqatul Anisah

SebelumnyaMengenal 3 Tokoh Tebuireng, Kontributor Pendidikan Islam di Indonesia
BerikutnyaKontribusi Hadratussyaikh KH. M. Hasyim Asy’ari untuk Agama dan Negeri