KH. Fahmi Amrullah Hadzik memberikan ceramah tentang Maulid Nabi Muhammas SAW, kepada mahasantri di Masjid Pesantren Tebuireng.

Tebuireng.online– Ma’had Aly Hasyim Asy’ari mengadakan peringatan maulid Nabi di Masjid Pesantren Tebuireng. Peringatan maulid Nabi Muhammad kali ini mengambil tema “Refleksi Semangat Juang Rasulullah dalam Merespons Tantangan Zaman”.

Malam peringatan maulid dihadiri oleh KH. Fahmi Amrullah, Ust. Syukron Makmun, Ust. Amrullah, H. Lukman Hakim, dan sekitar 100 lebih mahasantri yang turut hadir, baik secara virtual melalui aplikasi Zoom hingga di majelis.

“Tentu kita memperingati maulid ini tidak hanya sekedar hura-hura dan euforia saja. Tapi kita memperingati maulid sebagai rasa syukur kelahiran Nabi sebagai rahmat seluruh alam,” ungkap KH. Fahmi Amrullah saat memberi ceramah kemaulidan pada mahasantri.

Menurut Kepala Pondok Putri Pesantren Tebuireng itu, ada banyak hikmah atas maulid Nabi, 1) bentuk cinta kepada Nabi, salah satunya melalui salawat. Dalam kitab Hilyatul Auliya’ ada sebuah kisah riwayat Wahab ibn Munabbih, di zaman Nabi Musa dulu ada seorang preman terus-menerus berbuat maksiat selama 200 tahun.

Suatu ketika, lanjut Gus Fahmi, preman ini meninggal, sebab itu Bani Israil merasa gembira. Oleh Bani Israil, preman itu tidak dirawat dengan baik, diseret, tidak disalati, tidak dimandikan.

Majalah TebuirengIklan Tebuireng Online

“Akhirnya, Nabi Musa yang tahu akan hal itu merawat kembali orang itu. Karena Musa tahu bahwa meskipun orang itu seperti yang diceritakan oleh bani Israel, ternyata dia ketika tahu nama Muhammad di Taurat, ia merasa senang sampai diciumi,” kisah Gus Fahmi pada hadirin.

Kedua, satu sifat yang seharusnya kita contoh pertama kali dari Baginda Nabi adalah Al-Sidqi (kejujuran).

“Saya yakin dengan satu sifat ini, semua tatanan kehidupan akan tertata. Di Indonesia, orang tidak jujur  mudah sekali dilihat, yakni ketika di jalan raya. Ketika tak ada polisi tentukah mereka tetap mematuhi rambu lalu lintas, tetap berhenti ketika lampu merah?” terang Gus Fahmi memberi analogi.

Dalam ceritanya, ternyata KH. Fahmi Amrullah pernah mengalami peristiwa tragis saat mematuhi lampu merah. Saat itu di pertigaan Ceweng, Jombang Gus Fahmi menghentikan mobilnya karena lampu merah. Namun, karena jalanan sedang sepi sopir truk di belakang beliau marah-marah. Padahal sikap Gus Fahmi benar. Namun, sopir itu merasa jalannya dihalangi oleh Gus Fahmi. Dari situ bisa diketahui bahwa tingkat kejujuran orang Indonesia masih rendah.

Di sesi tanya jawab, ada beberapa pertanyaan. Mengapa kalau Nabi diperingati hari lahirnya, kalau ulama diperingati hari wafatnya? Jawaban singkat Gus Fahmi pada penanya, bahwa kelahiran Nabi adalah rahmat bagi semesta. Kalau ulama diperingati hari wafatnya sebagai bentuk kita dzikr al-maut (mengingat kematian).

Selain itu sebagai rasa sambung doa terhadap orang yang sudah meninggal. Berikutnya, ada pertanyaan siapakah yang pertama kali mengenalkan peringatan maulid Nabi?

Dari proses bacaan beliau, Gus Fahmi menemukan referensi bahwa orang yang pertama kali mengadakan maulid  adalah Salahudin Al-Ayubi. Salahudin melakukan hal itu untuk membakar semangat pejuang saat perang melawan tentara salib.

Pewarta: Indra Yuniar

SebelumnyaMenambah Khazanah Keilmuan Santri di Era Digital
BerikutnyaITB Gandeng Pesantren Tebuireng Menanggulangi Kebencanaan