Oleh: KH. Musta’in Syaf’ii*

الحمد لله اَنعَم عَلينَا بِالاِيْمَانِ والاِسلَام وهَدَانَا بِهِدَايَةِ القُرْآنِ وَفَضَّلَنَا على سَائِر الامَم بافضل نبينا محمد صلى الله علسه وسلم أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلهَ إِلاّ اللهُ وَأَشْهَدُ أَنّ مُحَمّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُه اَللهُمّ صَلّ وَسَلّمْ عَلى سيّدنا مُحَمّدٍ وَعَلى آلِهِ وِأَصْحَابِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدّيْن. اتقوا الله تعالى ما استطعتم فقد فاز المتقون. وَوَصَّيْنَا الْإِنسَانَ بِوَالِدَيْهِ إِحْسَانًا ۖ حَمَلَتْهُ أُمُّهُ كُرْهًا وَوَضَعَتْهُ كُرْهًا ۖ وَحَمْلُهُ وَفِصَالُهُ ثَلَاثُونَ شَهْرًا ۚ حَتَّىٰ إِذَا بَلَغَ أَشُدَّهُ وَبَلَغَ أَرْبَعِينَ سَنَةً قَالَ رَبِّ أَوْزِعْنِي أَنْ أَشْكُرَ نِعْمَتَكَ الَّتِي أَنْعَمْتَ عَلَيَّ وَعَلَىٰ وَالِدَيَّ وَأَنْ أَعْمَلَ صَالِحًا تَرْضَاهُ وَأَصْلِحْ لِي فِي ذُرِّيَّتِي ۖ إِنِّي تُبْتُ إِلَيْكَ وَإِنِّي مِنَ الْمُسْلِمِينَ.

Sesungguhnya syukur adalah puncak ketawakalan seorang hamba, muslim, orang beriman adalah rela/menerima secara totalias apa saja yang ditakdirkan oleh Allah SWT kepadanya.

Itulah sebabnya Hadraturrasul Muhammad SAW ketika beliau mendapatkan satu kenikmatan atau hal-hal positif, maka beliau mengucap Alhamdulillah, serta melanjutkan kesyukuran itu dengan Alhamdulillahilladzi binikmati tatimmu al-salihat (segala puji bagi Allah dengan nikmat itu, maka semua kebajikan menjadi sempurna).

Majalah TebuirengIklan Tebuireng Online

Kalimat ini seringkali dipakai oleh Kyai-kyai dalam Mukadimah atau Khutbahnya. Kedua, ketika Hadraturrasul ini menghadapi hal-hal yang kurang menyenangkan, beliau juga tetap bersyukur dengan Alhamdulillah ‘ala Kulli Hal (segala puji bagi Allah dalam semua hal).

Itu artinya, sedarajat beliau mengajarkan kepada kita hendaknya bersyukur kepada Allah secara totalitas. Bukan hanya ketika mendapatkan kenikmatan besar, misalnya habis makan dan minum, itu syukur kelas kecil. Tapi juga ketika mendapatkan musibah. Seperti pujian Nabi tadi.

Orang yang menyukuri nikmat itu biasanya dalam Qur’an disebut Al-Syakir, layaknya Nabi Ibrahim: شَاكِرًا لِّأَنْعُمِهِ. Dan hal itu masih dalam taraf biasa. Tapi yang bisa mensyukri musibah itu disebut Syakur, ini adalah kelas atas.

Menurut beberapa penelitian orang rela hidupnya berstandar tuhan ini ternyata lebih menyehatkan. Sehingga kata orang-orang yang memadukan dunia medis dan magis bahwa diri sendirilah yang menyembuhkan.

Hal yang sudah umum bahwa hanya 20% sakit itu karena virus atau bakteri. 80% laiannya karena mental. Mungkin orang terkena Corona itu hanya 20%, tapi takut dan cemaslah yang meyumbang 80%.

Hari ini, harinya para ilmuwan yang berlomba-lomba untuk meniliti kisi-kisi Al-Qur’an, Hadis, maupun doktrin ajaran Islam, sejauh mana keselarasannya dengan temuan-temuan modern. Jika ditotal mungkin ada 400 item. Dan yang agak mutakhir ini tentang menyukuri musibah.

Makanya, kalimat لَإِنْ شَكَرْتُمْ menggunakan fiil (kata kerja), yang pada fail-nya nanti bisa شَاكِر atau شَكُوْر diapresiasi oleh Allah dengan tambahan (لَأَزٍيْدَنَّكُم). Contoh kasus di Universitas California yang mengambil sampel anak-anak.

Ada rumah sakit anak-anak, maklum pasti di situ ditunggu oleh orang tuanya. Selain dengan ikhtiah medis, orang dari anak ini dibrifing oleh rohaniawan agar bersyukur, bersedakah. Dan hasilnya mengagumkan, percepatan kesembuhan anaknya luar biasa. Keduanya, di Swedish Hospital yang mendoktrin salah satu pasiennya agar lebih banyak bersyukur dan menyadari bahwa sakitnya tidak sebanding dengan nikmat sehat yang sudah diperoleh. Alhasil, tingkat kesembuhannya meningkat 25%.

Untuk itu kita menjadi seorang muslim, kesembuhan dan segalanya itu lahir dari diri kita sendiri. Cemas, sedih itu dari dirinya sendiri. Jalan terbaik adalah mengikuti anjuran Al-Qur’an agar lebih bersandar, pasrah, rida kepada Allah SWT.

بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ

وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ الآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ

وَتَقَبَّلَ مِنِّيْ وَمِنْكُمْ تِلاَوَتَهُ إِنَّهُ هُوَ السَّمِيْعُ الْعَلِيْمُ. أَقُوْلُ قَوْلِيْ هَذَا وَاسْتَغْفِرُ اللهَ الْعَظِيْمَ لِيْ وَلَكُمْ فَاسْتَغْفِرُوْهُ، إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ

Pentranskip: Yuniar Indra Yahya

SebelumnyaMenghadapi Masalah dengan Bijak dan Cerdas
BerikutnyaKita Memang Berbeda, Mengapa Jadi Masalah Paling Rumit?