Sumber gambar: http://www.suratkabar.id

Oleh: Yuniar Indra*

Sebagian orang menganggap, untuk menikahi seseorang itu harus berawal dari kenyamanan, cinta, atau apapun berhubungan dengannya. Dengan landasan hal-hal yang masih bersifat abstrak itu mereka percaya akan membawa bahtera rumah tangganya kepada sakinah.

Bahkan legitimasi cinta dan nyaman bisa-bisa menimbulkan pembenaran terhadap nikah beda agama. Rasa nyaman dan cinta di antara pasangan menjadi alasan seseorang dalam memutuskan pernikahan beda agama (Swatika, 2016).

Tentu hal ini bukan perkara yang dapat dibenarkan dalam syariat Islam. Selain itu, banyak orang khususnya kalangan remaja merasa sudah siap untuk melanjutkan hubungan dengan lawan jenisnya, hanya bermodal rasa nyaman dan cinta.

Berbicara mengenai kesiapan menikah, literatur Islam klasik telah membubuhkan konsep-konsepnya. Dalam sebuah hadis menunjukkan bahwa Rasulullah menganjurkan seorang yang sudah ba’ah (البَاءَةَ) untuk menikah.

Majalah TebuirengIklan Tebuireng Online

Imam Harari dalam Al-Kaukab al-Wahhaj Syarh Sahih Muslim al-Hajjaj mengutip perkataan Imam Nawawi dalam Syarh Nawawi fi Sahih Muslim mengutarakan dua pendapat konsep ba’ah yang diucapkan Rasul.

1) ba’ah yang dimaksud di situ adalah mereka yang sudah mampu untuk bersenggama/jima’ dan konsekuensi pra dan pasca nikah (mahar, nafkah, dan lain-lain). Kesimpulan ini berangkat dari makna bahasa ba’ah sendiri adalah al-jima’. Artinya mereka yang sudah mampu melakukan senggama dalam arti balig dibolehkan untuk menikah. Pun dengan konsekuensi pra dan pasca nikah.

2) ba’ah di sini merupakan kemampuan hal-hal yang ada pada pra dan pasca nikah. Mengutip dari almoslim.net ba’ah diperinci sebagai berikut: mampu memenuhi kebutuhan pernikahan, membayar mahar, memberi nafkah, menyediakan pakaian dan tempat tinggal.

Dari situ kita tahu bahwa kata al-ba’ah yang dikatakan Nabi ditafsiri oleh beberapa ulama bukan hal yang remeh temeh. Ada kesiapan-kesiapan yang harus dilakukan baik sebelum ataupun setelah akad pernikahan. Pada hadis lain Rasulullah tidak pernah menganjurkan menikahi seorang perempuan dengan alasan cinta dan nyaman saja. coba kita perhatikan hadis berikut:
تُنْكَحُ الْمَرْأَةُ لِأَرْبَعٍ لِمَالِهَا وَلِحَسَبِهَا وَجَمَالِهَا وَلِدِينِهَا فَاظْفَرْ بِذَاتِ الدِّينِ تَرِبَتْ يَدَاكَ

Melihat konstruksi hadis tersebut ada 4 macam kriteria dalam memilih calon pasangan hidup: 1. Hartanya, 2. Keturunannya, 3. Kecantikannya, 4. Agamanya. Secara zahir Nabi tidak mengatakan untuk menikahi seorang perempuan diharuskan dengan cinta dan nyaman saja.

Tapi nikahilah mereka yang mempunyai satu dari empat kriteria di atas, lebih-lebih yang baik agamanya. Jadi cukup jelas bahwa cinta dan nyaman saja tidak cukup untuk mengarungi bahtera rumah tangga.

Ada alasan-alasan lain yang semestinya menjadi pertimbangan, seperti empat macam kriteria di atas tersebut. Hal-hal di atas tidak hanya berlaku bagi laki-laki ketika memilih seorang istri, tapi juga berlaku bagi perempuan ketika memilih seorang suami.

Sekilas kriteria di atas sifatnya hanya duniawi saja. Tapi akan berbeda nanti ketika penyaluran duniawi tersebut dilakukan oleh orang yang semestinya. Baik, harta, kecantikan, dan keturunan akan menghasilkan hal-hal positif, ketika seorang perempuan yang memiliki empat, atau salah satu kriteria tersebut dinikahi oleh pria yang saleh. Keunggulan-keunggulan duniawi itu pasti akan dibawa kepada kemaslahatan akhirat jika sang pria adalah laki-laki saleh.

Ambil contoh sederhana, perempuan kaya raya yang dinikahi oleh pria saleh pasti akan mengarahkan harta istrinya kepada kebaikan, bisa mendirikan madrasah, sedekah, dan lainnya. Atau perempuan keturunan  kiai atau ningrat yang dinikahi oleh pria saleh pasti juga akan memanfaatkan kewibawaan keturunan istrinya untuk memperkuat posisinya dalam masyarakat, agar mudah dalam menyampaikan dakwa keislaman.

Artinya, semua yang terlihat hanya sebatas duniawi saja, akan menjadi hal yang bersifat ukhrawi jika dilakukan oleh orang yang saleh. Bahkan, pada zaman Nabi dulu ada seorang wanita yang menawarkan diri untuk dinikahi Rasul.

كنَّا جلوسًا مع أنسِ بنِ مالكٍ ، وعنده ابنةٌ له فقال أنسٌ : جاءتْ امرأةٌ إلى النبيِّ صلَّى اللهُ عليه وسلم فعرضَتْ نفسَها عليه, فقالتْ : يا رسولَ اللهِ ! هل لكَ فيَّ حاجةٌ ؟ فقالتْ ابنتُه : ما أقلَّ حياءَها ! فقال : هي خيرٌ منكِ ، رغِبتْ في رسولِ اللهِ صلَّى اللهُ عليه وسلم ، فعرضَتْ نفسَها عليه.

Kita (para sahabat) duduk dengan Anas ibn Malik, di samping beliau ada anaknya. Anas berkata: suatu hari ada perempuan yang menawarkan diri kepada Nabi, “Ya Rasul, apa Anda berkenan menikahiku?.” Anak Anas langsung menanggapi, “sedikit sekali rasa malunya wanita itu.” Anas menjawab, “Dia lebih baik dari kamu, ia cinta kepada Nabi bahkan dengan menawarkan dirinya untuk dinikahi”.

Dalam kitab Sahih Bukhari pengarangnya memberi sub bab pada hadis tersebut dengan bab ghard al-mar’ah nafsuha ‘ala al-rajul al-salih (bab yang menerangkan tawaran diri seorang wanita kepada pria saleh).

Lebih mudahnya dari hadis tersebut kita dapat mengambil kesimpulan bahwa kita—lebih-lebih wanita—sangat dianjurkan untuk memilih pria yang saleh sebagai pasangan hidup. Karena dengan kesalehan itu, apapun yang terjadi pasti ada kebijaksanaan yang ditampakkan.

*Mahasantri Mahad Aly Hasyim Asy’ari Tebuireng.

SebelumnyaCatatan Desember
BerikutnyaAl-Qur’an Mengakui Kesetaraan Gender