Membaca sejarah bangsa ini, sangatlah pantas jika para santri bersama para kiai beranggapan bahwa kemerdekaan yang dinikmati oleh Republik Indonesia adalah hasil dari perjuangan kalangan pesantren.

Namun sekali lagi, santri, kiai dan pesantren tidak perlu panggung untuk pengakuan tersebut. Mereka hanya melakukan salah satu panggilan syariah untuk cinta dan membela tanah air. Hingga untuk urusan panggung, kalangan pesantren menyerahkannya kepada mekanisme sejarah bangsa dalam memperlakukan para pendahulunya.

Pesantren adalah salah satu lembaga pendidikan tertua di Indonesia. Kehadirannya jauh sebelum Negara ini berdaulat sebagai Negara Kesatuan Republik Indonesia. Karena pesantren lebih dahulu hadir di tengah-tengah masyarakat Indonesia, menjadikan pesantren sebagai lembaga pendidikan yang mandiri, tanpa meminta bantuan negara.

Sejak awal kemunculannya, pesantren sudah menjadi lembaga yang berkosentrasi dalam penyebaran ilmu agama Islam secara turun menurun. Van Brunessen mencatat, pesantren sudah ada sejak tahun 1742 yaitu Pesantren Tegalsari di Ponorogo, Jawa Timur. Tahun selanjutnya berdiri Pesantren Sidogiri pada tahun 1745, Pesantren Tambakberas 1825 dan Pesantren Tebuireng pada tahun 1899.

Majalah TebuirengIklan Tebuireng Online

Menurut Cak Nur, bila saja Indonesia tak mengalami penjajahan mungkin sistem pendidikannya akan mengikuti jalur-jalur yang ditempuh oleh pesantren tersebut. Sehingga Pesantren mungkin bisa menjadi seperti UGM, UI, ITB, IPB atau kampus-kampus mentereng berkelas Nasional di Indonesia. Bisa jadi namanya seperti “Universitas” Tremas, Krapyak, Gontor & Tebuireng. (hal.69)

Di era ini, masyarakat mengenal dua pembagian pesantren. Pertama, Pesantren Salaf dan kedua, Pesantren Modern. Menurut Geerzt, Pesantren tradisional bisa dilihat dari aktivitas santri dalam menjalin kehidupan di pesantren, misalnya; santri bertempat tinggal hingga masa tertentu di pondok yang menyerupai asrama biara. Mereka mendapat makan dengan berkerja di sawah milik kiai atau orang-orang Islam terkemuka.

Dan masih menurut Geerzt, mengenai Pesantren Modern dapat dilihat pada perkembangannya memasukkan pelajaran umum pada kurikulum pesantren. Bahkan penambahan itu, sampai menghegomoni tradisi pelajaran klasikal, yakni sistem Sorogan dan Bandongan.

Buku Pembaruan Islam Yudian Wahyudi, adalah suatu buku yang menjelaskan bagaimana seorang Prof. Yudian Wahyudi mencoba untuk menengahi pemikiran-pemikiran dari Hasbi Ash Shiddieqy, Hazairin, Nur Cholis Madjid, dan Quraish Shihab.

Dalam buku ini, penulis mencoba memberikan salah satu pandangan bagaimana pemikiran Prof. Yudian Wahyudi yang mengomparasi pemikiran Nur Cholis Majdid tentang suatu pembaruan pendidikan di pesantren.

Bagi Cak Nur, yang lebih penting bagi pesantren ialah mengadakan pendalaman pada segi lainnya pada satu tingkat yang lebih lanjut dan bersifat “takhasus“, yaitu suatu keharusan mengadakan pengaturan kembali alokasi waktu dan tenaga pengajar sehingga terjadi penghematan dan intensif bagi pelajaran-pelajaran lainnya.

Sementara menurut Yudian Wahyudi, metode pendidikan pesantren telah tepat berada dijalurnya. Selain metode takror (bandongan) dan sorogan merupakan kelebihan pendidikan pesantren. Selain itu, terdapat pendidikan metode evaluasi dengan ujian lisan, yang mana ujian lisan berbeda dengan ujian tulis. Seorang santri harus berhadapan langsung dengan guru. Dalam ujian lisan, santri dilatih mengalami “kiamat ilmiah”. (hal.77)

Selain memberikan  gagasan mengenai pembaruan pesantren, pada buku ini juga kita akan menjumpai kekurangan-kekurangan pesantren, sebagaimana keterangan di bawah ini;

Menurut Cak Nur, kekurangan pesantren dalam merespon dan mengimbangi perkembangan zaman, dan ditambah oleh faktor lain yang cukup beragam, membuat lulusan pesantren kurang siap untuk “lebur” dan mewarnai kehidupan modern, apalagi bila dibandingkan pada peran dari produk “pesantren” Harvard.

Sedangkan menurut Yudian Wahyudi, guna kemaslahatan sendiri, pesantren harus beradaptasi dengan lembaga pendidikan Indonesia yang lainnya, yang sudah mampu melahirkan otoritas keilmuan dengan berbagai variasi dan tingkatannya. Keberhasilan itu telah mengantarkan bangsa menuju peradaban kontemporer: masyarakat Madani atau civil society. (hal.78)


Judul Buku: Pembaruan Islam Yudian Wahyudi; Komparasi dengan Hasbi Ash Shiddieqy, Hazairin, Nur Cholis Madjid dan Quraish Shihab.
Penulis: Mansur, Yasin, Ahmad Muslimin, Yan Yan Supriatman, Abdul Hakim Siregar, Ali Usman, Shulhan Alfinnas, M. Djiddin dan Sahiron, Lia Fadhliyah, Sadari.
Penerbit: Cetakan Pertama, Mei  2021, Suka Press, Yogyakarta
Ukuran : 15,5 X 23 cm; xx + 224 hlm
ISBN: 978-623-7816-33-1

SebelumnyaSepucuk Surat Kiai Kholil untuk Anjing Hitam
BerikutnyaBahas Website Pesantren, Santri Al Munawwir Undang Tebuireng.Online