Perkembangan zaman yang tumbuh canggih dan pesat akan membawa kemajuan dan pembaruan ilmu pengetahuan termasuk dibidang teknologi. Seperti yang kita ketahui, sepanjang sejarah ilmu pengetahuan yang lebih banyak melahirkan gebrakan dunia, selalu meniscayakan munculnya pembaruan di berbagai sektor kehidupan.

Lebih dari itu semua, kebijaksanaan terhadap proses teknologi memerlukan acuan dasar yang absolut, baik dari segi ideologinya maupun aplikasinya. Yaitu dasar perdamaian, keadilan dan kebenaran yang ketiga-tiganya muncul dari segi agama yang kuat. Antara scientia (ilmu pengetahuan) dengan saphentia (kebijakan) selalu beriringan. Hal mana digital diupayakan menambah kokohnya iman, dan teknologi sebagai perwujudan aktivitas iman tersebut.

Literasi Digital Pesantren adalah salah satu dari anugerah keniscayaan dari peradaban zaman. Bila pesantren dapat mengelola literasi digital, maka akan menjadi komunikasi dakwah  terbaik pada saat ini.

Tak hanya itu, dengan adanya literasi digital pesantren, tiap pesantren dapat memperkenalkan pesantren tersebut pada khalayak luas. Mengingat di era ini akan memasuki 5.0 yang mana era tersebut memudahkan setiap orang untuk mencari data, informasi, dan tentang keilmuan. Maka sudah sepatutnya pesantren menyambut baik akan datangnya literasi digital tersebut.

Majalah TebuirengIklan Tebuireng Online

Tetapi dalam perkembangannya, masih sedikit pesantren yang terjun dan aktif dalam pengelolaan literasi digital. Masih banyak pesantren yang menanggap bahwa perkembangan zaman tidak harus selalu diikuti sedemikian rupa.

Masih ada rasa enggan untuk berani membuat terobosan baru yang bernuansa “modernisasi”. Ketertinggalan tersebut beralasan yakni, pesantren belum mengetahui bagaimana cara dan strategi untuk dapat membangun literasi digital tersebut.

Sebagian pesantren yang telah memulai dakwah melalui literasi digital, bisa dipastikan menggunakan prinsip pembaruan dari qaidah Ushul Fiqh yakni:

; المحا فظة علي القديم الصا لح وا لأخذ با لجديد الأصلح

(memelihara hal-hal lama yang bagus dan mengambil hal-hal baru yang lebih bagus).

Qaidah ini menjadi bukti kuat bahwa pesantren tidak menutup mata untuk mengambil sebuah langkah pembaruan seperti sistem literasi digital. Yang mana selagi pembaruan tersebut memiliki nilai dan dampak positif maka pesantren harus memberikan ruang untuk agar dapat bertumbuh kembang di lingkup pesantren dan menjadi kekuatan daya saing menghadapi perkembangan zaman.

Dr. Abdullah Hamid, menjelaskan dalam buku ini bahwasanya kehadiran media di pesantren, ternyata berpengaruh pada pola interaksi dan belajar para santri. Di mana tradisi muwajjahah (face to face / tatap muka) dalam belajar tradisi istinbat (mencari referensi) lewat kitab-kitab turast, akan tergantikan dengan tradisi googling dan face to screen atau tatap layar. Maka dampak negatif itu bisa diantisipasi dengan adanya kemampuan literasi digital.

Ia juga menambahkan, bahwasanya literasi digital merupakan bagian dari proses perubahan pesantren karena menjadi wajah baru yang muncul setelah hadirnya internet. Untuk penelusuran dari cikal bakal tranformasi literasi ini, banyak para ahli yang telah mengembangkannya. Karel Steenbrik misalnya. Ia telah meneliti pesantren lebih dari tiga dekade lalu, ketika literasi digital belum begitu populer. (hal. 128)

Selain itu dampak yang akan dirasakan bagi hadirnya literasi digital di pesantren, tidak hanya memberikan wadah bagi santri untuk ajang berkarya di lini media sosial. Tetapi, kehadiran literasi digital di pesantren, akan memberikan dampak yang sangat positif, bagi penyebaran dakwah yang sangat mudah diakses di manapun dan kapanpun, dengan sangat mudah melalui media elektronik seperti gadget atau laptop.


Judul: Literasi Digital Santri Milenial (Buku Penganan Santri di Era Banjir Informasi)
Penulis: Dr. Abdullah Hamid, M. Pd.
Halaman: xxxvi + 195
Cetakan: Cetakan Kedua, September 2021
Penerbit: PT Elex Media Komputindo
ISBN: 978-623-00-2602-7
Peresensi: Dimas Setyawan

SebelumnyaSukses! Lansia Sehat Keluarga Bahagia
BerikutnyaJauhi Hoax, Mari Dekati yang Haq