sumber gambar: google.com

Judul Buku: Perempuan dan Al-Qur’an: Membincang Wanita dalam Terang Kitabullah
Penulis: Dr. Ahsin Sakho Muhammad
Penerbit: Qaf
Tahun Terbit: Agustus 2019
Tebal: 208 Halaman
Peresensi: Sayyidah Afifah*


Perempuan di masa jahiliyah tidak memiliki posisi layak dibidang sosial, tak punya hak sipil apalagi hak politik, pun tak punya nilai yang baik di mata laki-laki. Sejak masa kecil hidup perempuan masa jahiliyah sangat suram, sebagian mereka dikubur hidup-hidup oleh ayahnya, karena dianggap membawa sial.

Jika posisi perempuan itu yatim, ia diperlakukan tak layak oleh walinya, dinikahi sendiri atau dinikahkan dengan orang lain namun maharnya dirampas, mereka seperti harta warisan. Apabila suaminya meninggal ia berada di dalam kendali walinya. Kaum perempuan juga bisa dinikahi tanpa batas dan kaum perempuan juga bisa diceraikan tanpa batas. Itu di masa jahiliyah.

Namun keadaan itu berbalik, ketika Al-Qur’an dibawa oleh Rasulullah, yang turun dalam kurun waktu 23 tahun, sebagiannya ketika Rasulullah masih menetap di Makkah dan selebihnya setelah beliau hijrah ke Madinah. Al Quran menjelaskan dan menegaskan betapa istimewa, mulia dan berharganya perempuan. Perempuan juga merupakan khalifah fil ardhi dan perempuan adalah manusia seutuhnya.

Dengan turunnya Al-Qur’an, kaum perempuan terbebas dari semua belenggu perilaku zaman Jahiliyah. Sebagai contoh mereka mendapatkan bagian waris yang pasti (an-Nisa:7), Mahar dan mas kawin menjadi hak milik istri; mereka berhak menentukan nilai mas kawinnya baik satu qinthar  atau jumlah yang besar (an-Nisa:20). Menceraikan istri hanya terbatas dua kali (al-Baqarah:229) dan berlaku hukum iddah.

Majalah TebuirengIklan Tebuireng Online

Selama masa iddah ini suami masih harus memberikan nafkah kepada istrinya. Jika terjadi perceraian ketiga maka sang istri tidak boleh lagi dinikahi dan digauli kecuali jika dinikahi dulu oleh pria lain [muhallil] (Al-baqarah:230). Inilah cuplikan dari buku yang akan kita bahas.

Buku karya fenomental dari pakar ilmu Al-Qur’an dan tafsir, Dr. Ahsin Sakho Muhammad ini membahas tentang bagaimana Al-Qur’an memberikan wawasan dan tuntunan atas keistimewaan perempuan. Baik dilihat sebagai makhluk fisik, spiritual, intelektual, hingga karakter dan posisinya sebagai manusia seutuhnya.

Selain itu, buku ini juga membahas bagaimana sebenarnya hak-hak dan kewajiban perempuan dalam kehidupan, rumah tangga, keluarga, dan lingkungan masyarakat. Tentu Al Quran telah memberikan titik terang dan angin segar terhadap perempuan dan manusia seluruhnya. Sehingga tidak boleh terjadi lagi penyiksaan, penghinaan, dan pelecehan terhadap perempuan.

Dalam buku ini juga dijelaskan bagaimana kisah pemuda-pemudi Qur’ani mencakup kisah Nabi Daud dan Jalut, Kisah Nabi Ibrahim, Kisah Ashabul Kahfi, Kisah Nabi Musa, Kisah Nabi Yusuf, Kisah Siti Maryam.

“Tidak bisa dipungkiri bahwa masing-masing dari semua istri mempunyai keutamaan yang tidak dimiliki yang lain, baik dari sisi materi, keuangam, jabatan, ilmu dan sebagainya. Hal ini berarti jika suami didudukkan oleh Allah sebagai qawwam, atas istinya, maka sang istri bisa memahami hal itu.” (hal.126)

Buku ini sangat baik dibaca oleh seorang perempuan agar lebih mengenali dan menghargai dirinya, dan tentu juga bagi sesorang lelaki untuk memahami para perempuan dengan baik. laki-laki dan perempuan perlu saling memahami untuk benar-benar mampu menciptakan kehidupan yang maslahat bagi seluruh alam.

SebelumnyaTidak Mudah, Peran Ibu dalam Keluarga
BerikutnyaResmi Dibuka! MUKERNAS untuk Memajukan Pesantren Muadalah Salafiyah