Mahasiswa PBA Unhasy memperingati Maulid Nabi, Resolusi Jihad, dan Hari Santri sekaligus dalam acara webinar, Kamis (21/10).

Tebuireng.online— Mahasiswa PBA (Pendidikan Bahasa Arab) Unhasy memperingati Maulid Nabi Muhammad, yang dikemas sekaligus memperingati Resolusi Jihad dan Hari Santri Nasional dalam webinar “meneladani spirit literasi Nabi Muhammad”.

“Sebagai mahasiswa, kita perlu meneladani spirit literasi Nabi Muhammad SAW. Maksud dari spirit literasi nabi di sini bukan bermakna Nabi Muhammad itu belajar dan mengerti baca tulis karena itu bertentangan dengan pengertian Al-Nabi Al-Ummi yang sudah disepakati oleh para ulama,” ungkap Kepala Program Studi PBA, Fathur Rohman, dalam forum webinar virtual Zoom, Kamis (21/10).

Al-Nabi Al-Ummi tidak bermakna Al Jahlu (bodoh), lanjut Rohman, karena nabi memiliki sifat fatonah (cerdas), itulah kenapa Al-Ummi ini merupakan salah satu mu’jizat nabi karena dengan begitu nabi Muhammad tidak pernah lupa apa yang telah beliau terima dari malaikat Jibril yang merupakan wahyu dari Allah. Nabi Muhammad bisa menyapaikan kepada umatnya berulang kali tanpa adanya pengurangan, penambahan, atau perubahan.

“Spirit literasi Nabi Muhammad yang dimaksudkan di sini adalah meneladani semangat belajar Nabi Muhammad yang pantang menyerah, meneladani nabi membaca Al-Qur’an di hadapan malaikat Jibril berulang kali secara rutin, meneladani kepiawaian nabi dalam menyimak apa yang malaikat Jibril dengan seksama sehingga apa yang beliau dengarkan tidak pernah beliau lupakan sedikit pun,” imbuhnya.

Menurut Kaprodi PBA, kita perlu meneladani kepiawaian nabi dalam berbicara saat berdakwah kepada umatnya, dan meneladani semangat nabi dalam memerintahkan beberapa sahabat untuk mencatat ayat-ayat Al-Qur’an seperti Zain Bin Tsabit, Ali Bin Abi Tholib, Muawiyah bin Abi Showyan, Ubay bin Ka’ab, dan lain-lain.

Majalah TebuirengIklan Tebuireng Online

“Selain itu dalam satu riwayat dijelaskan bahwa tawanan perang akan dibebaskan bila meraka bisa menebus dirinya sendiri dengan mengajari sepuluh anak-anak orang Islam, setelah anak-anak itu bisa membaca, menulis, berhitung, atau ilmu lainnya, tawanan tersebut dibebaskan. Ini merupakan spirit literasi juga,” terang Fathur Rohman.

Ia menegaskan bahwa Nabi Muhammad menganjurkan generasi Islam untuk melajar membaca, menulis, dan lainnya.

“Inilah spirit yang perlu diteladani oleh para santri, karena esensi dari seorang santri adalah mengaji/belajar, baik belajar mendengar, berbicara, membaca, ataupun menulis,” pesannya.

Pewarta: pba/unhasy

SebelumnyaSantri Membangun Peradaban
BerikutnyaProf. Imam Suprayogo Sampaikan Kesalahan Besar Pendidikan Non-Pesantren