Tebuireng.online– Pada tahun 2021 ini, Pesantren Tebuireng memasuki usia 123 tahun. Sebuah usia yang telah memasuki 1 abad lebih, membuat nama Pesantren Tebuireng selalu ramai dibicarakan oleh kalangan masyarakat Indonesia.

Salah satu hal yang sering di bicarakan ialah mengenai tradisi pendidikan khas pesantren yang bernuansa klasikal, yakni kajian kitab kuning.

Pengajian kitab kuning memang tidak sepenuhnya hilang di Pesantren Tebuireng, hanya saja, banyak berdirinya unit-unit pendidikan yang bernuansa kurikulum formal menjadi satu alasan masyarakat mempertanyakan eksistensi dari pengajian kitab kuning di Pesantren Tebuireng.

Masyarakat mempertanyakan soal itu, karrna dinilai pernah mengalami masa-masa gemilang di era Hadratussyaikh KH M Hasyim Asy’ari.

Majalah TebuirengIklan Tebuireng Online

Salah satu program kajian kitab kuning saat di Pesantren Tebuireng adalah latihan membaca kitab kuning dengan metode sorogan. Kegiatan pengajian ini merupakan bimbingan khusus, yaitu santri membaca secara mandiri dengan tarkib yang benar, sementara guru mengoreksi dan menambah pemahaman secara tarkib dan murod.

Bentuk pengajian sorogan seperti ini amat populer di Pesantren Tebuireng, terutama pada saat pengajian yang dibimbing oleh Al-‘Allmah KH. Idris Kamali dan para Kyai setelahnya, dimana KH. Abdul Aziz Sukarto Faqih adalah salah satu penerusnya.

Dapat dikatakan, metode sorogan inilah jurus rahasia pengkaderan regenarasi pengajian di Pesantren Tebuireng, yang berbeda dengan metode yang sama yang diterapkan oleh pesantren lain.

Kegiatan Pengajian ini diprakarsai oleh pengasuh KH. Abdul Hakim Mahfudz, dengan tujuan menggali kembali khazanah keilmuan yang pernah ada di Pesantren Tebuireng, khususnya dalam penguasaan Kitab Kuning.

Hal ini melengkapi keberadaan Ma’had Aly yang merupakan inisiatif pengasuh terdahulu, yaitu almgahfurlah KH. M. Yusuf Hasyim dan adanya Madrasah Mu’allimin yang merupakan salah satu sentuhan emas almarhum KH. Sholahuddin Wahid.

Mudah-mudahan ini menjadi amal jariyah beliau semua, demi kejayaan Pesantren Tebuireng.

Adapun kegiatan ini bertujuan menciptakan kader-kader militan yang mumpuni dalam penguasaan Kitab Kuning dan pemahamannya. Sehingga ada jaminan kualitas yang jelas, terutama dalam menyiapkan kader-kader pendidik di masa depan, di samping itu juga untuk memenuhi kebutuhan guru dan qori pengajian di sekolah dan madrasah, pada pondok-pondok di bawah naungan Pesantren Tebuireng.

Tingginya kepercayaan masyarakat terhadap Pesantren Tebuireng, menuntut tanggung jawab yang besar dalam penyiapan kader dan tenaga pendidik pesantren. Kemampuan tenaga pendidik yang mumpuni, berbanding lurus dengan keberhasilan penerapan kurikulum pesantren untuk setiap pondok cabang, apa pun bentuk dan tuntutan kurikulum yang ada.

Peserta kegiatan ini diikuti oleh santri-santri terpilih dari Mahasantri Ma’had ‘Aly HAsyim Asy’ari, Madrasah Mu’allimin Hasyim Asy’ari dan kelompok Takhassus tingkat Ulya Pondok Putra Pesatren Tebuireng.

Peserta yang terpilih akan dikelompokkan sesuai tingkatan yang ada, dengan segala konsekuensi dan ketentuan bagi peserta. Setiap kelompok/tingkatan memiliki anggota maksimal 20 orang/santri.

Pewarta: Dimas

SebelumnyaSabar Tidak Ada Batasnya
BerikutnyaKesulitan dalam Meninggalkan Maksiat? Bacalah Doa Ini…