sumber foto: okezone

Oleh: Dimas Setyawan*

Umat Islam sepakat bahwa dua hukum utama dalam menjalankan syariat, baik dari bentuk peribadahan atau dalam kehidupan sosial berlandasan pada Al-Qur’an dan Hadist. Tetapi pada perjalanannya, tidak sedikit dari umat Islam yang salah kaprah dalam memahami teks dalil dua landasan tersebut.

Sering kali juga kita menemukan ketidakcocokan penggunaan kedua dalil di atas, sehingga seakan-akan membuat tidak adanya relevansi Al-Qur’an dan Hadist dalam mengawal dan menyertai kehidupan umat manusia.

Pedoman Al-Qur’an dan Hadist bagi kehidupan umat muslim sebenarnya telah disinggung oleh Allah di dalam surat An-Nisa ayat 59, yang berbunyi:

يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْٓا اَطِيْعُوا اللّٰهَ وَاَطِيْعُوا الرَّسُوْلَ وَاُولِى الْاَمْرِ مِنْكُمْۚ فَاِنْ تَنَازَعْتُمْ فِيْ شَيْءٍ فَرُدُّوْهُ اِلَى اللّٰهِ وَالرَّسُوْلِ اِنْ كُنْتُمْ تُؤْمِنُوْنَ بِاللّٰهِ وَالْيَوْمِ الْاٰخِرِۗ ذٰلِكَ خَيْرٌ وَّاَحْسَنُ تَأْوِيْلً

Majalah TebuirengIklan Tebuireng Online

“Wahai orang-orang yang beriman! Taatilah Allah dan taatilah Rasul (Muhammad), dan Ulil Amri (pemegang kekuasaan) di antara kamu. Kemudian, jika kamu berbeda pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah kepada Allah (Al-Qur’an) dan Rasul (sunnahnya), jika kamu beriman kepada Allah dan hari kemudian. Yang demikian itu lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya.”

Menyadari bahwa Al-Qur’an dan Hadist menjadi pedoman kehidupan bagi segenap kaum muslimin yang bertakwa, maka sudah menjadi keharusan semangat dalam mengamalkan isi Al-Qur’an dan Hadist harus pula disertai dengan semangat belajar memahaminya.

Sesuatu yang juga menjadi perhatian serius terjadi pada pemahaman maksud dari suatu hadis yang langsung menyadarkan pada perilaku, dan juga ucapan Nabi Muhammad. Sehingga hal tersebut mengakibatkan ketidakcocokan makna hadis tersebut pada bentuk pengaplikasiannya.

Salah satu beberapa bentuk contoh hadis yang sering disalahpahami ialah sistem pengobatan dalam Islam, yang mana hadis itu berbunyi;

لخير ما تداويتم به الحجامة

Sebaik-baiknya pengobatan yang kalian lakukan adalah berbekam.

خير ما تداويتم به الحجامة والقسط البحري

Sebaik-baiknya pengobatan yang kalian lakukan adalah berbekam dan menggunakan “Al-Qust Al-Bahri” (Sejenis kayu-kayuan yang berasal dari laut, yang digunakan untuk pengobatan)

عليكم بهاره المحبة السوداء ، فإن فيها شفاء من كل داء، إلا السام وهو الموت

Pentingkanlah Al-Habbah As-Sauda (Jinta Hitam) sebab ia adalah obat bagi semua penyakit, kecuali maut.

Menurut Syaikh al-Qardhawi bahwasanya upaya berobat tidak bertentangan pada keimanan, pada takdir, ataupun tawakal kepada Allah. Tetapi bukan berarti dari keseluruhan anjuran-anjuran pengobatan ala Rasullah SAW, dapat diterapkan pada seluruh penyakit yang ada di muka bumi ini. Bila saja, pemahaman tersebut hanya dipahami tekstual maka tidak perlu adanya perkembangan ilmu sains guna mencari resep-resep pengobatan di era modern.

Setiap sarana dan prasarana (anjuran-anjuran pengobatan yang terdapat di Hadist), mungkin bisa berubah-ubah dan mengalami perkembangan dari masa ke masa. Atau dari suatu lingkup pada lingkup lainnya, bahkan semua itu akan mengalami pengeseran secara kultural, tradisi dan adat yang berlaku di suatu tempat.

Oleh sebab itu, apabila suatu hadist menunjukkan kepada sesuatu yang menyangkut sarana atau prasarana tertentu, maka itu hanyalah untuk menjelaskan suatu maksud fakta. Namun sama sekali tidak diperuntukan untuk mengikat kepada segala sesuatu yang ada.

Bahkan, bila saja Al-Qur’an menyatakan tentang suatu sarana atau prasarana yang cocok untuk suatu tempat (keadaan) atau masa tertentu, hal itu tidak berarti bahwa kita harus berhenti pada maksud tersebut. Sehingga terdapat ruang untuk dapat menerima teks Al-Qur’an dengan pembaruan atas perkembangan zaman.  Salah satu contohnya tertera pada surah Al-Anfal ayat 60 yang berbunyi;

و واعدوا لهم ما استطعتم من قوة ومن رباط الخيل ارمبود، به مدرا الله وعدوكم وآخرين من دونهم

“Dan siapkanlah untuk menghadapi mereka kekuatan apa saja yang kamu sanggupi dan dari kuda-kuda yang ditambat untuk berperang (yang dengan persiapan itu) kamu menggentarkan musuh Allah dan musuhmu dan orang-orang selain mereka yang kamu tidak mengetahuinya; sedang Allah mengetahuinya. Apa saja yang kamu nafkahkan pada jalan Allah niscaya akan di balasi dengan cukup kepadamu dan kamu tidak akan dianiaya (dirugikan).”

Bagi setiap orang berakal pasti bisa memahami bahwa “kuda-kuda perang” untuk saat ini adalah tank-tank, mobil-mobil lapis baja serta senjata-senjata modern lainnya.

*Mahasantri Mahad Aly Hasyim Asy’ari Jombang.

SebelumnyaBahas Website Pesantren, Santri Al Munawwir Undang Tebuireng.Online
BerikutnyaBukti Kebolehan Memperingati Maulid Nabi Muhammad SAW