KH. Abdurrahman Wahid (Gus Dur)

Oleh: Dimas Setyawan*

Sebagaimana yang kita ketahui bersama, bahwa Islam adalah agama yang rahmatan lil alamiin, agama kasih sayang, saling asah dan asuh, saling cinta antar sesama dan juga saling menghormati walau tak sama.

Tetapi, nyatanya. Islam kita hari ini berubah 360 derajat. Islam kita diberitakan sebagai agama yang mudah tersulut api, mudah mencaci maki, mudah menghakimi, dan sangat mudah untuk mengkafirkan. Sungguh itu bukan wajah Islam yang sesungguhnya.

Melihat kenyataan tersebut, penulis mencoba menyadari dalam konteks kehidupan, Islam saat ini sudah tidak dipahami sebagai Islam yang ramah, dan bukan Islam yang gampang marah-marah. Mungkin saja, para pemeluk Islam saat ini sudah tidak mengindahkan 3 prinsip Nabi Muhammad tatkala awal-awal dalam mensyiarkan agama Islam.

Apa 3 prinsip utama itu? Mari kita bahas bersama-sama.

Majalah TebuirengIklan Tebuireng Online

3 prinsip utama dalam Islam adalah Iman, Islam, dan Ihsan. Iman sesungguhnya bersangkutan secara langsung mengenai, bagaimana seorang hamba mempercayai bahwa Allah itu Tuhan yang esa, bahwa kitab-kitab, malaikat-malaikat, nabi-nabi, qada-qadar dan hari kiamat itu ada. Ini kunci awal seorang hamba dalam berislam.

Prinsip kedua adalah Islam. Islam ini bertugas membimbing manusia untuk mengerjakan berbagai segala macam ritual peribadahan seperti bersaksi bahwa tiada Tuhan kecuali Allah yang Maha Esa, Nabi Muhammad adalah utusannya, mendirikan sholat, menunaikan zakat, puasa saat ramadhan dan berhaji bila mampu. Kedua prinsip itu sudah kita ketahui sejak duduk di bangku TPQ bukan?

Tetapi kedua prinsip tersebut tidak akan sempurna bila tidak disempurnakan oleh “Ihsan”. Apa itu ihsan? Ihsan adalah pelengkap dari kedua prinsip di atas. Tanpa ‘Ihsan’ segala keyakinan dan amal ibadah kita rasanya kurang lengkap.

Penulis ambil contoh sederhana. Bila saja ada seorang ‘Khotib’ yang sedang mengisi ceramah jum’at di atas mimbar, dia telah menyempurnakan rukun-rukun dan kewajiban dalam berkhutbah secara hukum Fiqh, eh tiba-tiba, dia memakai celana selutut, dan berkaos oblong. Secara Fiqih mungkin sah. Tetapi secara ‘kepantasan’ dan ‘kesopanan’ sungguh sangatlah tidak pas. Sungguh tiada akhlak.

Satu contoh lagi yang biasa kita temukan, yakni sholat menggunakan kaos ala kadarnya. Memang, secara Fiqh lagi-lagi hal itu sah-sah saja. Bahkan tidak dapat dijatuhi dengan hukuman syubhat, makruh apalagi haram. Tapi masa iya, tidak ada pakaian yang lebih baik selain menggunakan kaos saja. Hal ini menunjukkan ketidakbaikan kita dalam menghadap Tuhan.

Begitulah ‘Ihsan’ bermain dalam konteks beragama, dia berperan sebagai tolok ukur kebaikan dalam menjalankan dan mengamalkan nilai-nilai Islam. Loh wong kita tatkala menghadap kepada atasan kita saja harus berpakaian rapi dan bagus. Lah ini mau menghadap Tuhan sang maha agung justru tak berpakaian rapi. Sungguh tiada akhlaknya.

Lalu apa kaitannya dengan faham islam ala Gus Dur, dalam 3 hal di atas? Sesungguhnya Gus Dur dalam berdakwah atau menyiarkan Islam, dia telah menerapkan prinsip Ihsan yang sesungguhnya. Sehingga dalam memimpin umat Islam dan mendakwahkan Islam, Gus Dur berlandaskan dengan nilai-nilai humanisme, penuh toleransi, tidak saling menghakimi, apalagi saling menuduh sesama, dengan ungkapan kafir.

Inilah ajaran Islam rahmatan lil alamin yang diemban Gus Dur dan dirangkai dengan slogan khasnya, “kita ini memerlukan Islam yang ramah, bukan Islam yang marah-marah”.

Jadi dalam berdakwah kita harus mengusahakan menggunakan pendekatan yang santai, sederhana tanpa menghilangkan maksud dan tujuan yang hendak kita berikan kepada umat.

Bagaimana kita dapat mewujudkan Islam yang ramah bila kita masih saling salah menyalahkan. Masih saling caci maki. Bila kita anggap perbedaan pendapat sebagai permusuhan dan menganggap bahwa diluar Islam secara penuh adalah agama yang sesat, agama yang tanpa cinta dan kasih sayang.

Terdapat 4.300 agama dimuka bumi ini. Dan agama terbesar adalah Kristen yang berpusat di Vatikan, Roma Italia. Dan yang menempati urutan kedua adalah, Islam. Yang tentunya populasi terbesarnya ada di Negera Indonesia. Tetapi, Indonesia, nyatanya belum dapat menampilkan wajah Islam yang ramah, dan teduh. Belum bisa mengamalkan tiga prinsip Nabi Muhammad.

Islam kita masih sangat mudah untuk diadu domba. Masih sangat mudah untuk memusuhi, walau sesama Islam itu sendiri. Islam kita belum dapat sebagai wajah penerangan, perwujudan Islam rahmatan lil alamiin. Islam kita masih mengindahkan kepentingan masing-masing, populasi, jabatan dan jatuh menjatuhkan.

Islam kita masih menanggap bahwa Negara Kesatuan Republik Indonesia adalah negara yang tak berdasarkan dengan nilai-nilai Syariat Islam. Sehingga tak jarang kita temukan kelompok-kelompok Islam di negara kita yang ingin meruntuhkan Ideologi Pancasila.

Ah sungguh wajah Islam kita berubah 360 derajat. Yang semula menaungi minoritas menjadi menjajah dan menghajar minoritas. Sampai kapankah kita berislam seperti ini? Jawabannya, sungguh sederhana. Mari berislam yang ramah bukan Islam yang marah-marah.

*Ma’had Aly Hasyim Asya’ari Tebuireng Jombang.

SebelumnyaSang Pemburu Kata
BerikutnyaFAI Unhasy Sosialisasikan Program Merdeka Belajar Kampus Merdeka