sumber gambar: fkip-uim

Oleh: Sayidatul Afifah Rusda*

Salah satu fungsi musik dan lagu dari sisi psikologi adalah menanamkan emosi, nilai, dan kepercayaan kepada para pendengarnya.  Begitu pun lagu nasional atau lagu-lagu patriotik musik diarahkan untuk membangkitkan semangat juang (patriotik), membentuk karakter keperwiraan, meningkatkan etos kerja, semangat, motivasi untuk mencapai tujuannya bila dikondisikan dalam suatu subjek dan waktu yang tepat.

Diantaranya adalah lagu Syubbanul Wathan, lagu yang populer dengan nama Mars Ya Lal Wathan, pernah dinyanyikan pada berbagai acara Nahdhatul Ulama baik konferensi maupun acara Muslimat, hingga kini lagu ini sangat populer disetiap acara, baik acara dari kalangan Nahdlatul Ulama, dinyanyikan di madrasah-madrasah pada saat pagi hendak memasuki kelas, bahkan pada acara kenegaraan, diantaranya peringatan Hari Santri setiap 22 Oktober.

Lagu buah karya Kiai Wahab Hasbullah ini kemudian digubah menjadi piagam Nahdhatul Wathon. Organisasi yang berdiri pada tahun 1916 M. Setelah kembali dari Makkah 1914 M, kiai Wahab melihat saat itu Indonesia masih dalam masa pergolakan. Kemudian beliau membentuk organisasi pergerakan yang diberi nama Nahdhatul Wathon untuk menggembleng para pemuda agar menjadi pembela agama dan tanah air yang tangguh.

Organisasi ini sangat menggugah masyarakat yang saat itu sedang terjajah, untuk menghindari kecuriaan Belanda, cabang Nahdatul Wathon pun didirikan dengan nama yang berbeda-beda sesuai dengan kondisi daerah masing-masing.

Majalah TebuirengIklan Tebuireng Online

Di Wonokromo diberi nama Ahlul Wathon (Warga Bangsa), Far’ul Wathon (Elemen Bangsa) di Gresik, Hidayatul Wathon (Pencerah Bangsa) di Jombang, Far’ul Wathon di Malang, Khitbatul Wathon (Pembela Bangsa) di Pacarkeling, Hidayatul Wathon di Jagalan, Akhlul Wathon (Solidaritas Bangsa) di Semarang.Tidak lama kemudian organisasi ini berdiri di seluruh kota di Jawa dan Madura[1]. Kesadaran berbangsa dan bermilitan ini turut memberikan pijakan bagi kesepakatan bersama yang tercetus dalam sumpah pemuda pada dan Resolusi Jihad 22 Oktober 1945.

Dengan  semangat  masyarakat ini, KH. Wahab Hasbullah menciptakan sebuah syair heroik yang menjadi lagu mars yang dinyanyikan setiap hendak melakukan kegiatan, syair ini kemudian seluruh isinya diubah menjadi Piagam Nahdhatul Wathon.

Lirik Mars Syubbanul Wathon[2]

Ya Lal Wathan Ya Lal Wathan Ya Lal Wathan
Hubbul Wathan minal Iman
Wala Takun minal Hirman
Inhadlu Alal Wathan (2 X)

Indonesia Biladi
Anta Unwanul Fakhana
Kullu May Ya’tika Yauma Thamihay Yalqa Himama

Pusaka hati wahai tanah airku
Cintamu dalam imanku
Jangan halangkan nasibmu
Bangkitlah, hai bangsaku!

Indonesia negeriku
Engkau Panji Martabatku
Siapa datang mengancammu
Kan binasa dibawah dulimu!”

Piagam Nahdhatul Wathon [3]

Wahai bangsaku, cinta tanah air adalah bagian dari iman, cintailah tanah air ini wahai bangsaku. Jangan kalian menjadi orang terjajah, sungguh kesempurnaan itu harus dibuktikan dengan perbuatan. Bukanlah kesempurnaan itu hanya berupa ucapan, jangan hanya pandai bicara.

Dunia ini bukan tempat menetap, tetapi hanya tempat berlabuh. Berbuatlah sesuai dengan perintah-Nya. Kalian tidak tahu orang yang memutarbalikkan dan kalian tidak mengerti apa yang berubah di mana akhir perjalanan dan bagaimanapun akhir kejadian.

Adakah mereka memberi minum juga pada ternakmu. Atau mereka membebaskan kamu dari beban, atau malah membiarkan tertimbun beban.

Wahai bangsaku yang berpikir jernih dan halus perasaan kobarkan semangat jangan jadi pembosan.

*Alumnus PP Salafiyah Syafiiyah Khoiriyah Hasyim.

[1] Abdul Mun’im DZ, Piagam perjuangan kebangsaan hal 22

[2] Rizki Ainaya, SEJARAH DAN PERKEMBANGAN LAGU SYUBBANUL WATHAN TAHUN 1916-2019

[3] Abdul Mun’im DZ,Piagam perjuangan kebangsaan hal 23

SebelumnyaUnhasy Harus Lanjutkan Perjuangan Hadratussyaikh KH. M. Hasyim Asy’ari
BerikutnyaProdi Akuntansi Unhasy Upgrade Skill Siswa Melalui Program PKM