Tebuireng.online–Dalam rangka 76 Tahun Resolusi Jihad, Pesantren Tebuireng mengadakan banyak kegiatan salah satunya yaitu mengadakan webinar nasional dengan tema “Kontribusi Hadratussyaikh KH. M. Hayim Asy’ari, KH. A. Wahid Hasyim dan KH. Saifuddin Zuhri dalam Hukum Keluarga Islam dan Pendidikan Agama Islam” yang dilaksanakan pada Minggu (24/10/2021).

Sebagai keynote speaker, Pengasuh Pesantren Tebuireng, KH. Abdul Hakim Mahfudz memberikan ulasan tema yang akan dibahas. Dalam pemaparan, Gus Kikin sapaan akrab beliau, menyampaikan bahwa Hadratussyaikh KH. M. Hasyim Asy’ari merupakan tokoh kunci yang meninggalkan tiga warisan sebagai bentuk konkrit kontribusi beliau untuk agama dan negeri. Yang pertama, yaitu Pesantren Tebuireng. Yang kedua, berupa tulisan-tulisan dalam bentuk kitab maupun tulisan-tulisan di media-media massa yang terbit pada zaman itu. Dan yang ketiga, beliau meninggalkan Jamiyyah Ijtima’iyyah Diniyah Nahdlatul Ulama’ atau NU.

Lanjut beliau, mengenai Pesantren Tebuireng yang didirikan sejak tahun 1899 dan santri-santrinya menyebar hingga ke segala pejuru pelosok negeri ini, peran alumninya tidak diragukan baik di kanca nasional maupun internasional. Sebutlah KH. A. Wahid Hasyim, KH. Ma’ruf Amin dan lain-lain yang masih banyak lagi. Pesantren Tebuireng merupakan salah satu pondok pesantren yang memiliki kontribusi besar kepada agama dan bangsa. Dan kini Pesantren Tebuireng sudah membuka cabang di beberapa daerah semata-mata memperluas si’ar faham ahlusunnah wal jama’ah sebagai faham yang telah mengakar di negeri ini.

“Kemudian berbicara mengenai tulisan-tulisan Hadratussyaikh yaitu berupa kitab yang terhimpun di dalam kitab irsyadus syari sebagai kumpulan dari karya-karya Hadrastussyaikh hingga kini masih terus menggali dan melengkapi. Yang dilakukan oleh keluarga besar Hadratussyaikh yang bersama-sama dengan para alumni dengan terus-menerus menelusuri karya beliau dari semua yang bersinggungan dengan beliau. Kita tidak bosan-bosannya, tidak henti-hentinya, kita terus menelusuri sampai ada gambaran bahwa tidak ada lagi yang tidak kita jangkau,” ungkap beliau.

Majalah TebuirengIklan Tebuireng Online

Sedangkan bicara tentang Nahdlatul Ulama’yang didirikan oleh Hadratussyaikh beserta para masyayikh, sampai sekarang masih kita pegang dan kita masih tetap jaga dan tetap kita amalkan. Hal tersebut semata-mata untuk menjadi sumber pijakan bagi generasi kini dan masa depan agar bisa menjaga ukhuwah yang telah berhasil dilakukan oleh Hadratussyaikh.

Oleh karena itu, menurut Gus Kikin, pada saat ini untuk mengenang Hadratussyaikh bersama para masyayikh yang lain, telah diresmikan Hari Santri Nasional sejak tahun 2015. Suatu penghormatan yang alhamdulillah bagi kita bisa kita gunakan sebagai momentum yang tepat untuk mulai meneladani Hadratussyaikh di antaranya dengan mengambil semangat beliau untuk membangun persatuan dengan undang-undang dasar.

Selain itu, Gus Kikin menyebut bahwa Hadratussyaikh sangat menekankan pentingnya ilmu. Dengan ilmu, banyak hal yang bisa dilakukan, salah satu yang dilakukan beliau dengan ilmunya yaitu bagaimana beliau membangun ukhuwah di Indonesia.

“Di akhir penjajahan Belanda, beliau mendirikan satu lembaga yaitu Majlis Islam Ala Indonesia yang mana menaungi 13 organisasi Islam yang ada di Indonesia dan itulah puncak dari ukhuwah yang ada di Indonesia. Dan itu sampai sekarang belum pernah tercapai kembali untuk bisa menyatukan seluruh umat Islam yang ada di Indonesia. Sesuai dengan pesan yang ditinggalkan beliau yaitu meneruskan ilmunya, yang kemudian dilanjutkan oleh KH. Wahid Hasyim dan juga oleh KH. Saifuddin Zuhri. Yang dalam kiprahnya berbangsa dan bernegara menjadi tokoh nasional serta mewariskan ilmunya kepada generasi penerusnya hingga kepada kita untuk mengembangkan ilmu dan mengajarkan kepada generasi kita agar warisan para nabi bisa dinikmati untuk generasi yang akan datang. Ini adalah suatu anugerah dari Allah SWT karena kita masih bisa mendapatkan kenikmatan yaitu ilmu yang diwariskan oleh para nabi melalui para masyayikh terutama di lingkungan Tebuireng yang dijaga oleh Hadratussyaikh sehingga bisa menerima dengan utuh,” jelas beliau.

“Dan marilah kita pikirkan pengembangannya supaya kita tidak ketinggalan zaman, supaya kita juga melaksanakan modernisasi di masa-masa yang akan datang, terutama berpegang kepada madzhab yang diwariskan oleh para masyayikh supaya kita tidak kehilangan apa yang menjadi warisan para Nabi. Mudah-mudahan hal ini bisa kita lakukan supaya kita mendapatkan keberkahan apa yang dilakukan Hadratussyaikh beserta para masyayikh yang lain. Mudah-mudahan ridha Allah akan dicurahkan kepada kita dan barokah rahmatnya akan dicurahkan kepada kita juga,” harap beliau di akhir pemaparan.

Pewarta: Adawiyah

SebelumnyaPenjelasan Mengapa Kelahiran Nabi Muhammad Dirayakan
BerikutnyaPesantren dan Negara dalam Pemikiran KH Wahid Hasyim